I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 125


__ADS_3

Amartha segera membekap mulut Delavar saat pria itu mulai mendesah ketika mencontohkan adegan intim menggunakan mainan orang dewasa. Apa lagi sampai membuat beberapa karyawan yang menjaga toko itu sampai menatap ke arah mereka. Bagaimana bisa tidak malu jika seperti itu?


Tangan Amartha merebut dua mainan tersebut dan meletakkan lagi ke tempat semula. “Ayo bayar dan pergi dari sini jika kau sudah selesai membeli yang diinginkan,” ajaknya agar calon suaminya tak semakin menggila.


Amartha menarik tangan Delavar untuk menuju kasir. Menaruh puluhan kotak kecil yang mana akan menjadi pelindung calon suaminya itu agar tak kelepasan menghamilinya sebelum enam bulan setelah peluruhan embrio.


“Totalnya empat puluh euro,” ucap petugas kasir itu.


Amartha hendak mengeluarkan kartu yang tadi diberikan oleh Delavar. Tapi, pria yang berdiri di sampingnya sudah memberikan selembar uang seratus euro pada petugas kasir.


“Pakai ini saja,” tutur Delavar saat membayar tagihan belanjanya.


“Loh, kenapa kau membayar sendiri? Kartumu kan ada di aku,” omel Amartha.


Delavar justru menunjukkan isi di dalam dompetnya pada Amartha. “Yang ku beri padamu hanya satu, di sini masih banyak sisanya.”

__ADS_1


Mata Amartha bisa melihat jika ada sekiranya sepuluh kartu berwarna hitam dengan logo bank yang berbeda-beda, dan beberapa diantaranya adalah bank di luar negeri. Memang bukan main orang kaya satu ini.


“Kalau tagihannya di bawah seratus euro, lebih baik membayar menggunakan uang cash saja,” beri tahu Delavar seraya tangan itu mengambil papperbag berisi belanjaannya.


Kedua orang itu keluar dari toko peralatan dewasa. Tentu saja yang membawa papperbag adalah Delavar. Dia tak malu menenteng belajaan itu, walaupun sudah pasti semua pengunjung di sana mengenalnya.


“Mau makan dulu?” tawar Delavar. Ternyata hanya berjalan-jalan di dua toko sudah menghabiskan waktu satu jam setengah. Dan perutnya saat ini sedang kelaparan.


“Tidak, kita pulang saja, ya? Makan di apartemen. Nanti aku yang memasak,” tolak Amartha dengan memberikan opsi lain.


“Kita belanja dulu, bahan-bahan di apartemen sudah menipis,” ajak Amartha.


Keduanya pun mengayunkan kaki menuju supermarket. Membeli kebutuhan sehari-hari.


Setelah mendapatkan semuanya, Delavar dan Amartha kembali ke apartemen.

__ADS_1


“Kau bisa membawanya sendiri?” tanya Amartha saat melihat bagasi mobil Delavar penuh dengan papperbag. “Sini, biar aku bantu.” Dia berinisiatif memberikan penawaran saat calon suaminya itu hendak membawa semua sendirian.


“Tidak perlu, Sayang. Aku bisa sendiri,” tolak Delavar. Dan kini kedua tangannya penuh dengan belajaan. Rasanya sudah seperti suami istri sungguhan, padahal masih ada dua minggu lagi menjelang pernikahan.


“Tolong tutup bagasinya,” pinta Delavar yang tak bisa leluasa menggerakkan tangan. “Sekalian kunci mobilnya, kuncinya ada di saku celana.”


“Tanganku masuk kantung celanamu, jangan mendesah lagi,” peringat Amartha agar tak ada suara erotis yang keluar dari bibir Delavar.


“Jangan salah menyenggol alat yang sering aku mainkan jika tak mau aku mengeluarkan suara seperti tadi,” kelakar Delavar.


Tangan Amartha meraba dengan hati-hati agar tak menyentuh sesuatu yang bisa mengeras. Tapi tetap saja, namanya juga Delavar, si pria iseng.


“Uh ....” Keturunan keluarga Dominique yang satu itu tetap saja menggoda calon istrinya.


Dan seketika itu juga Amartha melotot, padahal dia tak melakukan apa pun atau menyentuh alat vital Delavar. “Kuncinya sudah di luar, untuk apa kau mendesah?” tegurnya.

__ADS_1


Delavar hanya bisa terkikik sendiri. “Ku kira kau masih mencari di saku celanaku.”


__ADS_2