I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 140


__ADS_3

Saat perjalanan menuju hotel untuk mengambil barang-barangnya, Delavar segera menghubungi Roxy setelah panggilan pada Amartha tak diangkat.


Tak butuh waktu lama untuk orang kepercayaan Delavar mengangkat telepon.


“Roxy!”


“Tuan.”


Kedua orang itu menyapa secara bersamaan.


“Kau dulu!” titah Delavar.


“Saya sudah melaporkan keseharian Nona Amartha melalui voice note pada Anda karena sedari tadi telepon tak diangkat. Apakah sudah didengarkan?”


“Belum, kau laporkan saja sekarang. Apa yang dilakukan calon istriku selama aku tak ada?”


“Nona Amartha aman dari bahaya apa pun. Dia tidak lecet, sakit, ataupun terjadi sesuatu yang membahayakan.”


“Bagus.”


“Apakah Nona Amartha izin pada Anda jika menemui seseorang?”

__ADS_1


“Tidak, memangnya siapa yang dia temui?”


“Christoper, pria yang menghamilinya.”


“What?” pekik Delavar. “Bagaimana bisa kau membiarkan mereka bertemu?”


“Anda hanya memberikan perintah padaku untuk menjaga dan mengawasi Nona Amartha, bukan melarang agar tidak bertemu dengan siapapun.”


Delavar berdecak. Memang benar-benar Roxy itu sangat menuruti perintah. “Lanjut, apa yang mereka bicarakan?”


Roxy pun menceritakan semua percakapan yang diam-diam dia dengar antara Amartha dan Christoper.


Delavar langsung mengepalkan tangan dan menendang jok depan yang diduduki oleh sekretarisnya. “Keparat! Pria itu masih saja berani mengusik dan bertemu dengan Amartha! Sial! Sekarang di mana calon istriku itu?”


“Oke, pastikan Amartha tetap aman dan untuk kali ini jangan sampai dia bertemu dengan orang lain, kecuali keluargaku!” titah Delavar lebih merincikan tugas lagi.


Panggilan pun terputus. Delavar segera meminta supir untuk melaju lebih cepat agar sampai ke hotel. Dan pria itu buru-buru menuju kamar, mengemasi semua barangnya. Dia tak memperdulikan sekretaris yang tidak bisa mengimbangi kecepatannya.


Delavar sudah keluar lagi dari kamar hotel, barulah Maureen sampai di hadapannya. “Kau pulang sendiri pakai pesawat komersil, aku tak ada waktu untuk menunggumu berkemas,” tegasnya dan langsung berjalan.


“Saya tidak perlu mengemasi apa pun, Tuan. Karena semua barang sudah dibawa semua.” Maureen mengikuti langkah kaki tuannya.

__ADS_1


Dan Delavar tak peduli. Dia hanya ingin segera sampai ke Helsinki.


Setelah menempuh perjalanan udara, akhirnya sampai juga di ibu kota negara Finlandia. Selama perjalanan itu Delavar tak tenang karena memikirkan Amartha yang mengetahui keterlibatannya dalam masa kelam wanita itu. Entah apa yang akan calon istrinya lakukan saat dia sampai di mansion nanti.


Buru-buru Delavar turun dari jet pribadi keluarga Dominique. Sudah ada supir yang menjemput.


Delavar menghubungi Roxy lagi untuk memastikan keberadaan calon istrinya. “Amartha masih di mansion?”


“Iya, Tuan. Nona Amartha tidur di kamar Anda. Dan lampunya baru saja menyala.” Roxy memantau dari luar bangunan utama tapi masih berada di dalam wilayah mansion Dominique.


“Oke, tolong segera kabari jika dia terlihat pergi.”


“Baik.”


“Tolong lebih cepat!” titah Delavar pada supir keluarganya. Dia sudah tak sabar ingin menjelaskan semua pada Amartha agar tak ada kesalah pahaman. Kacau sudah rencananya yang ingin jujur pada wanita itu saat sudah menikah agar ada ikatan terlebih dahulu. Christoper benar-benar harus diberi peringatan lagi.


Dengan langkah lebar, Delavar mengayunkan kaki secepat kilat. Segera menuju lantai dua dan berhenti sebentar di depan pintu besar kamarnya. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan. Saat ini dadanya sedang berdebar.


Setelah dirasa tenang, Delavar memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya di mana Amartha semalam istirahat.


...*****...

__ADS_1


...Kok aku yang nulis malah deg-degan sendiri. Temenin dong, gak enak banget sendirian Wkwkwk...


__ADS_2