I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 179


__ADS_3

Delavar memilih untuk berlari menaiki tangga, daripada menunggu orang mengantri lift. Napasnya sudah engos-engosan saat sampai di lantai sepuluh, dan berhenti tepat di depan ruang VIP satu.


Delavar segera membuka pintu di hadapannya. Menetralisir napas agar lebih stabil. Pertama kali menginjakkan kaki, matanya langsung menangkap Amartha yang sudah terbaring di atas brankar.


“Kau berlari ke sini?” tanya Amartha yang saat ini sedang tidur miring menatap ke arah pintu.


Delavar mendekati istri tercinta dan mengulas senyum. “Iya, aku takut terlambat datang.” Dia masih sempat duduk untuk mengelus perut Amartha. “Sudah mau lahir anak-anak kita?”


Amartha menganggukkan kepala. “Sepertinya, perutku sudah sakit dan rasanya tak kuat lagi untuk ditahan.” Dia menjawab seraya mengeluarkan desisan.


Melihat sang istri nampak kesakitan, Delavar segera meminta Mommy Diora untuk memanggilkan dokter agar segera dilakukan operasi. Sejak awal memang tidak mengharapkan Amartha melahirkan secara normal, karena takut kelelahan harus mengejan mengeluarkan bayi yang jumlahnya lebih dari satu.

__ADS_1


Dan kini, Amartha sudah berbaring di atas brankar dalam ruang operasi. Ditemani oleh Delavar yang setia berada di samping istri tercinta.


“Apakah perutku sudah disayat?” tanya Amartha yang tidak bisa merasakan apa pun lagi. Dia hanya dibius lokal, kesadaran masih tetap terjaga. Matanya tidak bisa melihat area bawah karena disekat oleh tirai.


Delavar mengintip sedikit ke arah dokter yang sedang membedah. “Sudah.” Dia menjawab dengan mengelus kening dan tangan Amartha.


“Aku berdebar, takut, padahal tidak perlu mengejan seperti persalinan normal,” ucap Amartha seraya menuntun tangan Delavar untuk memegang dada.


“Mungkin karena kau sudah tak sabar ingin bertemu anak-anak kita,” balas Delavar yang setia menggenggam tangan Amartha dan mencium kening sang istri.


Amartha sampai menitikan air mata saat melihat putra pertamanya. “Sayangnya Mommy, tampan seperti Daddy,” pujinya seraya mengelus rambut tipis yang masih bercampur dengan darah. Proses itu pun diulangi lagi sebanyak dua kali.

__ADS_1


Dan Amartha hanya bisa melihat anak-anaknya dimasukkan ke dalam inkubator setelah dibersihkan. Sementara dokter menjahit lagi perutnya setelah semua anak di dalam perut sudah keluar semua.


“Selamat atas kelahiran ketiga putra Anda, Tuan dan Nyonya,” ucap Dokter yang baru saja menyelesaikan tugas membantu mengeluarkan bayi dari dalam rahim Amartha.


“Apakah kondisi anak-anakku sehat? Sepertinya usia kandungan istriku belum sembilan bulan, tapi sudah melahirkan.” Delavar justru bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Dokter mengulas senyum ramah. “Bayi kembar, apa lagi tiga, lahir saat usia kandungan belum mencapai sembilan bulan memang wajar, Tuan. Anak-anak Anda juga sehat saat terlahir ke dunia,” jelasnya.


Amartha dan Delavar bisa bernapas lega mendengar penjelasan tersebut. Tidak ada yang perlu ditakutkan.


“Namun, untuk saat ini bayi harus berada dalam inkubator sampai kondisinya benar-benar stabil,” imbuh Dokter tersebut. Dan sepasang orang tua baru itu hanya bisa menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Tolong jangan tidur dulu sampai pendarahan berhenti.” Dokter pun memberikan peringatan pasiennya agar tidak terjadi sesuatu hal buruk pada Amartha yang saat ini masih mengeluarkan darah.


“Oke, Dok. Terima kasih atas bantuanmu,” balas Delavar yang saat ini sudah menyandang sebagai Daddy dari tiga jagoan kecil.


__ADS_2