
"Ehem... Kelihatanya ada yang sedang galau nih" ucap ryujin.
"Paman, kenapa paman kesini?" ucap dragon.
"Ah... Aku kebetulan lewat" ngeles.
"Oh..." lesuh sekali.
"Ah... Dragon, aku ingin tanya sesuatu" ragu ragu.
"Tanya apa paman?" lesuh sekali.
"Kenapa dragon lesuh sekali jawabnya, apa benar dia..." bicara dalam hati.
"Em... Apa kau suka sama kasturi?"
Tessss... Dragon terkejut.
"Apa... Aku suka dengan dia, yah... Tid... ak... Lah, mana mungkin" ngeles.
"Hah... Apa aku akan tertipu dengan perkataan itu, jelas jelas kau suka dengan dia, tapi kau malah menyembunyikannya" bicara dalam hati.
"Hahaha... Terus kenapa kau murung terus, hy! Coba kau lihat diluar sana banyak wanita wanita yang suka dengan kamu, bahkan cantik cantik, gembiralah..."
"Hahaha... Iya juga ya"
"Em... Ah!, aku ada ide" ucap yusi dalam hati.
Yusi bergegas menemui kakak dan pamannya.
"Paman, kakak aku punya permohonan!"
"Ah... Apa yang mau kau inginkan" ucap ryujin.
"Yusi, kau ada permohonan apa?" ucap dragon.
Yusi.
Membisikan permohonannya.
"Hahh... Apa..." ryujin dan dragom terkejut.
"Azuu... Bagaimana dengan tugasmu, apa kau sudah menyelesaikannya?" ucap ayah ibunya.
"Em... Belum ibu, aku belum ada kesempatan"
"Ah... Cepat lah kau selesaikan tugasmu"
"Em... Baiklah ibu, aku akan menyelesaikan dengan cepat"
"Amoo apa kau melihat perubahan pada tuan"
"Em... Ya"
"Hah... Cinta itu mengubah segalanya, ya"
"Iya, tapi..."
"Tapi apa?"
"Apa tuan bisa!"
"Ah... Iya juga meragukan"
"Tuan harus berjuang keras"
"Ah... Iya... Bagaimana kalau kita bantu tuan"
"Bantu apa?"
Zahu membisikan rencananya...
"Ah... Kau gila sempat ketahuan, tamat riwayat kita, tidak ah..."
"Tidak apa... Ini demi tuan"
Amoo mikir mikir.
"Ah... Baiklah, tapi jika ada masalah aku tidak mau terlibat"
"Baik lah aku yang akan tanggung jawab"
__ADS_1
"Tapi apa yang dilakukan tuan ya" zahu penasaran.
"Jangan mikir yang tidak tidak, tuan mungkin..."
"Mungkin apa?, intip yuk"
"Intip, cari mati ya"
"Halah... Ayolah..." zahu menarik tangan amoo.
Mereka
Berdua mengintip tuannya.
Mereka berdua memanjat pohon didekat ruangan itu.
Zahu mengeluarkan kekuatannya.
"Tembus pamdang"
Tiba tiba ruangan itu menjadi transparan, sehingga amoo dan zahu bisa melihat.
"Apa..., waw" mereka berdua terkejut.
"Tuan... Anda..."
"Ternyata..."
Mereka berdua tak menyangka kalau tuan mereka....
Tidak melakukan apa apa, hanya meminjamkan bahunya untuk ku bersandar tidur.
Dan candis pun sebentar tidur, sebentar terbangun, seperti nya candis terjaga.
"Tuan... Berusahalah" ucap amoo
"Tuan... Benar benar tidak melakukan hal yang tidak tidak" ucap zahu.
"Ah... Tuan menaga kesuciannya ya!, hebat sekali"
"Hy! Apa sudah selesai kalau sudah selesai maka ayo turun, jangan terlalu lama, nanti kita ketahuan"
Ya... Akhirnya mereka turun dan kembali ketempat masing masing.
Hari pun pagi.
"Apa kau terjaga semalaman, dan kau menjaga ku semalaman"
Candis yang tertidur dengan Lelap...
"Ah... Aku tertidur dipangkuanya apa dia tidak merasa pegal, ya"
"Selama semalam dia tertidur dengan posisi seperti ini"
Aku mencoba bangun saat aku bergerak
Tiba tiba...
"Ah... Dia terbangun" terkejut.
"Em... Ternyata hari sudah pagi,
Ah... Aku ketiduran, eh..." bengong.
"Dekat sekali" bicara dalam hati.
Sama sama bengong.
"Ah..." aku bergegas menjauh, dan
Kami saling memalingkan muka karena malu.
"Kepalaku masih sakit," bicara dalam hati.
Tap... Tap... Candis melangkah menujuku.
Sedangkan aku mundur samapi kepojok, aku tak bisa pergi lagi.
Sedangkan candis semakin mendekat.
"Apa yang ingin dia lakukan" bicara dalam hati.
"Kenapa kau menjauh?" dia memegang kepalaku.
"Apa kepalamu sakit"
__ADS_1
"Iya, bahkan perutku mual"
"Tahan sedikit, aku akan mencoba menyembuhkannya"
Sessss.. Kekuatan candis keluar, candis mencoba menyembuhkan.
"Agh... " aku mencoba menahan sakitnya.
"Apakah masih sakit"
"Yah... Lumayan"
"Ternyata benar aku, tidak jagi dalam mengobati"
"Ah... Tidak buruk juga kau Hanya perlu lebih usaha keras saja"
"Iya, kau benar juga"
"Em... Semalam aku kenapa ya, dan kenapa aku bisa ada disini" benara benar lupa.
Tiba tiba...
Tok... Tok... Suara ketukan pintu.
Kreet... Suara pintu terbuka.
"Tuan... Apa anda di..." pengangu.
"Dasar penganggu kau tak lihat aku lagi sibuk" bicara dalam hati, menatap dengan tajam.
"Ah... Maaf mangangu," bergegas keluar,
"Ah... Apa yang kau bicarakan tadi?"
"Em... Aku Em... Semalam aku kenapa ya, dan kenapa aku bisa ada disini?"
"Itu..."
"Tuan... Lagi ngapa tuh, cie... Pagi... pagi... Sudah berduaan aja" ucap zahu.
Zahu tiba tiba datang.
"Hey!, zahu jaga omongan mu"
"Kok... Kezel ya!" guma candis dalam hati.
"Wah... Nona kenapa pagi pagi sudah ada disini?, jangan jangan kalian..."
"Zahu..." candis mulai marah.
"Ah... Aku hanya becanda tuan ada yang ingin aku sampaikan"
"Kenapa tidak nanti aja"
"Tidak bisa tuan, ini penting sekali"
"Kalau begitu aku pergi dulu"
"Em... Baiklah, amoo antarkan kasturi" ekpresi candis berubah.
"Ah ... Tidak apa apa aku bisa sendiri"
"Apa kau tau jalan untuk kembali"
"Itu..."
"Udara dingin diluar" memakaikan jubah.
"Ayo nona... Saya antarkan" ramah...
Aku pun keluar dari tempat itu dan amoo mengantarku.
"Em... Nona apa aku boleh bertanya sesuatu"
"Apa itu?"
"Em... Menurut nona tuan seperti apa"
"Ah... Itu..."
__ADS_1
Hari pun mulai siang.