I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 91


__ADS_3

Delavar seharusnya senang mendapatkan pelukan dari Amartha, walaupun dalam kondisi tak sadar. Tapi, saat ini dirinya justru sedang resah. Matanya menatap ke arah bawah saat merasakan kaki wanitanya tak bisa diam dan menggesek pabrik pembuatan bibit premium calon anaknya.


“Sial!” umpat Delavar dengan lirih saat bagian inti alat reproduksinya mulai berubah volume. “Bisa nyut-nyutan kepalaku atas bawah jika seperti ini,” gumamnya diakhiri dengan mendesah frustasi.


Delavar menghela napasnya panjang, ingin menyingkirkan tangan dan kaki Amartha agar tak menyentuh tubuhnya yang sedang sensitif, tapi rasanya sayang. Moment seperti ini sangat jarang didapatkan. Namun, jika dibiarkan terus-menerus dalam posisi yang membuatnya tak bisa melakukan apa pun, mau solo karir pun bagaimana caranya? Pabrik pembuatan bibit penerusnya saja sedang ditimpa kaki Amartha.


“Kau membuat dini hariku tak berkutik Amartha,” lirih Delavar.


Mata Delavar benar-benar tak terpejam selama Amartha tidur. Wanita itu tak bisa diam dan terus membuat miliknya aktif.


Hingga bunyi alarm dari jam digital yang ada di atas nakas itu membangunkan Amartha yang tidurnya sangat lelap.

__ADS_1


“Engh ....” Amartha melenguh, tangan dan kakinya merasakan jika menyentuh seseorang. Segera kelopaknya membuka dan langsung menjauhkan diri dari Delavar. “Maaf, aku tak sadar jika memelukmu,” ucapnya seraya berpindah posisi menjadi duduk.


Delavar tetap tersenyum walaupun matanya kini sedang terasa ngantuk. “Tak masalah. Apa tidurmu nyenyak?” tanyanya. Dia pun ikut berpindah menjadi posisi yang sama seperti Amartha.


Amartha menjawab dengan anggukkan. “Apa kau juga?”


Delavar hanya menyengir seraya mengelus rambut Amartha dengan lembut. “Aku ke kamar mandi dulu, ya? Pagi ini harus berangkat kerja,” pamitnya.


Anak ketiga keluarga Dominique itu meninggalkan Amartha. Kepalanya saat ini pusing karena ada hasrat yang muncul tapi tak tersalurkan hingga miliknya berubah volume sendiri. “Oh astaga ... kenapa aku harus terjebak dalam situasi yang membuatku sulit,” gumamnya.


“Sabar, Nak. Suatu saat nanti kalian terlahir dalam bentuk bayi, tak akan ku buang ke pembuangan lagi,” gumam Delavar berbicara pada cairan yang baru saja disiram.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri dan menuntaskan hasratnya. Akhirnya kepala Delavar pun lebih ringan dan tak nyut-nyutan seperti tadi lagi. Dia bersiap berganti pakaian setelan kerjanya, memakai skincare, dan tak lupa menyemprot parfume yang wanginya bisa tahan bahkan sampai satu minggu.


“Kau mau sarapan dengan kondisi seperti itu atau mau mandi dulu?” tawar Delavar pada Amartha yang masih duduk di atas ranjang.


“Mandi dulu.”


“Oke, aku akan tunggu di sini.” Delavar duduk di sofa, menatap Amartha yang berganti masuk ke dalam walk in closetnya.


Amartha sudah disediakan pakaian ganti oleh Mommy Diora, sehingga dia tak perlu meminjam milik Delavar lagi.


“Yuk, sudah waktunya sarapan,” ajak Delavar seraya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Keduanya pun bergandengan tangan. Sudah seperti pasangan baru yang tak mau berpisah saja mereka. Delavar dan Amartha bergabung dengan anggota keluara Dominique yang sudah bersiap di tempat duduk masing-masing.


Dariush yang saling berhadapan dengan Delavar itu memandangi raut kembarannya. Dan setelah menyadari ada yang aneh, dia tertawa terbahak-bahak. “Kau pasti tak bisa tidur,” tebaknya seraya menunjuk wajah Delavar. “Memangnya kalian berdua melakukan apa di dalam kamar?”


__ADS_2