
Pada malam harinya.
Setelah kejadian itu, kami dan minotaur berpisah, aku dan candis kembali kepenginapan, sesampainya dikamar, saat samapi aku langsung membersihkan diriku, tampa melihat lihat keadaan candis,
Berapa menit kemudian setelah aku membersihkan diriku, aku melihat candis yang duduk dihadapanku ia menatapku denagan mata berkaca kaca, melihat itu aku kebingungan aku berdiri bengong melihatnya, mata candis berkedip kedip seperti memberi kode,
Aku tidak tau maksud dari kedipan mata itu, berkali kali candis mengkedip kan matanya, aku hanya diam belongo melihatnya, karena kesal aku tidak memahami kode tersebut candis pun berdiri dengan muka yang serius berjalan mendekatiku, karena muka candis yang serius aku melangkah mundur dengan perlahan lahan, sampai sampai aku terpojok didinding aku tak bisa lari lagi,
Aku mau lari kesamping, tapi tatangan candis menghalangi mau kesisi lainnya juga sama.
"Kau mau apa?," tanyaku dengan gugup.
Candis hanya diam tidak menjawab pertanyaanku
Malah dia membuka bajunya dihadapanku dengan tatapan mata yang serius.
"Kau mau apa,? jangan macem macem candis," ucap ku dengan nada yang tinggi.
Saat candis membuka bajunya melihatkan tubuhnya, aku diam melongo kebingungan melihat tubuh candis.
"Bagaimana bisa..." gumaku kebingungan.
Tes... Tes... Darah ditubuh candis mengalir keluar dan berjatuhan kelantai.
Dengan pelan candis bertanya
"Apa kau tidak khawatir kepadaku,"
"Tidak..." jawab ku dengan spontan.
__ADS_1
"Jadi yang tadi itu kode mata itu...
Oh... Jadi dia minta diperhatiin rupanya," gumaku baru menyadari.
"Kenapa? Bukankah aku terluka," tanya candis dengan wajah yang serius.
"Bukankah kau bisa menyembuhkan lukamu, untuk apa aku khawatir,
Kecuali kau benar benar tidak bisa menyembuhkan diri, atau dalam keadaan yang lemah tak bisa ngapa ngapa" jawabku.
Wajah candis berubah draktis menjadi pucat.
"Apa benar yang dia katakan, kalau dia tidak khawatir demenjawab.Hem... Perlu dibuktikan," guma candis tersentum tipis, merencanakan sesuatu.
Spontan candis langsung terjatuh dengan lemahnya, aku yang melihat itu langsung menghampiri candis, dengan khawatirnya.
"Candis... Candis... Kamu tidak apa apa?," ucapku sampai meneteskanair mata.
Guncang tubuh candis.
Aku mencoba mengangkat tubuh candis dengan susah payah membawanya ketempat tidur, lalu aku membersihkan luka luka yang ada ditubuh, candis setelah itu baru diobati.
Saat aku lengah candis membuka matanya mengintaiku, saat aku melihat kembali kearah candis, tapi matanya malah tertutup.
"Perasaan ku tadi matanya seperti terbuka," gumaku mendekati candis sambil mencolek pipinya.
Tiba tiba...
Candis menarik tanganku langsung memelukku dengan berkata.
__ADS_1
"Katanya tidak khawatir dengan ku,"
Jantungku berdebar kencang, mukaku memerah dan hawa diruangan ini terasa semakin panas.
"Can.... Candis... Lepaskan aku," pintaku.
Candis tidak menjawab.
"Candis ," pangilku dengan nada yang mulai memberontak.
"Dari matamu sudah ketahuan sekali kalau kau khawatir kepadaku, tapi kenapa kau menyembubyikannya," guma candis.
"Matamu itu memberitahuku kalau
Kau mengkhawatirkanku, terimakasih atas perhatianmu dan khawatir mu kepadaku," ucap candis dengan pelan.
"Iya, tapi..." jawabku terputus putus.
"Tapi kenapa?," tanya candis.
"Lepaskan aku...," pintaku dengan muka yang memerah.
"Kenapa?," tanya candis sekali lagi.
Mendengar pertanyaan itu aku mulai emosi, ngelantur tak jelas
"Jangan pemer otot, pakai bajumu sana..." teriaku sambil mendorong tubuh candis.
Sontak Candis melepaskan pelukannya, aku langsung pergi menghindar darinya dengan muka yang memerah, sedangkan candis hanya tersenyum tipis dan berkata dalam hatinya.
__ADS_1
"Ternyata kau pemalu juga,
Semakin tertarik aku denagn dirimu, kesturi ..."