
Selama perjalanan yang panjang tak terasa hari sudah mau malam.
Pas sekali kami sampai disebuah kota, dan segera mencari penginapan.
"perjalanan hari ini jauh sungguh melelahkan, yah!" deska yang terbaring menatap ku yang berdiri didekat jendela melihat matahari yang akan terbenam.
"Apa tidak ada cara lain untuk bisa sampai disana dengan cepat," ucapku.
"Sudah aku bilang kan, tidak ada cara yang seperti itu, mau kau pergi mengunakan pegasus terbang sana sini tetap tidak ada gunanya kau akan kembali lagi ketitik awal, perjalanan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Kecuali..." Deska tidak melajutkan katanya.
"Kecuali apa?" tanyaku penasaran.
Deska: "Em... Bukan apa - apa, lupakan saja."
"Kalau bicara itu jangan separuh paruh, jangan membuat aku penasaran" betapa kesalnya jika lagi bicara dengan dia,
lah dia malah tidur.
"Kenapa kau malah tidur, hey! Bangun."
Pkak... Plak... Aku menampar mukanya cukup keras, aku kira dia akan bangun tapi ternyata dia tidak bangun juga.
"Hah... Aku harap ini cepat berakhir, aku ingin kembali kedunia ku, dimana tempat aku berasal," gumaku melamun, duduk diddekat jendela.
Mata ini terasa ngantuk dan mulai menutup, tahu tahunya ketika aku sadar aku sudah berada didalam kereta, dan dihadapanku ada dia yang lagi mengendalikan hewanya.
Deska: "kau sudah bangun!, lihat lah apa ini yang kau mau, cara cepat untuk sampai kesana."
"Dari mana kau dapatkan ini?" tanyaku.
Deska: "Ini miliku."
"Hewan apa pula itu?" tanyaku lagi.
Deska: "Aku memangilnya dengan sebutan redus, dia hewan yang mempunyai kecepat yah, lumayan, dan cerdik."
"Hewan penjaga," sangahku.
Deska: "Em... Seperti itu lah."
Hewan peliharaan Desaka yang unik, hewan ini memiliki tubuh seperti burung unta, bersayap lebar paruhnya kecil, berekor seperti merak.
"Apa kita akan sampai pada tempat tujuan, dengan cepat" tanyaku.
Deska: "Mungkin."
"Baguslah...
Kira - kira berapa hari?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Deska: "Em... Seminggu."
"Apa seminggu!, tak bisa lebih cepat lagi?"
Deska: "Hey! Ini sudah cepat, kalau berjalan bisa berbulan - bulan, masih mending aku punya cara ini, jangan perotes terus."
"Yayaya, maaf gak perotes lagi.
Em... Didepan sana kan laut, bagaimana lewatnya?" tanyaku.
Deska: "Hem... Pegangan yang erat."
Cepat aku mencari sesuatu yang dapat dipegang erat.
"Ah iya," aku baru sadar akan sesuatu "Batang."
Greep... Secepat mungkin aku meraihnya.
"Aaaaa!!!!.... Geh..." Tetiak Deska kesakitan. Aku berpegangan erat pada batang leher Deska, yang dipegang terbatuk-batuk susah bernapas.
"Ja-ng-an pe-ga-ng le-her-ku ju-ga. Agh..." Deska mendesah melepaskan kemudinya melepaskan tanganku.
Makhluk peliharaan aneh yang membawa kami telah terbang melintasi samudra yang luas, kami masih bertengkar diatas kereta.
"Hey! Bukanya kau suruh berpegagan pada yang kokoh, disini tidak ada lagi yang lebih kokoh dipegang dari pada lehermu," aku menyekak Deska.
Yang disekak tidak mau kalah, ikut menyekakku "iya tapi jangan leherku juga."
Aaa... Aku hampir saja terjatuh, untung tanganku cepat berpegangan dengan batang leher Deska.
Namun naas aku kami terjatuh dari kereta, sebab tidak sempat untuk menarik tali kemudinya.
Aaaa...
Syasss... Dap... Ada sesuatu yang keluar dari air dengan kecepatan kilat ia menangkapku, dan Deska memasang raut muka malas dalam hatinya bersorak 'Kenapa tidak ada yang menyelamatkannya'
Byurrr... Tubuh Deska menghantam air, tubuhnya hilang termakan air, sekejap ia kembali timbul dari air, menyembutkan air dari dalam mulutnya.
"Kasturi kau baik-baik saja." Sosok itu memanggilku, aku seperti kenal dengan sosok itu.
Ah... Tak salah lagi dia, dia Dragon pangeran kerajaan samudra yang beberapa waktu lalu aku berjumpa dengan dia, dia kelihatan berbeda dari sebelumnya. Apa perasaanku saja yang merasa kalau dia berubah.
"Lama tidak berjumpa, Kasruri" Dragon tersenyum menurunkanku dikereta dan menenagkan makhluk peliharaan Deska "Apa kabarmu?"
"Em... Kabrku baik" Sahutku memperhatikannya
"Bagaimana dengan kabarmu?"
Dragon kelihatan terkejut memelingkan wajahnya melihatku.
__ADS_1
Sontak aku kaget "Ada apa?"
Dia tersenyum lebar.
"Kanapa tersenyum?" tanyaku penasaran.
Dragon: "Em... Tidak kusangka kau menanyakan balik kabarku bagaimana?"
"Memangnya kenapa?" tanyaku lagi.
Dragon: "Ham... Aku jarang ditanyakan kabar, setiap yang berjumpa denganku belum tentu menanyakan kabarku."
"Em... Kenapa?" tanyaku lagi.
Dragon: "Entahlah."
Kami sibuk diatas berbincang-bincang tampa memperhatikan lagi dibawah kami Deska masih dibawah air, memasang wajah cemberut keluar dari air, terbang menaiki keretanya, menatap tajam Dragon "hey! Bisakah kau suruh prajuritmu yang lemah dan hina ini minggir."
Merasa dibilang demikian tentara Dragon menyiapkan ancang-ancan untuk menyerang.
Tapi Dragon tahan, kalau tidak ada Dragon mungkin kami sudah dipelasah habis-habisan oleh mereka.
Dragon: "Kalian mau pergi kemana?"
Deska: "Apa urusannya denganmu?"
Dragon : "Ah... Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu, mana tahu aku bisa membantu kalian."
Deska: "Simpan saja rasa belas kasihmu itu, aku tidak butuh."
Aku membantah Deska "Deska!!!"
Deska: "Apa?"
Aku melototinya, Deska terdiam mengalihkan pandangannya, mulutnya telipat-lipat geram.
"Haha... Dragon bisa kau birarkan kami untuk pergi." Pujuku.
Dragon: "Tidak bisa."
"Kenapa?" tanyaku.
Dragon: "Pertama dia tidak sopan bicara sesuka hati, menghina tentaraku, dan menolak bantuanku."
Hemm... Para tentara samudra mengengguk, mengiyakan perkataan pangarannya.
Cih... Cibir Deska.
"Aku mohon Dragon biarkan kami lewat, aku ada keperluan" aku memasang muka memohon belas kasih darinya, tetap percuma saja, Dragon tidak termakan, dia memang sudah berubah.
__ADS_1
"Emangnya kalian mau menghadang siapa?" tanyaku.
Dragon: "Kau."