I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 134


__ADS_3

Amartha meraih sampah bekas minuman dan camilannya untuk dibuang ke tempat sampah karena McDonald’s itu sudah menerapkan self services. Dia berangsur berdiri, seketika itu juga rasa penasarannya menghilang.


Telinga seakan tak ingin tahu lebih dalam tentang alasan Christoper si pria berambut keriting dan berwarna seperti karat besi itu. Hati Amartha tak cukup kuat jika harus mendengarkan sebuah kenyataan pahit tentang calon suaminya.


Saat ini Amartha kecewa dan merasa bodoh. Seharusnya lebih baik tak mengetahui apa pun daripada mendengarkan sebuah kebenaran yang berakhir melukai hati.


“Sudah, cukup! Aku tak ingin mendengarkan apa pun dari mulutmu!” sentak Amartha seraya menggeser kursi dengan kasar.


Roxy memantau calon istri sang tuan dari meja yang ada di sudut. Dia segera berdiri hendak mengamankan Nona Amartha, tapi ternyata wanita itu hendak meninggalkan Christoper dan mendekati tong sampah. Akhirnya dia urungkan dan memilih untuk kembali mengamati dari jarak jauh saja. Tugasnya adalah memastikan Nona Amartha tetap aman.

__ADS_1


Christoper kesal dengan Amartha. Dari tempatnya duduk saat ini bisa melihat wanita itu yang masih berada di dalam area restoran. “Asal kau tahu, Amartha. Delavar menikahimu hanya karena dia merasa bersalah. Dia tahu penyebab kau hamil itu karena aku jadikan sebagai alat balas dendam padanya!” Si rambut keriting berteriak dan pastinya sampai ke telinga Amartha.


Suara Christoper membuat semua pengunjung di sana memusatkan perhatian padanya karena perdebatan dua manusia itu terlalu mencolok.


Amartha menghentikan langkah kaki yang hendak menuju pintu. Berbalik badan dengan sorot mata terlihat tak suka pada Christoper. “Apa yang membuatmu memiliki dendam dengan calon suamiku?” Dia bukan lagi penasaran tentang alasan Christoper. Tapi, lebih ingin tahu kenapa bisa orang seperti Delavar Doris Dominique sampai memiliki musuh.


“Dia sudah membuat adikku tak bisa berjalan seumur hidup. Apa kau yakin akan menikahi pria seperti itu? Bahkan dia tak bertanggung jawab sedikit pun dengan adikku, tak merawat saat Jessy kesakitan, dia lepas tangan. Lebih parah lagi, dia tak merasa bersalah atas perbuatannya!” Christoper hanya mengungkapkan dari sudut pandangnya saja.


“Fuckk you!” Amartha mengumpati Christoper. Menunjukkan kedua jari tengah pada pria itu. “Kau tetap pria pengecut yang salah membalaskan dendam. Padahal aku tak tahu titik permasalahanmu dengan Delavar.”

__ADS_1


Amartha benar-benar tak tertarik lagi berada di sana. Sebelum berbalik badan untuk pergi, dia mengatakan sebuah pesan pada Christoper. “Ku sarankan padamu, lebih baik kau mati saja daripada hidup di dunia dengan wajahmu yang cacat itu. Kau pikir akan ada wanita yang sudi menikah dengan orang sepertimu? Sudah tak bisa memiliki anak, cacat pula.”


Cuih


Amartha seolah-olah meludah ke lantai, tapi tidak mengeluarkan cairan. “Sungguh lelaki tak berguna yang tahunya hanya membalas dendam dengan menyalurkan pada orang yang salah!” Satu sudut bibirnya terangkat sebelah sangat sinis. “Minumlah racun atau kau terjun dari tebing, aku yakin ajalmu cepat datang.”


Amartha tak ingin menunjukkan jika saat ini hatinya sedang goyah. Dia hanya membalas dengan kata-kata kasar untuk menutupi kerapuhannya.


...*****...

__ADS_1


...Cie ... si Christoples fansnya banyak, ditanyain terus dari kemarin, sekalinya muncul ngeselin. Itu tolong si toples ajakin ke salon buat lurusin rambut biar ga keriting sama ga karatan wkwkwk...


__ADS_2