I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 168


__ADS_3

Delavar masih harus merelakan bibit calon anaknya terbuang sia-sia karena Amartha belum boleh mengandung untuk waktu dekat ini. Setidaknya ada peningkatan, pria itu tidak perlu susah payah bertempur seorang diri menggunakan tangan. Sudah ada penjinak sendiri yang lebih nikmat, karena percintaan mereka baru saja selesai setelah satu setengah jam dengan tiga macam gaya dan foreplay yang cukup lama.


Delavar membopong tubuh Amartha saat napas keduanya sudah mulai teratur. Berdiri meninggalkan sofa tantra yang memang sengaja dia beli sebagai hadiah pernikahan yang sangat berguna untuk menunjang aktivitas bercinta.


“Kau mau ajak aku ke mana lagi?” tanya Amartha seraya melingkarkan tangan di leher sang suami.


“Mandi, Sayang. Seharian kita sudah beraktivitas, ditambah baru saja mengeluarkan banyak keringat,” jawab Delavar seraya kaki tetap mengayun menuju salah satu pintu yang ada di dalam kamar itu.


“Hanya mandi, oke? Aku sangat lelah dan ingin istirahat,” pinta Amartha. Dengan inisiatif sendiri, dia membukakan pintu kamar mandi saat sudah sampai di depannya.


“Iya, permainan malam ini sudah cukup satu ronde saja. Masih ada hari esok dan seterusnya juga yang akan kita habiskan bersama.” Delavar menjawab seraya merebahkan tubuh Amartha di bath up dan menatap penuh cinta. Dia menghidupkan air hangat untuk memenuhi bak berukuran besar itu, lalu meninggalkan kecupan pada kening.


“Sini, masuklah,” ajak Amartha dengan menarik tangan Delavar untuk ke dalam bath up bersama dengannya.

__ADS_1


Tangan Delavar terulur untuk mengusap puncak kepala istrinya. “Aku senang karena kau bukan wanita yang malu-malu, jadi aku tak perlu kesulitan membujuk dan mengajarimu,” tuturnya seraya ikut masuk ke dalam bath up.


“Umurku sudah dewasa, dan hal seperti itu bukan sesuatu yang tabu lagi untukku.” Amartha menjawab seraya menyirami tubuh suaminya agar basah.


Dan keduanya pun mandi bersama, saling membersihkan tubuh satu sama lain tanpa ada percintaan untuk kedua kali sesuai ucapan Delavar.


Setelah selesai, Delavar menggendong lagi tubuh Amartha yang masih menggunakan handuk kimono. Mendudukkan wanitanya di atas kursi di depan kaca yang lumayan besar.


“Baju gantiku apa sudah disiapkan?” tanya Amartha seraya kepala mendongak menatap sang suami yang berdiri di hadapannya.


“Pasti kau ingin melakukan sesuatu lagi, ya?” tebak Amartha seraya mencolek perut Delavar.


“Agar mudah dan cepat saat aku ingin bercinta denganmu,” jelas Delavar. Dan istrinya hanya bisa bergeleng kepala dengan bibir tersenyum karena kelakuannya yang teramat mesum itu.

__ADS_1


“Sudah kering rambutmu,” beri tahu Delavar yang saat ini mematikan hair dryer dan berganti menyisir rambut sang wanita.


Amartha menarik tangan suaminya hingga terduduk di pangkuannya. “Sini, gantian aku yang mengeringkan rambutmu.”


Wanita itu meraih benda yang ada di atas meja rias. Dan mengarahkan angin hangat ke arah kepala Delavar.


“Ternyata seru juga punya istri,” celetuk Delavar dengan tangan mengelus pipi Amartha.


Setelah dirasa kering, Delavar membopong Amartha untuk direbahkan pada kasur berukuran besar dan empuk. Tak lupa menanggalkan handuk kimono agar keduanya polos.


Ruangan dingin dengan AC itu menjadi hangat karena dihalang oleh panas yang dihasilkan dari kulit Amartha dan Delavar saling berpelukan. Ditambah selimut tebal menutupi tubuh polos mereka.


...*****...

__ADS_1


...Oalah ... kang kredit sekarang jadinya kang modus cari kesempatan wkwkwk hadiah aja ngasihnya yang menguntungkan buat dia....


__ADS_2