I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 148


__ADS_3

Delavar dan Amartha bisa melihat sebuah gaun berwarna putih dengan bawahan mekar menjutai dan setelan jas yang tergantung rapi di hadapan mereka. Siap untuk dicoba sepasang calon pengantin tersebut.


“Silahkan, Tuan dan Nona. Bisa dicoba di ruangan yang ada di sebelah sini,” ucap salah satu karyawan desainer Gauttier.


“Ayo, aku sudah tak sabar ingin melihat betapa seksi dan menawan dirimu saat memakai gaun itu.” Delavar mengulurkan tangan agar calon istrinya berdiri.


“Aku lebih tak sabar ingin melihat ketampananmu,” balas Amartha yang sudah berdiri di samping Delavar.


Delavar yang gemas pun meremas pantat Amartha. Hal itu biasa dilakukan pada negara bebas. “Aku setiap hari sudah tampan, Sayang,” bisiknya seraya mengecup bibi sang wanita.


“Siapa tahu kali ini lebih tampan hingga aku tak mampu berkata apa-apa lagi,” cicit Amartha.


Tangan Delavar tetap bersemayam di pantat Amartha, sedikit mendorong wanita itu agar segera berjalan menuju ruang ganti. “Aku hanya memakai setelan jas, sama saja seperti saat berangkat kerja.”


“Tangannya jangan nakal, Sayang. Boleh merangkul pinggang saat berjalan, tapi kau justru meremas pantatku,” peringat Amartha.


Amartha yang merasakan bagian belakangnya ada yang menggerayangi sejak kaki mengayun pun memindah secara paksa tangan calon suaminya agar tidak meremas seperti mainan.

__ADS_1


Delavar hanya tersenyum dengan rentetan gigi putih yang berjajar rapi. “Enak, Sayang.”


Mommy Diora yang menyaksikan kelakuan putranya pun bergeleng kepala. “Delavar, kau itu sungguh duplikat Daddymu. Mesum tak tahu tempat,” celetuknya sebelum anak serta menantunya masuk ke dalam pintu lain.


Delavar membalikkan tubuh menatap orang tuanya. “Namanya juga anak Daddy. Kalau seperti mantan Mommy, nanti aku dikira oleh orang lain jika dibuat dari hasil patungan bibit.” Dia menjawab dengan berkelakar.


“Tuan, Nona. Ini gaun dan setelan jasnya.” Dua karyawan yang bertugas membawakan pakaian dengan harga yang tak main-main itu memberikan busana kepada member VIP tersebut.


Amartha dan Delavar mengambil busana mereka masing-masing. Pria itu hendak masuk ke dalam ruangan yang sama dengan sang calon istri. Tapi, Mommy Diora sudah menegur.


Delavar yang sudah siap menyusul wanitanya pun mengangkat sebelah alis ke arah orang tuanya. “Kenapa?”


“Mommy tahu apa yang ingin kau lakukan di dalam sana. Dan lebih baik urungkan niatmu itu daripada kau harus berhenti di tengah jalan saat sedang enak-enaknya, karena pasti akan ada sesuatu yang mengganggu kegiatan intim yang ada di dalam pikiranmu itu.” Mommy Diora sedikit menakut-nakuti karena pengalamannya jika melakukan hubungan yang membuat melayang ke atas nirwana tidak pada tempat yang semestinya, pasti ada saja halangan.


“Oke, baiklah.” Delavar pun akhirnya menutup pintu ruangan di mana Amartha berada, dan masuk ke sebelahnya.


Setelah berganti, Delavar dan Amartha keluar bersama. Keduanya langsung menatap satu sama lain dari atas sampai bawah.

__ADS_1


“Kau lebih tampan daripada memakai setelan jas kerja yang biasanya, aura calon pengantin memancar di seluruh tubuhmu,” puji Amartha seraya mengayunkan kaki mendekati Delavar dan memegang lengan sang pria.


“Dari sekian banyak wanita yang pernah aku lihat, kau adalah yang paling cantik.” Delavar balas memuji dan melabuhkan kecupan di kening.


“Jadi, Mommy kalah cantik dengan Amartha?” celetuk Nyonya Dominique.


Delavar melirik ke arah orang tuanya. “Kalau Mommy ingin dianggap wanita tercantik, bertanyalah pada Daddy.”


Mommy Diora terkekeh. Memang di mata semua pria yang ada di dalam keluarganya, hanya pasangan pilihan merekalah yang dianggap paling cantik.


Setelah selesai mencoba baju pengantin, ketiga orang itu kembali ke mobil. Tak ada komplain apa pun, baik Delavar dan Amartha, keduanya sudah puas dengan hasilnya.


Saat di dalam kendaraan roda empat yang saat ini sedang menuju restoran untuk makan, Delavar teringat sesuatu. “Amartha.”


“Ya?” Orang yang dipanggil menengok ke Delavar.


“Apa kau ingin mengundang orang tuamu saat pernikahan? Aku belum memberi tahu mereka jika kita akan menikah.”

__ADS_1


__ADS_2