
Disebuah desa monoton aku memandang makhluk itu dengan mata yang mohon pengampunan, tapi makhluk itu menatapku seperti mau memangsaku hidup hidup.
"Ah... Maaf aku tidak sengaja," ucapku dengan baik baik, sambil tersenyum lebar.
Gumaku dalam hati " mati aku...,".
"Hihi... Adik manis main tabrak tabrak aja, kalau mau suka sama abang bilang aja,"
"idihhh... geer ni makhluk," gumaku mencibir.
Makhluk itu mendekatiku tangan tanganya yang kotor itu ingin membelai rambutku,
"Kalau dia sempat menyentuhku, ku banting sempai tulang rusuknya patah," gumaku menyiapkan kuda kuda untuk menyerang.
tiba tiba
Syatt... Tap... Ada yang menarik tanganku, dan membawa aku pergi menjauh dari makhluk itu.
"Hey... mau kana kau jangan kabur kau," teriak mahluk yang mengerikan itu.
__ADS_1
makhluk itu dan anak buahnya mengejar kami, dengan cepatnya.
"Percepat langkah mu, mereka semakin mendekat," teriak pria yang membawaku kabur.
"Kau yang membawa aku lari, aku sudah berlari semampuku," jawabku teriak.
Kami berlari kearah keramaian, bahu bahu makhluk itu terpaksa kami tabrak, sedangkan makhluk yang mengejar kami lebih parah lagi, dia sampai Sampai mengeluarkan kekuatanya, makluk yang disekitarnya yang kecil kecil itu terkipai jauh, dan ada juga yang terjerungkup.
"Ha... Dia memakin dekattttt...," teriaku.
Haa... tiba tiba Peria yang membawaku lari langsung mengedongku, ia mengunakan kekuatanya berlari dan melompat dari satu atap rumah ke rumah lainnya, dari satu pohon ke pohon lainnya seperti shinobi saja.
"Bodoh amat jika aku berhenti sama saja aku menyerahkan diri, tangkap saja kalau dapat, bleee...," ejeku kepada makhluk itu.
Eeeegg... Makhluk itu semakin cepat mengejar.
"Haaaaaa...., dia semakin dekat, dia semakin dekat," teriaku mengengam erat bahu peria itu.
"Aaa... Jangan gengam bahuku terlalu kuat heeyy...," sahut peria itu.
__ADS_1
"Bisakah kau lebih cepat lagi," teriaku memekakan telinganya.
"Jangan banyak komen," teriak peria itu balik.
Peria yang membawaku lari ini terus berlari dengan cepat menjauh dari keramaian, dam makhluk itu tidak lagi kelihatan mengejar.
"Hahhhh... Kau kulepaskan kali ini, tapi kalau bertemu lagi jangan harap akan aku lepaskan," guma makhluk yang mengejar kami tadi, makhluk yang besar berotot bola matanya bagaikan Mangkok bakso, mukanya kecil, bibirnya tebal bagaikan disengat lebah, gak punya rambut alias botak licin, telinganya bagaikan telinga gajah, kakinya pendek, tanganya panjang, perutnya gendut, pokoknya jelek, masih tampanan minotaur lagi.
"Em... Ngantuk sekali," aku yang mulai mengantuk menguap dengan lebar lalu aku tertidur dibahu peria itu, peria itu terus berlari membawaku kesuatu tempat, tampa menghiraukan aku lagi ngapain aja dibelakang bahunnya.
Sedangkan candis sedang tertidur pulas memeluk guling dengan erat, ekpresi mukanya yang gelisah, peluh sebesar biji jagung membasahi keluar membasahi muka dan tubuhnya, dewa mimpi mungkin memberikan mimpi yang tak menyenagkan untuk candis, apa yang sebenarnya dimimpikan candis?,
"Kenapa kau menemuiku, pergi... Pergi...," tak sangka candis bisa mengigau.
Dalam mimpi candis ia bertemu dengan seorang wanita yang cantik mukanya tak tergambar jelas, ramnutnya dibelai angin, senyumnya manis sekali, ia memakai baju berwarna putih gemilap, yang berjalan mendekati candis, tanganya yang lembut itu membelai candis, dan memeluknya
dengan berbisik ditelinga candis "aku mencintaimu,"
"Pergi...," teriak candia terbangun dari mimpinya, peluhnya yang sebesar biji jagung masih berkeluaran dengan banyaknya membasahi bajunya dan tempat tidurnya.
__ADS_1
Cadis terduduk, napasnya yang masih terhengah hengah terdengar jelas mimpi yang buruk kelihatanya, tanganya gemetar dan jantungnya berdetak kencang, entah petanda apa yang diberikan dewa mimpi kepadanya, siapa wanita yang ada didalamimpinya itu kenapa candis menyuruhnya pergi?, dengan pelan candis merebahkan kembali tubuhnya, pikirannya seakan akan kosong, suai saja ia tidak mencariku, tak lama ia tertidur lagi, mungkin efeknya masih ngaruh.