I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 176


__ADS_3

“Janinnya sehat di dalam rahim, berkembang dengan baik sesuai usia kandungan yang sekarang sudah tiga belas minggu,” jelas Dokter tersebut. Setelah dirasa pemeriksaan selesai, dia membersihkan permukaan perut pasiennya.


Delavar membulatkan mata mendengar informasi dari dokter. “Tiga bulan, Dok? Rasanya baru kemarin aku bulan madu, ternyata kandungan istriku sudah selama itu.”


Dengan dibantu sang suami, Amartha merubah posisi menjadi duduk. Dia mengelus lengan Delavar dan meninggalkan sedikit cubitan. “Kita yang terlalu lama pergi, tujuh bulan tak pulang, wajar saja kalau usia kandunganku sudah mendekati tri semester dua.”


Dokter pun mengajak pasien untuk duduk berhadapan dengannya. “Saya resepkan vitamin untuk Nona. Jangan lupa rutin dikonsumsi, ya.”


“Siap, Dokter. Aku akan selalu mengingatkan istriku.” Justru Delavar yang sangat antusias untuk menjawab. Tangannya sekarang lebih senang mengelus perut sang istri.


“Diusahakan rutin kontrol ke dokter untuk melihat pertumbuhan janin setiap bulannya, ya? Atau minimal tiga bulan sekali juga tidak masalah.” Dokter itu memberikan nasihat seraya memberikan secarik kertas.


Delavar menunjukkan jempol sebagai pertanda dia paham. “Apakah ada larangan untuk bercinta?”

__ADS_1


Pertanyaan dari pria itu membuat Amartha mencubit perut Delavar. “Kau itu pikirannya selalu ke sana terus,” bisiknya.


Delavar menyengir dan mencolek hidung Amartha. “Sudah ketagihan, Sayang. Mana bisa aku libur.” Dan ucapan itu diakhiri dengan kecupan pada pelipis istrinya.


Dokter mengulas senyum, memaklumi kelakuan pasiennya yang sangat beragam. “Boleh, asalkan jangan terlalu bertenaga. Nanti anak Anda mengira sedang terjadi gempa di dalam rahim ibunya.” Baliau menjawab dengan sedikit diberikan candaan agar Delavar paham maksudnya.


“Siap, nanti aku akan lembut dan pelan saat bermain dengan istriku.” Delavar menimpali diiringi alis yang naik turun.


Amartha langsung membekap mulut suaminya. “Sudah, ayo kita pulang saja. Semakin lama di sini, nanti kau berbicara yang aneh-aneh dengan dokter.”


“Akhirnya, apartemen ini berguna juga untuk ditinggali. Ku kira kita akan berlayar terus karena kau tak pernah mau diajak pulang,” ucap Amartha yang saat ini sedang merebahkan tubuh di atas sofa dan berbantal paha suaminya. “Tapi, tujuh bulan tidak ditempati, kenapa tidak berdebu atau pengap?”


“Tentu saja karena selalu dibersihkan oleh orang-orang suruhanku, Sayang.” Delavar merendahkan wajah untuk mengecup bibir Amartha.

__ADS_1


Baru tiga belas jam Delavar tidak menjamah sang istri, karena saat di helikopter dia tak mungkin menggerayangi Amartha di depan Daddy Davis. Kini pria itu sudah mulai nakal.


Tangan Delavar perlahan membuka kancing baju yang membungkus tubuh Amartha. Sengaja menyentuh kulit wanita itu penuh kelembutan agar membangkitkan gairah. Memilin sesuatu yang saat ini nampak menonjol setelah dua cup sengaja dinaikkan ke atas tanpa membuka pengait belakang.


Amartha mencekal pergelangan tangan Delavar. Mendongak menatap wajah sang pria yang sudah mendambakan tubuhnya. “Kau mau apa, Sayang?” tegurnya dengan gelengan kepala.


“Ingin melakukan seperti biasa, ini sudah jam tujuh malam, waktunya kita bermain.” Delavar menjawab, tapi tangan meremas sesuatu yang ada di dada istrinya.


Amartha menyatukan jemari dengan milik Delavar agar pria itu berhenti mencoba membangkitkan gairah. “Libur dulu, ya? Aku lelah sekali,” pintanya dengan wajah yang sangat memohon.


Delavar menghela napas berat. Jika yang bergairah hanya dia, maka tak akan asyik saat bercinta. “Baiklah, kita tidur saja di kamar.”


Untung anak ketiga keluarga Dominique tidak egois, sehingga dia menurut dan membopong tubuh Amartha untuk berpindah ke dalam kamar.

__ADS_1


Percintaan yang diharapkan oleh Delavar akan terjadi pun hanya bisa di angan-angan belaka. Sebab, saat ini keduanya justru sedang ke alam mimpi dengan saling berpelukan.


__ADS_2