I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 127


__ADS_3

“Ini bukan masalah nominalnya, Delavar. Tapi citra perusahaan, kapabilitas kita dipertaruhkan. Jika seenaknya kita merubah jadwal, Mr. William pasti langsung memasukkan ke daftar hitam. Kau paham?” tegas Daddy Davis.


“Danesh atau Dariush saja, Dad. Aku tak mau meninggalkan Amartha sendirian. Lusa harus fitting baju juga.” Delavar masih terus beralasan agar tak dipaksa untuk berangkat ke Belanda menghadiri rapat kerja sama untuk proyek raksasa di negara tersebut.


“Memangnya kau pikir kembaranmu itu pengangguran? Kalau mereka bisa, sudah pasti aku tak menghubungimu.”


“Deavenny?”


Daddy Davis terdengar mengeluarkan decakan. “Kau mau mempercayakan kerja sama dengan perusahaan besar pada si bungsu? Dia saja bisa mencapai di titik ini karena dibantu oleh Marvel.”


Delavar menghela napasnya. “Sebentar, aku bicarakan pada Amartha dulu, Dad.” Dia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap sosok cantik yang berada di rengkuhannya. “Aku ha—”


Belum sempat Delavar mengucapkan semuanya, Amartha sudah memotong terlebih dahulu. “Aku sudah Mendengar semuanya, suara kalian terdengar hingga ke telingaku.”


“Oh, baguslah. Malam ini kita ke Belanda, kau mau ikut denganku? Aku harus menghadiri acara penting di sana yang tak bisa diwakilkan siapap—”

__ADS_1


Amartha meletakkan telunjuknya di bibir Delavar agar berhenti berbicara karena dia sudah tahu dan mendengar semua pembicaraan antara calon suami dan mertuanya. “Pergilah, aku di sini saja.”


“Ikut denganku, Amartha. Aku tak tenang jika meninggalkanmu sendiri di sini,” ajak Delavar dengan tatapan matanya yang sangat memohon.


Amartha mengelus rahang tegas pria itu dan tak lupa mengulas senyumnya. “Aku akan menunggu kepulanganmu. Ingat, kita harus saling percaya satu sama lain, aku tak akan melakukan apa pun yang berbahaya dan akan menyambutmu dengan gembira saat kau pulang nanti.”


“Kau serius tak mau ikut denganku?” tanya Delavar memastikan sekali lagi.


Dan dijawab anggukan kepala oleh Amartha.


Delavar sedikit kecewa karena calon istrinya tak mau ikut dengannya. Tapi yasudahlah, apa boleh buat. Dia kembali menempelkan ponsel ke telinga. “Oke, malam ini aku berangkat ke Belanda. Tapi besok malam atau lusa dini hari sebelum fitting baju, aku harus pulang ke Finlandia,” setujunya dengan memberikan syarat.


Delavar menghembuskan napasnya pasrah. Dia tak rela pergi tanpa Amartha, tapi wanitanya tak mau ikut.


“Aku siapkan keperluanmu, ya?” tawar Amartha seraya mengurai pelukan Delavar.

__ADS_1


“Buru-buru sekali, ini masih siang dan aku berangkatnya nanti malam.” Delavar kembali menarik tubuh calon istrinya yang hendak meninggalkannya.


“Supaya nanti malam kau bisa cepat pergi,” celetuk Amartha.


Membuat Delavar menaikkan sebelah alisnya. “Kau seperti mengusirku dari apartemenmu. Kenapa?” Dia merasa ada yang aneh dengan wanitanya yang seperti menginginkan dirinya buru-buru pergi.


“Ha? Ti—tidak, aku hanya takut kau terlambat saja,” kilah Amartha. Dadanya berdebar karena takut ketahuan jika memiliki maksud terselubung.


“Tenang, aku naik pesawat sendiri, jadi bisa terbang jam berapapun asal cuaca bagus.”


Waktu terus bergulir hingga malam pun tiba. Amartha sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Delavar, sedangkan pria itu baru saja siap dengan baju rapi.


“Aku antarkan sampai ke bandara.” Amartha berinisiatif sendiri. Dia tak ingin terlalu kelihatan jika memang menginginkan waktu seorang diri untuk bertemu dengan Christoper besok siang.


...*****...

__ADS_1


...Pasti pada bingung kan, kok ga ketemu-ketemu. Si Amartha sama Christoples kan teleponan tengah malem, artinya jam dua belasanlah kira-kira. Itu udah masuk beda hari, dan besok itu artinya ya bukan di hari itu....


...Misal teleponan hari senin tengah malem, ya besoknya berarti selasa. Na itu mereka berdua kan pergi ke mall pas di hari Amartha sama si Christoples teleponan. Begitu bestie....


__ADS_2