I'm to go world fantasy

I'm to go world fantasy
Episode 51


__ADS_3

Melihat qiqi yang mual mual... Semua mata tertuju kepadaku.


"Ah... Jangan jangan dia...", guma zahu dalam hati.


"Nona, tidak mungkin kan kalau wanita itu...", guma amoo dalam hati.


Candis diam seribu bahasa.


"Ah... Aku akan memeriksa qiqi dahulu, kalian makanlah dahulu", ucap nyonya.


"Biasanya kalau perempuan seperti itu,


Tidak salah lagi...


Jangan jangan...", ucap tabib mo.


"Kenapa perasaan ku tidak enak ya, jangan sampai... Jangan sampai qiqi!", gumaku dalam hati khawatir.


"Jangan jangan apa guru", tanya amoo.


"Ah... Kau ini paham paham saja lah", gurau tabib mo yang berlebihan.


"Apa... Maksudmu, hum...", ucap zahu memegang perutnya .


Tabib mo menganguk anguk.


Zahu dan amoo melirik tuannya.


Sedangkan aku hanya terdiam saja mendengar ucapan mereka.


"Sudahlah... Biarkan nyonya yang urus,


Ayo semua makanlah...


Rio makanlah dahulu nanti baru kau lihat keadaan istrimu,


Semoga saja hum...", ucap tabib mo.


"Haha...", tawaku cemas.


Aku manganguk angukan kepala dan kami makan, makanan yang disediakan.


Setelah makan aku


Aku pergi menemui qiqi, saat aku sampai ditempatnya ternyata qiqi sudah tertidur, dan aku bertanya kepada nyonya yang masih berada disana.


"Em... Nyonya, apa qiqi baik baik saja", tanyaku.


"Tenang lah, dia baik baik saja", jawab nyonya.


Dan aku bertanya lagi.

__ADS_1


"Ah... Apa dia ha... Hamil", tanyaku tergagap gagap.


"Wah... Wah... Kelihatanya ada yang tidak sabar jadi seorang ayah", canda nyonya.


"Kau sudah mengharap menjadi seorang ayah, bagaimana mungkin itu terjadi


Sedangkan kalian saja tidurnya terpisah bagaimana,


Hah... Mulai sekarang kau tidur disini,


Bersama istrimu", tegas nyonya.


"Baik,


Jadi qiqi...


Ah... Maksudku istriku tidak hamil?", aku bertanya lagi.


"Hah... Tidak, dia hanya masuk angin dan kelelahan mungkin beberapa hari ini penginjung toko semakin ramai, sehinga membuat nya lelah, jadi biarkan dia istirahat nanti juga akan sembuh", jelas nyonya.


Setelah itu nyonya langsung pergi meningalkan tempat kami dan aku duduk didekat qiqi dan menarik napas panjang,


Sambil mengusap usap Kepalanya.


"Syukurlah...", ucapku tersenyum.


"Bagaimana kabar candis ya, apa yang dia lakukan sekarang", tanyaku dalam hati.


Sedangkan candis, amoo, dan zahu


"Tuan... Aku tidak habis pikir kalau nona akan mempunyai anak", ucap amoo lemas.


"Wakti kita datang kesini saja sudah dibuat kejut dengan pernikahan, sekarang kehamilan", ucap zahu lemas.


"Apa kita pulang saja ya, tuan


Nona sudah menemukan hidup baru", ucap amoo lemas.


Candis hanya terdiam termenung memikirkan masalah ini, dan candis pergi keluar dari kamarnya.


Sedangkan tabib mo.


"Jadi qiqi tidak hamil", ucap tabib mo terkejut.


"Iya... Dia hanya masuk angin dan kelelahan saja", jawab nyonya.


"Aku kira aku bakalan mengendong anak bayi", ucap tabib mo sedih.


"Yah... Aku juga berharapnya gitu juga", ucap nyonya sedih.


"hah... perlu udara segar nih!", ucapku menghela napas.

__ADS_1


aku pun keluar dari rumah mencari udara segar


saat sampai di depan danau aku melihat...


"hy!, apa kau hira


benarkan hira", pangilku.


dia pun berbalik badan melihat siapa yang memangilnya.


"iya, saya hira


sunior kenapa ada disini", jawab hira.


"ha... kau pangil aku sunior" ucapku mendekatinya dan duduk disampingnya.


"iya, apa aku tidak boleh memangil sunior kepadamu", ucap cadis lemah.


"em... bukanya tidak boleh sih,


lebih baik pangil namaku saja,


aku jadi malu dipangil sunior, padahal ilmuku baru sedikit", ucapku.


"ngomomg ngomong kenapa kau lemah sekali, apa kau sakit


atau kau ada masalah", tanyaku.


"iya!", jawab candis.


"aku juga ada masalah yang membebani pikiranku", ucapku sedih.


"aku juga sama", ucap candis.


"hem... apa masalah mu", tanyaku.


"saat dia ada disisiku hati sungguh senang, dan saat dia tidak ada perasaanku seperti hancur,


sebenarnya perasaan apa itu?", tanya candis.


"kekasih mu ya,


mungkin itu perasaan cinta, dan kasih sayang,


apa kau mencarinya sampai kesini?", ucap dan tanyaku.


"iya, aku mencarinya dan ingin membawanya pulang", ucap candis.


"andai saja candis juga mencariku...


hah... mana mungkin dia mencariku", gumaku dalam hati.

__ADS_1


"apa kalian bertengkar samapi sampai dia pergi meningalkan mu", tanyaku.


"hanya salah paham saja", jawab candis.


__ADS_2