I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 128


__ADS_3

Kepergian Delavar ke Belanda untuk waktu satu hari adalah peluang bagi Amartha bertemu Christoper tanpa harus memikirkan bagaimana cara keluar diam-diam. Dia bukannya tidak ingin bercerita dengan calon suaminya itu, pasti akan disampaikan perihal si rambut keriting tersebut mengajaknya ketemuan untuk memberi tahu alasan berbuat keji padanya. Tapi, nanti setelah pertemuan terjadi dan Amartha tahu atas dasar apa pria yang tak dikenal menyetubuhi hingga hamil bahkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Hari sudah gelap di luar sana saat Amartha hendak mengantarkan Delavar ke bandara. Biasanya pasangan itu tak pernah memakai supir, tapi kali ini keturunan keluarga Dominique menghubungi Roxy untuk datang ke apartemen guna mengemudikan mobil sekaligus menjaga calon istrinya agar tetap aman.


Delavar, Amartha, dan Roxy turun dari kendaraan Mercedes Benz berwarna hitam doff. Roxy membawakan koper kecil berisi seluruh kebutuhan sang tuan. Sedangkan sepasang calon suami istri berjalan bergandengan tangan memasuki area bandara.


“Paspormu tidak lupa, kan?” tanya Amartha memastikan sekali lagi.


Delavar membuka tas kerjanya yang ditenteng sendiri, melihat sebuah buku kecil yang harus dibawa kemanapun saat pergi ke luar negeri. “Sudah, Sayang,” jawabnya sembari mengusap puncak kepala Amartha.


Ketiga orang itu check in agar bisa masuk hingga ke area dalam bandara. Amartha ingin memastikan jika Delavar masuk ke dalam jet pribadi milik keluarga Dominique.

__ADS_1


“Kau kapan pulang?” tanya Amartha sebelum membiarkan Delavar masuk ke dalam burung besi yang ada di hadapan matanya.


“Lusa dini hari, aku pastikan saat fitting sudah berada di Finlandia.” Delavar merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Amartha. Rasanya dia tak ingin berpisah seperti ini. Melingkarkan tangan ke pinggul sang wanita, Delavar melabuhkan ciuman sebentar untuk mengisi energi.


Ciuman itu berlangsung dalam waktu satu menit. Bahkan Roxy menyaksikan kemesraan tersebut dengan datar.


“Hati-hati, aku pasti akan sangat merindukanmu,” ucap Amartha setelah tautan bibir selesai.


Mata Delavar beralih menatap ke arah Roxy. Tak ada suara yang keluar, tapi dengan sorot mata dia berkomunikasi.


Roxy sudah paham dengan maksud tuannya yang ingin berbicara dengannya empat mata. “Nona, tolong tunggu di sini sebentar, saya akan mengantarkan koper Tuan Delavar terlebih dahulu,” pintanya sebelum mengayunkan kaki mengikuti anak ketiga keluarga Dominique itu.

__ADS_1


“Pergilah.”


Roxy pun menyusul Delavar yang sudah berhenti di depan tangga untuk menaiki jet pribadi yang bertuliskan Triple D Corp dan juga Dominique Family. Dia yakin ada sesuatu yang ingin disampaikan tuannya. “Ada apa, Tuan?” Pertanyaan langsung meluncur setelah dirasa jarak dengan Amartha lumayan jauh.


“Tolong kau awasi Amartha, laporkan padaku ke mana dia pergi, dengan siapa bertemu, dan jangan lupa dengarkan pembicaraannya juga. Yang pasti jaga jangan sampai terluka,” titah Delavar seraya mengambil alih koper kecilnya.


“Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona Amartha dua puluh empat jam sampai Anda pulang.”


“Bagus, tapi jangan sampai ketahuan jika kau memantau dia. Aku tak ingin dianggap posesif dengannya,” peringat Delavar. Tangan kekar itu memberikan tepukan di pundak pria yang sering dia repotkan.


Setelah memberikan perintah, Delavar berbalik badan menatap Amartha yang tengah berdiri tegak ke arahnya. Dia melambaikan tangan, lalu menaiki anak tangga memasuki jet pribadi keluarga Dominique.

__ADS_1


__ADS_2