I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 116


__ADS_3

Wanita itu meletakkan benda pipih yang pintar miliknya ke atas meja. Dan Amartha mengambil minuman dingin di kulkas, lalu menuangkan pada gelas berwarna hijau tosca.


Amartha duduk di kursi, meneguk air mineral dingin tersebut seraya membuka kunci layar ponselnya. Dia membaca pesan dari orang yang tak dikenal. Tapi, jika dilihat dari isi chat itu, sepertinya dia tahu siapa orangnya.


Seketika itu juga Amartha langsung meletakkan gelas ke meja dan hendak menghubungi si pengirim pesan untuk menanyakan maksud dari chat yang baru saja dia baca.


“Sial! Tidak diangkat,” gerutu Amartha. Rasa penasarannya saat ini sudah menyeruak. Dia mencoba untuk menghubungi nomor itu lagi.


Sudah tiga kali, dan tetap tidak diangkat. “Ck! Memang dasar pria keparat! Dia mau mempermainkan aku setelah ku kirim embrio anaknya?” gumamnya lagi.


Amartha meletakkan ponselnya lagi ke atas meja, dan menghabiskan minumannya. Namun, getaran dari ponsel yang sangat terasa, langsung membuatnya menatap layar sebesar lima koma tujuh inch tersebut.

__ADS_1


Tangan Amartha segera mengangkat panggilan itu. “He, Christoper si pria keparat! Apa maksudmu mengirim pesan seperti itu?” tanyanya dengan lirih tapi penuh penekanan, dan nadanya terdengar seperti orang yang sangat penasaran.


“Kau ingin tahu alasanku membuatmu hamil, bukan?” Christoper balas mengajukan pertanyaan juga.


“Ya! Memangnya apa yang mendasarimu melakukan hal keji padaku?”


“Aku akan memberi tahu padamu secara langsung. Kita bertemu besok malam, tapi kau jangan memberi tahu Delavar jika akan bertemu denganku. Aku ingin kau datang sendiri.” Christoper pun mengajukan persyaratan. Bisa gagal dia mengungkap alasannya jika ada anak ketiga keluarga Dominique itu.


“Tidak, kita bertemu di restoran cepat saji yang ramai pengunjung jika kau tak percaya padaku. Aku hanya akan memberi tahu padamu tentang alasanku saja.”


“Kenapa kau tak memberi tahu sekarang saja? Membuang waktuku jika harus bertemu.”

__ADS_1


“Terserah kau. Jika ingin tahu alasanku, maka mari kita bertemu dan jangan lupa hapus pesanku tadi agar tak dibaca oleh Delavar. Tapi, jika kau tak penasaran pun tidak masalah untukku.” Christoper tak mau menyampaikan melalui telepon. Sebab, dia ingin tahu bagaimana reaksi wanita itu saat mengetahui jika yang membuat Amartha hancur adalah karena Delavar.


“Kenapa harus malam? Jika ingin bertemu, siang hari saat terang dan banyak orang beraktivitas.” Amartha mencoba menawar karena malam terlalu gelap dan jika dirinya diperlakukan tak baik pun pasti tak terlihat jelas oleh orang.


“Oke, siang hari. Asal kau jangan memberi tahu Delavar. Bagaimana?”


Amartha terdiam sejenak. Matanya menatap ke arah pintu kamar untuk menimbang keputusan. Toh mereka bertemu di tempat ramai, dan dia tak akan mau memakan segala jenis hidangan yang diberikan oleh si pria keparat itu. “Oke, besok siang kita bertemu,” finalnya. Rasa penasaran Amartha jauh lebih besar.


“Bagus, besok di McDonald’s yang ada di Helsinki Forum Street Level pukul dua belas siang.” Christoper pun menutup panggilan tersebut setelah memberi tahu tempat untuk bertemu.


Amartha jadi tak bisa tidur lagi karena memikirkan bagaimana agar besok bisa pergi tapi tanpa sepengetahuan Delavar. Pria itu saja sudah seperti perangko yang terus menempel dengannya.

__ADS_1


__ADS_2