I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 156


__ADS_3

Tentu saja yang memiliki ide untuk melakukan rapat pemegang saham itu adalah anak-anak keluarga Dominique. Bahkan mereka sampai membeli saham di sana, walaupun tidak banyak. Namun, jika digabungkan berempat pun lumayan juga.


Christoper menelan saliva saat tak banyak orang yang sepertinya akan berpihak dengan dia. “Coba dipaparkan, setiap orang di sini memiliki berapa persen saham,” pintanya.


Christoper harus menghitung jika yang dia miliki dengan beberapa orang di sana yang pro terhadap dirinya masih berada di atas lima puluh persen, maka dia tak akan takut digeser posisinya.


“Baik.”


Salah satu orang pun menampilkan rincian pemegang saham di LCD proyektor. Christoper masih pemegang yang paling tinggi, sebanyak tiga puluh persen. Keempat anak keluarga Dominique masing-masing memiliki sepuluh persen. Dan sisanya berada di bawah itu.


“Kita jeda sebentar, aku ingin ke toilet,” ucap Christoper. Dia pun berdiri meninggalkan tempat duduk dan hendak keluar.


“Tuan, di dalam ruangan ini ada toilet. Untuk apa kau keluar?” tegur salah satu pemegang saham.


“Rusak.” Setelah menjawab, Christoper keluar dari ruangan tersebut. Dia harus memikirkan cara agar mendapatkan setidaknya dua puluh satu persen untuk mempertahankan jabatannya. Sebab, anak-anak Dominique tidak mungkin berpihak dengan dia.

__ADS_1


“Sial! Ini pasti akal-akalan Delavar.” Christoper memukul tembok, tapi tidak terlalu keras. Hanya ingin meluapkan kekesalannya.


“Memang benar itu ideku,” celetuk Delavar. Setelah Christoper keluar, dia juga ikut izin.


Suara Delavar itu membuat Christoper terkejut dan berbalik badan. Menatap sengit ke arah pria yang tak membiarkan hidupnya tenang. “Kenapa kau melakukan itu padaku?”


Delavar mengayunkan kaki ke depan, hingga jarak dengan Christoper tak terlalu jauh. Menepuk pipi pria itu pada bagian yang diperban. “Karena mulutmu sudah berani berbicara dengan calon istriku, tanpa izin dariku!”


“Aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran, kau memang penyebab adikku menjadi tak bisa berjalan!” Masih saja Christoper tidak menerima keadaan Jessy.


Delavar berdecak dengan bergeleng kepala. “Percuma, kau mau menjelekkan namaku pada Amartha. Dia lebih percaya dengan calon suaminya daripada kau!” Dia menyunggingkan senyum mengejek. “Terima kasih, berkat kau, aku jadi tahu betapa besar cinta dan kepercayaan Amartha padaku,” imbuhnya meninggalkan tepukan di pipi Christoper.


“Aku ingin membuat kesepakatan denganmu.” Delavar memasukkan satu tangan di saku celananya.


“Untuk apa aku membuat kesepakatan denganmu?”

__ADS_1


“Kau masih ingin menjadi CEO di perusahaan ini, bukan?”


“Tentu saja!”


“Jika kau tak ingin diganti posisinya, maka turuti permintaanku. Tidak sulit, cukup jangan mengganggu kehidupanku dan keluargaku saja. Bagaimana?”


Christoper terdiam untuk memikirkan keputusannya.


“Jangan terlalu lama mengambil keputusannya, sebelum aku berubah pikiran,” ucap Delavar sedikit sombong. “Ingat, keluargaku memiliki total empat puluh persen. Mendapatkan sebelas persen suara lagi sangatlah mudah bagiku untuk menurunkan jabatanmu.”


“Oke, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Tapi kau juga jangan pernah mengusikku!” pinta Christoper seraya mengulurkan tangan.


“Deal.” Delavar menjabat tangan si keriting. Tapi langsung dicuci tangannya.


Kedua orang itu akhirnya kembali lagi ke ruang rapat. Dan Christoper tetap menjadi CEO.

__ADS_1


Christoper segera pulang ke mansion karena adiknya menelepon terus. Dia menemui Jessy yang sedang membantingi barang apa pun.


“Jessy! Kau kenapa?!” sentak Christoper seraya menghentikan adiknya yang mengamuk.


__ADS_2