I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 79


__ADS_3

Orang yang disenggol lengannya oleh Delavar itu langsung mengayunkan kaki menuju luar di mana mobil tuannya sedang menunggu kopi yang ada di tangannya.


Sedangkan Delavar masuk ke dalam toilet untuk menuntaskan perutnya yang melilit.


Sour, pria itu adalah tangan kanan Christoper. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan menyodorkan kopi pesanan tuannya.


“Tuan, di dalam ada Nona Amartha,” ucap Sour.


Membuat Christoper yang sedari tadi sedang asyik dengan ponselnya itu menatap ke arah Sour. “Kau tidak berbohong?”


“Benar, Tuan. Anda lihat saja ke dalam.” Sour menunjuk ke arah coffee shop tempatnya keluar tadi.


Christoper menarik sebelah sudut bibirnya. Kesempatan bagus, dia tak perlu menunggu lama hanya untuk bertemu wanita itu, karena semesta seperti mendukungnya.


“Aku akan menemuinya di sini.” Christoper hendak keluar dari kendaraan pribadinya.

__ADS_1


“Tapi, Tuan. Di sana ada—” Sour hendak memberi tahu jika ada Delavar juga, tapi tuannya sudah turun dari mobil dan berjalan dengan angkuh memasuki bangunan dengan nuansa Eropa modern.


Pandangan Christoper menyapu di seluruh ruangan. Kakinya mengayun mendekat ke meja yang ada di dekat jendela samping. Tanpa permisi, pantatnya langsung duduk di kursi yang seharusnya milik Delavar.


Mendengar ada suara orang duduk di hadapannya, Amartha mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke arah depan. Dahinya mengernyit heran beserta bingung. “Siapa kau?” tanyanya dengan nada ketus.


Christoper menarik sebelah sudut bibirnya sinis. “Jika aku mengatakan kejujuran, apakah kau akan percaya?”


“Orang gila, pergi sana. Aku tak ada urusan denganmu,” usir Amartha seraya mengibaskan tangannya.


“Lahirkan anak itu!” Tiba-tiba Christoper mengeluarkan suara yang mengandung sebuah perintah.


“Dari mana kau tahu jika aku hamil?” tanya Amartha.


Christoper tertawa terbahak-bahak dan wajahnya sungguh mengesalkan. “Tentu saja, karena aku adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu itu!” jawabnya dengan nada bicara mengejek.

__ADS_1


Tangan Christoper mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto saat tubuh Amartha polos tanpa busana dan juga beberapa video yang direkam secara sengaja.


Amartha mengepalkan tangan saat melihat perbuatan keji bak hewan tak berperasaan itu. Rahangnya seketika mengeras dengan mata mendelik kesal. “Jadi, kau pria brengsek yang membuat hidupku hancur?!” sentaknya. Dadanya naik turun, menandakan bahwa saat ini sedang berada dalam adrenalin emosi yang tak terkendali.


“Ya, brengsek seperti ini juga ayah dari anak yang kau kandung. Jadi kau sudah terikat denganku,” ucap Christoper dengan percaya diri.


Cuih!


Amartha meludah hingga terjatuh tepat di wajah Christoper. “Kau pikir aku sudi mengandung anak ini? Tidak! Aku akan mengeluarkannya dari dalam perutku!” serunya.


Perdebatan kedua orang itu tentu saja disaksikan oleh semua pengunjung yang ada di sana.


Christoper langsung mendelik tak terima. Itu satu-satunya penerusnya, harapan untuk masa depannya yang sudah tak bisa memiliki anak lagi. “Jangan sampai kau berani menggugurkannya, atau kau akan menerima sanksi dariku yang tak pernah bisa dibayangkan seumur hidupmu!” ancamnya.


Amartha meraih gelas berisi air mineral yang memang disediakan oleh coffee shop itu. Dia melemparkan benda berbahan kaca itu ke wajah Christoper.

__ADS_1


Pyar!


Tubuh Amartha berdiri dengan kilatan amarah. “Kau pikir aku takut denganmu?! Setan!”


__ADS_2