
“Tolonglah kalian mengerti sebentar bagaimana posisi Amartha. Kalian bisa mengatakan dengan enteng jika anak yang berada di kandungannya adalah anugerah karena bukan kalian atau anak-anak kalian yang mengalami pelecehan seksual. Bayangkan jika kalian yang ada di posisi Amartha, bagaimana dia tertekan mentalnya, bagaimana persepsinya terhadap dunia yang tidak adil, dan betapa tak diinginkan janin itu tumbuh di perutnya,” ucap Delavar sangat panjang. Baru pertama kali ini ketiga anggota keluarga Dominique melihatnya bisa serius dan berbicara langsung panjang, biasanya hanya bercanda dan mengerjai saja.
“Sejak di dalam rahim saja Amartha sudah membenci janinnya, bagaimana jika sudah lahir? Apa kalian yakin dia bisa menerima itu?” tanya Delavar. Tapi belum sempat ada yang menjawab, dia sudah berbicara lagi.
“Tidak, selamanya dia akan teringat dengan pelecehan seksual yang terjadi pada dirinya. Setiap kali melihat anak itu, pasti pikirannya akan berhenti pada masa kelam dan ketidak adilan dunia,” tegas Delavar membela habis-habisan keputusan wanitanya. Sebab, dia tak memikirkan diri sendiri, tapi mental Amartha.
“Kau akan menjadi pembunuh jika menuruti kemauan Amartha,” peringat Danesh agar Delavar tak gegabah.
__ADS_1
“Kau masih bisa berkata seperti itu karena bukan istri atau anakmu yang mengalaminya.” Delavar sampai marah dengan kembarannya, dia menunjuk wajah Danesh dengan matanya yang nyalang tak suka dihardik sebagai seorang pembunuh.
Mommy Diora menarik lengan Delavar dan mengelus punggung putranya agar lebih tenang. “Mommy akan bantu memberikan pengertian pada Amartha.”
Brak!
Delavar menggebrak meja dan menatap satu persatu keluarganya yang ada di sana. “Kalian jangan egois, pikirkan psikis Amartha! Sekalipun dia mendapatkan banyak dukungan dari kita, belum tentu tetap bisa menerima anak itu. Pikirkan bagaimana anak itu saat lahir di dunia dan dibenci oleh ibunya sendiri karena dia didapat dari hasil pelecehan seksual. Anak itu justru semakin sakit, tersiksa.”
__ADS_1
“Thank you, Dad.” Delavar rasanya bersyukur, akhirnya ada juga yang sepemikiran dengannya. Matanya beralih menatap Danesh. “Bagaimana menurutmu?”
“Ya, terserah kau sajalah, yang menjalani hubungan itu juga kau dan Amartha. Kalau keputusan kalian ingin melakukan aborsi, silahkan. Yang penting aku sudah menasehati, semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari dan lancar semuanya,” jawab Danesh. Dia akhirnya mengalah karena mau bagaimanapun jika sifat keras kepala Delavar sudah keluar, pasti tak akan mau dibantah.
Delavar menatap ke arah mommynya. “Bagaimana, Mom?”
“Dokter Beverly, dia dokter kandungan terbaik di Finlandia. Kau bisa bertanya dengannya dan konsultasi terlebih dahulu sebelum melakukan aborsi. Jika dokter tak mengizinkan, maka jangan lakukan. Tapi jika diperbolehkan, kau boleh mengeluarkan janin dari rahim Amartha.” Akhirnya, Mommy Diora juga melunak dan memilih untuk mengalah. Keras kepala anak ketiganya memang melebihi putra dan putri kembarnya yang lain.
__ADS_1
Delavar langsung mengulas senyum seolah tak pernah marah-marah dengan keluarganya. “Kalian memang terbaik,” pujinya memberikan dua jempol.
Ya begitulah keluarga Dominique. Walaupun sesekali berbeda pendapat, tapi tetap berakhir dengan damai dan hangat kembali seolah tak pernah bertikai.