
“Tidak masalah, kita bisa hidup berdua sampai maut memisahkan.” Delavar menjawab pertanyaan Amartha tanpa ragu. Dan kesungguhan itu tersalur dari senyum serta tangan yang selalu memberikan usapan di kening wanitanya.
“Bagaimana jika saat tua nanti kita kesepian karena tidak memiliki anak?” Amartha terus menginterogasi Delavar untuk mengambil keputusan selanjutnya. Karena sesuai janjinya, dia akan bersedia menikah dengan pria itu setelah tak mengandung lagi. Tapi mengingat ada kemungkinan risiko setelah aborsi yang membuatnya harus tahu bagaimana rencana anak Dominique itu kedepannya.
“Gampang, kita bisa adopsi. Kau tak perlu mencemaskan perihal anak, karena aku lebih menyayangimu dibandingkan anakku kelak.”
“Kenapa seperti itu? Bukankah keluarga konglomerat biasanya mementingkan keturunan?”
“Karena anak akan meninggalkanku setelah mereka menikah nanti, tapi seorang istri akan selalu menemaniku sampai aku tua nanti dan mati.”
“Bagaimana dengan keluargamu?”
“Orang tuaku tak pernah mempermasalahkan cucu. Lihatlah Deavenny yang sampai sekarang belum hamil, bahkan dilarang untuk memiliki anak oleh Daddyku. Jadi, cucu bukanlah poin penting untuk mereka. Lagi pula sudah ada Annora dan Agathias, anak-anak Danesh yang bisa dijadikan penerus keluarga Dominique.”
Amartha mengulas senyum dan meraih tangan Delavar yang masih setia memberikan sentuhan pada keningnya. Menarik sedikit anggota tubuh pria itu hingga ke depan bibirnya dan memberikan kecupan di permukaan kulit dengan bulu-bulu halus tersebut.
Tentu saja hal itu membuat Delavar berbunga-bunga. Amartha sudah mulai memiliki inisiatif sendiri. “Bibirnya belum,” celetuknya meminta lebih.
__ADS_1
“Sini.” Amartha memberikan isyarat menggunakan tangan agar Delavar mendekat.
Dan anak ketiga keluarga Dominique itu mencondongkan wajahnya hingga berjarak setengah jengkal dengan sosok cantik tersebut.
Cup
Amartha hanya memberikan kecupan sekilas di bibir Delavar. Dia memalingkan wajah karena saat ini sedang tersenyum malu.
“Oh ... Amartha, aku sangat senang akhirnya kau bisa membuka hatimu sepenuhnya untukku,” ucap Delavar seraya menghadapkan wajah wanita itu untuk ke arahnya. Dia mengecup kening bertubi-tubi karena terlalu sayang dengan wanita itu. “Aku bahagia sekali.”
“Hei, aku tidak pernah mempermainkan perasaan seorang wanita. Jika suka, maka akan aku kejar. Tapi kalau tidak, pasti aku menjauh dan tak akan memberikan harapan palsu,” jelasnya seraya meninggalkan kecupan di bibir.
Tidak bisa dipungkiri jika Delavar ternyata jauh berbeda dengan Marvel, mantan kekasih Amartha yang sekarang menjadi suami Deavenny. Awalnya dia berpikir jika seluruh anggota keluarga itu sama semua hanya memanfaatkannya karena masih memiliki darah keturunan dari kakek yang sama. Tapi nyatanya tidak. Seratus tujuh puluh derajat perbedaan kedua pria itu. Sepuluh derajatnya pasti ada sedikit persamaan.
“Tidurlah, besok kita pulang. Malam ini istirahat di sini saja,” titah Delavar.
“Kau belum makan, Del. Belilah makanan dulu untuk mengisi perutmu.” Amartha justru membalas hal yang berbeda.
__ADS_1
“Aku akan menghabiskan sisa makanmu, sayang jika tak dihabiskan,” tutur Delavar seraya menunjuk nampan yang masih ada hidangannya.
“Aku juga sayang,” celetuk Amartha seraya mengulas senyum.
Membuat Delavar menaikkan sebelah alisnya. “Sayang pada siapa?”
“Padamu,” jelas Amartha, lalu mengecup permukaan tangan Delavar.
Delavar terkekeh, wanita itu sudah mulai mencair dengannya. Tak sedingin dahulu. Ah rasanya lega saat buah kesabarannya akhirnya didapatkan juga.
“Aku inggin tidur menggenggam tanganmu,” pinta Amartha.
“Dengan senang hati.” Delavar memberikan tangannya untuk dikuasi oleh Amartha.
...*****...
...Btw, bab 94 aku revisi. Coba dibaca ulang, udah aku tambahin biar detail kalau embrionya enggak berkembang dengan baik. Jadi gak ada pembunuhan terhadap anak sendiri....
__ADS_1