I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 138


__ADS_3

Delavar sungguh kesal dengan koleganya satu ini. Mr. William tak memberikannya ruang untuk istirahat sebentar kecuali saat makan, dan itu pun bersama dengan pria yang memiliki perusahaan raksasa di Belanda. Dari pagi sampai sore keliling meninjau lahan. Setelah selesai, langsung rapat untuk membahas konsep bisnis yang akan bergerak di bidang pertanian dan taman hiburan.


Bahkan Delavar sampai tak bisa menghubungi Amartha untuk memberikan kabar dan saling bertukar pesan. Anak ketiga keluarga Dominique itu akan menghindari jika harus mendatangi kerja sama dengan Mr. William lagi. Orang itu tidak tahu jika saat ini hatinya sedang resah memikirkan sedang apa calon istrinya, sudah makan belum, dan bisa tidur atau tidak tanpa dirinya.


Delavar tak bisa pergi begitu saja karena jika membuat koleganya kecewa, pasti Tuan Dominique akan mengomel satu hari satu malam hingga telinganya kebas dan berdengung.


Tapi, pasti ada kesalahan Delavar juga. Pria itu tidak senang berada di dalam suasana rapat yang bahkan sampai sudah dini hari. Namun, dia tetap memaparkan konsep dan pemikirannya dengan energi yang menggebu. Tentu saja hal itu memancing Mr. William untuk berdiskusi hingga tak kenal waktu.


Sekretaris Delavar saja sampai tertidur karena dua orang pemilik perusahaan raksasa itu tak segera menyudahi rapat.


“Bagaimana kalau lokasi pertanian itu kita bangun sekalian pabrik pengolahannya di sana? Bukankah akan menghemat akomodasi? Dari hulu hingga hilir berada di tempat yang sama,” ucap Delavar saat mereka tak kunjung menyepakati konsep untuk agribisnis.

__ADS_1


“Bagaimana dengan limbah pabriknya? Nanti tanah yang subur itu bisa tercemar,” timpal Mr. William.


“Itulah fungsinya kita harus membuat tempat khusus untuk mengolah limbah pabrik.”


“Bagaimana kalau pabrik pengolahan kita bangun di kawasan industri saja?”


“Aku tidak sepakat, kau membuang banyak biaya akomodasi. Pikirkan transportasinya, jarak dari lahan ke lokasi industri itu berapa. Belum lagi distribusi ke distributor kita. Memakan banyak biaya dan keuntungan akan kecil.”


Delavar sampai memijat tengkuknya sendiri karena Mr. William susah sekali diajak satu pemahaman dengannya. Mata pun melihat arloji di pergelangan tangannya. Seketika itu juga dia melongo karena sudah menunjukkan pukul empat pagi di hari yang berbeda dari kemarin.


“Oke, Mr. William, jadi konsep mana yang ingin kita sepakati? Aku harus pulang ke Finlandia karena ada fitting baju pengantin dengan calon istriku.” Akhirnya Delavar sudah tak sabar juga berada di ruang meeting perusahaan milik koleganya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita sandingkan estimasi rincian modal antara konsep dua itu?” pinta Mr. William.


Delavar mengela napas kasar. “Sudah jelas lebih menguntungkan milikku, Mr. William. Aku sudah memperlihatkan hasil analisis padamu.” Dia berucap pelan tapi penuh penekanan karena kesal sekali.


“Maureen!” panggil Delavar pada sekretarisnya.


Tak mendapatkan jawaban, Delavar memutar kursi untuk melihat salah satu karyawannya yang ternyata sedang menunduk dan terlihat jelas jika tengah tamasya ke alam mimpi. “Enak sekali kau bisa istirahat,” gumamnya.


Delavar menendang kursi yang diduduki oleh sekretarisnya hingga bergerak sendiri. “Bangun, Maureen! Ini bukan saatnya kau tidur!” omelnya.


Maureen langsung gelagapan dan menyeka mulut untuk menghilangkan liur yang tak sengaja menetes. “Maaf, Tuan, saya mengantuk sekali.”

__ADS_1


Delavar berdecak. Sudah dibuat sebal dangan Mr. William, sekarang sekretarisnya. “Berikan dokumen rincian anggaran biaya beserta estimasi keuntungan konsep yang sudah perusahaanku rancang pada Mr. William!” titahnya dengan tegas dan tanpa jeda.


__ADS_2