I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 126


__ADS_3

Selesai makan siang dengan masakan buatan Amartha, Delavar dan calon istrinya duduk berpelukan di sofa seraya menonton film di televisi. Keduanya terlihat mesra walaupun masih memakai busana.


“Aku mau menguji ingatanmu,” cicit Delavar membuka perbincangan siang itu. Tangannya aktif memberikan sentuhan pada kulit Amartha.


“Apa?” Amartha sedikit menengok ke samping agar bisa melihat calon suaminya yang sedang menyandar pada pundaknya.


“Kapan kita fitting baju pengantin?” tanya Delavar dengan meninggalkan kecupan di pundak Amartha yang saat ini sedang memakai atasan yang lengannya hanya seperti tali.


“Lusa jam sembilan pagi,” jawab Amartha. “Memangnya ada apa?”


“Tidak, aku kira kau lupa. Biasanya aku selalu mengingatkanmu.”


Amartha terkekeh, tangannya mengelus kulit yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang saat ini melingkar di perutnya itu. “Mana ada aku lupa, aku selalu ingat. Bahkan tanggal kita menikah saja aku tahu.”


“Kalau kau sampai lupa tanggal pernikahan kita, bisa-bisa gawat.” Delavar semakin mengeratkan pelukannya dan sedikit menggigit punggung Amartha yang begitu mulus karena gemas dengan wanita itu yang belum mau ditumbuk untuk saat ini.

__ADS_1


“Kenapa gawat?”


“Karena jika itu terjadi, aku jadinya menikah seorang diri, tidak ada mempelai,” kelakar Delavar.


“Namanya bukan menikah jika sendirian.”


Delavar hanya terkikik sendirian karena obrolan absurdnya. Kalau tidak mesum, ya tak jelas arah pembicaraannya. Itulah Delavar jika sedang santai.


Kedua manusia itu menikmati kebersamaan tanpa memikirkan apa pun. Delavar tak dihantui pekerjaan, dan Amartha juga belum ingin memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Christoper. Besok baru Amartha akan menyusun rencana.


“Ada telepon,” beri tahu Amartha. Dia mengambil smartphone milik calon suaminya dan melihat siapa orang yang menghubungi Delavar.


“Dari siapa?” Delavar bertanya, tapi matanya sudah melihat ke arah layar ponselnya sendiri.


“Daddymu.” Amartha memberikan gawai tersebut kepada Delavar.

__ADS_1


Delavar menerima benda berharga tersebut menggunakan tangan kanan, sedangkan sebelah kiri tetap melingkar di tubuh wanitanya. “Ya, Dad?” sapanya setelah memencet tombol hijau dan menempelkan gawai ke daun telinganya.


“Berapa lama lagi kau mau libur?” Daddy Davis langsung mengajukan pertanyaan tanpa basa basi.


“Sampai selesai honeymoon,” jawab Delavar sangat santai. “Memangnya ada apa?”


“Lama sekali, Daddymu sudah berumur masih saja kau tega membiarkan aku bekerja menggantikanmu yang ternyata jadwalnya sangat sibuk,” omel Daddy Davis yang saat ini sedang mendapatkan pijatan dari sang istri karena lelah sekali selama satu minggu penuh tak istirahat, hanya mengurusi perusahaan yang dikelola oleh putra ketiganya. Baik di Finlandia ataupun di luar negeri.


“Astaga, Dad. Baru juga sebentar, nanti setelah aku selesai bulan madu, pasti akan bekerja.”


“Malam ini kau berangkat ke Belanda, kacau sekretarismu itu membuat jadwal ganda di hari yang sama. Kau tahu sendiri Mr. William tak bisa ditawar jika bekerja sama harus mengikuti rules atau batal.”


“Yasudah, batalkan saja.” Delavar yang tak ingin meninggalkan Amartha sendiri pun dengan entengnya merelakan proyek dengan nominal mencapai jutaan euro.


“What? Mulutmu habis kau beri pelumas apa? Lancar sekali bicaranya.” Daddy Davis sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


“Dad, kehilangan jutaan euro bukan masalah untuk kita. Kau tak perlu marah-marah seperti itu.”


__ADS_2