I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 108


__ADS_3

Delavar dan Amartha sudah sampai di dalam apartemen. Pria itu menempel terus seperti permen karet yang tak sengaja diduduki.


Amartha menggoyangkan tubuhnya karena tak bisa leluasa bergerak. “Delavar, aku mau melihat rekaman kamera Christoper, ingin tahu ekspresinya saat membuka hadiah dari aku,” pintanya dengan lembut, dan tersalurkan dari tangan mengusap rahang pria itu yang sedang menyandar di pundaknya


“Besok saja, otomatis tersimpan di ponselku. Kau tidak akan melewatkan wajahnya sedikit pun,” bujuk Delavar. Dia mendorong tubuh Amartha dan membuka pintu kamar hingga keduanya berada di dalam sana.


Amartha mencoba mengurai tangan Delavar yang melingkar di perutnya. Membalikkan tubuh agar berhadapan. “Sekarang, agar tidurku tenang.” Dia tetap keras kepala. Tangannya diam-diam masuk ke dalam saku pria itu untuk mengambil ponsel.


“Aku dapat,” tutur Amartha menunjukkan benda pipih di tangannya. Kakinya mengayun untuk mendekati ranjang dan duduk di sana. Saat hendak membuka ponsel tersebut, ternyata dipasword. “Apa kodenya?”


“Pakai saja face id mu, aku sudah memasukkan wajahmu di sana.” Delavar ikut duduk di samping Amartha dan memeluk wanita itu. Benar-benar pria yang sedang dimabuk cinta.


Amartha berhasil membuka kunci layar, dan segera membuka aplikasi yang terhubung dengan hadiah Christoper. Terlihat masih gelap.


“Belum dibuka oleh si keparat itu, jadi lebih baik kita tidur saja. Terekam, tenang saja,” ajak Delavar. Tangannya dengan lembut mengambil alih barang berharganya. Meletakkan asal di ranjang.

__ADS_1


Delavar menyentuh dagu Amartha, mengarahkan wajah wanita itu ke hadapannya. Sorot keduanya saling bertemu, pria itu sungguh sangat teduh tapi mendadak ada seringai mesum yang tercetak dari sudut bibir Delavar.


“Lepaskan pakaianmu, kita sudah sepakat tidur berpelukan tapi polos,” bisik Delavar mengingatkan sekali lagi.


“Hanya tidur, aku tak mau terjadi hal lain.” Amartha mengulurkan tangan untuk mencapai kesepakatan. Dia belum siap untuk melayani pria itu seutuhnya. Masih sering terbayang-bayang saat melihat video yang diperlihatkan oleh Christoper tat kala si keparat itu menjamahnya ketika tak sadar.


“Iya.” Delavar menjabat tangan Amartha.


“Janji?”


Amartha berdiri meninggalkan ranjangnya. Mendekati pintu.


“Mau ke mana?” tanya Delavar dengan tatapan bingung.


“Mematikan lampu, aku tak ingin kau melihat tubuhku saat terang,” jawab Amartha dan sedetik kemudian ruangan itu pun menjadi gelap.

__ADS_1


Helaan napas kecewa keluar dari bibir Delavar. Gagal sudah melihat kulit seluruh tubuh Amartha.


Amartha meloloskan kain yang membungkus area luar saja. Namun tidak untuk bagian dalam. Dan dia pun merebahkan tubuh di kasur.


Delavar bisa merasakan jika Amartha sudah siap untuk tidur. Dia pun melepaskan helaian benang yang membungkus seonggok daging. Ikut berbaring di samping wanitanya.


“Jangan jauh-jauh, nanti kau hilang,” kelakar Delavar seraya menarik pinggul Amartha untuk semakin mengikis jarak.


“Jangan melakukan apa pun padaku saat tak sadar, Delavar. Aku belum siap,” bisik Amartha memperingatkan.


“Tidak, aku hanya ingin berpelukan dan saling menyalurkan kehangatan saja.” Suara Delavar terdengar meyakinkan.


Delavar membiarkan tangan kirinya sebagai bantal. Tak ada jarak antar keduanya. Kulit itu saling menyatu tanpa ikatan.


“Selamat tidur, Sayangku,” ucap Delavar dengan melabuhkan kecupan di kening Amartha.

__ADS_1


“Kau juga, Sa—yang.” Amartha menikmati kehangatan dari dada pria itu. Namun, area sekitar pahanya merasakan sesuatu. “Ada yang mengeras, Delavar,” celetuknya.


__ADS_2