I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 173


__ADS_3

Delavar mengajak Amartha untuk sarapan di bagian atas kapal sembari menikmati udara laut. Posisi duduk pria itu tidak seperti biasanya. Kali ini dia terus menempel dengan sang istri untuk mengelus perut.


“Makananmu belum dimakan, Sayang. Nanti lagi bermain dengan anak kita, isi perutmu dulu,” peringat Amartha seraya menelungkupkan garpu dan pisau setelah menghabiskan sarapannya.


Bukannya menuruti perintah sang istri, Delavar justru menyandarkan kepala di pundak Amartha. Merangkul wanita itu dan tangan menelusup di balik kaos putih yang saat ini sedang membungkus tubuh Amartha. Tangan Delavar enggan untuk berhenti mengusap perut.


“Nanti dulu, aku masih ingin menyapa anakku,” cicit Delavar. Dia merendahkan kepala untuk mencium perut wanitanya. “Kira-kira sudah berapa bulan anakku tumbuh di rahim Mommy?” Delavar seperti bertanya dengan janin yang ada di dalam sana.


Amartha terkekeh lucu dan mengusap rambut Delavar dengan lembut. “Ayo pulang ke Helsinki dan periksakan kandungan ini agar tahu kondisi anak kita,” ajaknya memberikan ide.


“Setelah ini aku akan meminta nahkoda untuk kembali ke Finlandia,” balas Delavar.


Ulasan senyum Amartha tak pernah pudar. Dia kini merasakan bagaimana indahnya dicintai, menjalani hari-hari dengan penuh warna, dan tahu ke mana tujuan hidup. Amartha ingin membangun keluarga bahagia bersama Delavar, menumpahkan segala kasih sayang, dan tidak akan membiarkan anak-anaknya merasakan hidup seperti dia yang dahulu.

__ADS_1


“Mau aku suapi? Kau tetap harus makan, sebelum steakmu dingin.” Amartha pun berinisiatif menawarkan bantuan karena Delavar tak kunjung menyudahi bermain dengan perutnya.


“Boleh.”


Tangan Amartha mengacak-acak rambut Delavar dengan gemas. “Ternyata bayi besarku sedang manja.” Dua sudut bibirnya ditarik sempurna, dan wanita itu sungguh telaten saat menyuapi sang suami.


“Kira-kira anakku ada berapa, ya?” tanya Delavar di sela kunyahannya. “Semoga saja kembar agar kau tak perlu hamil lagi, cukup satu kali dan langsung banyak.”


“Jangan terlalu banyak berharap, Sayang, daripada kau kecewa jika tak sesuai.” Amartha berusaha menasehati karena takut jika Delavar kurang puas dengan hasil akhirnya.


Setelah selesai menyuapi bayi besarnya, Amartha ingin sekali berjemur dengan dipeluk oleh Delavar. “Kita ke sana, yuk?” ajaknya dengan menunjuk kursi panjang.


“Boleh.” Delavar segera berdiri dan menggendong wanitanya. Pria itu merebahkan tubuh Amartha di kursi yang panjang.

__ADS_1


“Sini, ikut tidur di belakangku. Aku ingin dipeluk dan diusap perutnya,” pinta Amartha seraya menarik tangan Delavar hingga terbaring.


Untung saja kursi itu cukup untuk sepasang pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya itu. Delavar menuruti keinginan Amartha menikmati paparan sinar matahari yang mulai terasa hangat karena sudah mendekati musim panas.


“Apa kau tak akan dimarahi Daddy jika kita tidak pulang selama tujuh bulan ini?” Tiba-tiba Amartha bertanya karena takut jika mertuanya akan murka karena mereka bulan madu sangat lama.


“Dengarkan saja jika dimarahi,” kelakar Delavar secara asal.


Saat Amartha hendak menimpali ucapan suaminya, dari arah atas kelapa ada helikopter yang mengudara dan seperti hendak mendarat di kapal pesiar itu.


“Siapa yang datang?” tanya Amartha seraya menunjuk transportasi udara di helipad.


Delavar mengedikkan bahu. “Mungkin keluargaku, jelas itu helikopter milik Tuan Dominique.”

__ADS_1


Benar saja, sosok pria dengan wajah sangar di usia yang sudah menginjak lebih dari enam puluh tahun itu keluar dari helikopter. Daddy Davis datang seorang diri, berjalan dengan sorot mata tajam ke arah Delavar yang nampak santai.


__ADS_2