I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 65


__ADS_3

Delavar tak langsung menjawab pertanyaan dari Amartha, dia justru mengulas senyum termanisnya terlebih dahulu seraya memberikan kode kerlingan mata pada Mommy Diora agar membantunya. “Peliharaanku, dia susah sekali makan kalau tidak aku yang memberinya langsung,” jawabnya asal. Dia berkilah sesuai yang terlintas pada benaknya saja.


Amartha mengangguk mengerti. “Memangnya hewan apa yang kau pelihara?”


Delavar menyengir, tapi bingung ingin mengkategorikan Papa Max ke dalam satwa apa. Sebab, hewan lebih memiliki perasaan untuk menjaga anak mereka, sedangkan pak tua itu tidak sama sekali.


“Sipanse yang hampir mati karena penyakitan.” Mommy Diora membantu menjawab disaat melihat putranya sudah nampak kebingungan.


Amartha berohria. “Kalau begitu, beri makan dulu saja.”


Delavar bisa bernapas lega, Amartha tidak curiga sama sekali. “Kau di sini dulu, ya? Aku mengurus peliharaanku.”


“Boleh aku ikut? Aku juga ingin melihat sipanse,” pinta Amartha.


Dan kepala Delavar langsung menggeleng. “Jangan, nanti kau tertular penyakitnya,” tolaknya dengan memberikan berbagai alasan.

__ADS_1


Mommy Diora mengelus lengan Amartha dengan lembut dan sedikit menarik wanita itu agar mengikuti langkahnya. “Kita bermain dengan cucu-cucuku saja, kebetulan mereka di sini,” ajaknya.


Amartha menatap ke arah Delavar seperti menanyakan pendapat dan pria itu menganggukkan kepala sebagai respon.


“Bersenang-senanglah dengan dua keponakanku yang lucu,” ucap Delavar seraya tangannya mempersilahkan agar Amartha mengikuti orang tuanya.


Setelah Delavar memastikan Amartha beranjak pergi, dia pun menatap ke arah pelayan yang hampir mempuat jantungnya copot karena laporan tidak pada waktu yang tepat. “Lain kali jangan laporan, jika aku sudah memberikan kode dengan kedipan mata. Itu tandanya kondisi tidak memungkinkan,” tegurnya.


Pelayan itu menganggukkan kepala dan sedikit membungkukkan badan seraya berucap maaf. “Saya kira Anda sedang kelilipan, Tuan,” dalihnya.


“Baik, Tuan.” Pelayan yang baru bekerja dengan keluarga Dominique selama tiga bulan itu langsung menuju dapur tempatnya biasa makan, bukan di area bangunan utama.


Sedangkan Delavar langsung menuju tempat di mana Papa Max berada. Tentu saja kali ini menggunakan buggy car agar cepat.


“Hei, dua bapak-bapak,” sapa Delavar saat melihat daddy dan Danesh sedang berbincang di taman samping mansion. Tanpa menghentikan buggy car, dia melambaikan tangan.

__ADS_1


Daddy Davis dan Danesh bergeleng kepala. Tapi tak menampik jika mereka sudah bapak-bapak.


“Kau mau ke mana?” tanya Danesh dengan sedikit berteriak.


“Memberi makan peliharaanku,” jawab Delavar dengan nada bicara yang sama pula.


Danesh pun menatap daddynya dengan alis terangkat. “Sejak kapan dia punya peliharaan?”


“Sejak tahu jika Amartha dijual oleh orang tuanya sendiri.” Daddy Davis menjawab setahunya saja.


Danesh berohria, tak perlu dijawab dengan detail pun dirinya sudah paham siapa yang dimaksud peliharaan. Kedua bapak-bapak itu pun melanjutkan perbincangan.


Sementara itu, Delavar sudah sampai di gudang belakang. Dia segera membuka pintu dan menghidupkan lampu. Matanya langsung menangkap sang tawanan yang kini sudah duduk dengan diikat kembali menggunakan tali. Pak tua itu sudah mendapatkan pengobatan dari dirinya selama tiga hari dan dinyatakan tak sakit lagi oleh dokter, sehingga waktunya membelenggu kebebasan Papa Max lagi.


Delavar mendapatkan tatapan tak suka dari pak tua itu. Tapi anak ketiga keluarga Dominique tak akan terintimidasi.

__ADS_1


“Kau benar-benar tak memiliki hati! Menyekap orang tua selama ini!” berang Papa Max dengan matanya yang terlihat marah.


__ADS_2