I'm to go world fantasy

I'm to go world fantasy
Episode 54


__ADS_3

selama perjalanan aku selalu bertanya kepada nyonya.


"Hem... Nyonya kenapa kita dibagi bagi kelompaknya?" tanya kulici.


"Supaya kita bisa menemukan tanaman obat yang banyak dan jenis yang berbeda, karena gunung bagian barat dan timur itu memiliki jenis tanaman yang


Yang berbeda beda" jelas nyonya.


"Apa jauh jaraknya?" tanyaku.


"Tidak... Tenang aja" jawab nyonya.


Sedangkan tabib mo ketakutan karena satu kelompok dengan candis, selama perjalanan tabib mo hanya diam saja.


Setelah sekian lama perjalanan akhirnya sampai juga ditempat tujuan, saat kami sampai ditempat tujuan kami langsung mencari tanaman obat, yang telah diberi contoh, begitu juga dengan tim nya tabib mo, setelah sampai tabib mo mereka langsung mencari tanaman obat yang telah diberi contoh.


Saat kami mencari tanaman obat qiqi tak sengaja mencabut tanaman aneh, setelah tanaman itu dicabut tanaman itu mengeliat geliat seperti cacing sontak itu membuat qiqi terkejut dan berteriak.


"Aaaaa..."


Mendengar qiqi teriak aku langaung menghampirinya.


"Qiqi kamu kenapa?" tanyaku khawatir.


Sangking ketakutan Qiqi sampai sampai memeluku.


"Ada apa, tenang lah ada aku disini?" ucaku menenagkan dia.


"Itu..." tunjuk qiqi dengan tangan gemetar.


Saat aku melihat tanaman itu, aku pun merasa geli dengan


Tanaman utu karena tanaman itu seperti gabungan tanaman cacing, warnannya berwarna biru ke ungu unguan, dam mempunyai mata yang besar , berbulu dan berlendir.


Saat aku ingin menyentuhnya, tiba tiba saja tanganku ditahan oleh nyonya.


"Jangan pengang tanaman ini, tanaman ini beracun dan sangat mematikan," ucap nyonya.


"Seriusan ini tanaman?, kok aneh sekali bahkan hidup!" tanyaku kebingungan.


"Iya, namanya cetaflor dia jenis tanaman yang langka dan mematikan" jawab nyonya.

__ADS_1


"Lalu kita apakan tanaman ini?, apa kita bunuh saja?" tanyaku.


"Jangan dibalik dia mempunyai racun yang sangat mematikan, dia juga bisa menjadi obat mantra yang manjur, terutama untuk mu!" ucap nyonya.


"Untuk ku, maksudnya apa?" gumaku dalam hati.


Nyonya pun mengeluarkan kekuatanya lalu memasukannya kedalam wadah khusus yang disediakan.


Dan kami melanjutkan mencari tanaman obat lagi.


Tak terasa sudah tengah hari kami pun istirahat, lalu setelah istirahat kami melanjutkan mencari lagi tanaman obat, begitu juga dengan


tim nya tabib mo.


"Em... Tabib apa segini sudah cukup" tanya candis.


"Habis aku jika aku bilang ' ini terlalu banyak' " ucap tabib mo dalam hati.


"Ah... Iya ini sudah cukup" ucap tabib mo.


"Terus yang mana lagi, yang harus dicari?" tanya candis.


"Tanaman ini" tabib mo menunjukan contohnya.


Saat kami lagi asik asik mencari tanaman tak tersa hari sudah sore, nyonya dan kulici pulang mengantar keranjang yang penuh, rak lama mereka pergi, tiba tiba saja hari mendung kami mempercepat langkah kami menyusul nyonya dan kulici saat diperjalanan pulang menuruni gunug kami di giyur hujan yang deras sampai sampai membuat tanah yang kami lewati menjadi licin bahkan jalan yang kami lewati itu curam, tiba tiba saja...


Spas... Qiqi tergelincir dan terjatuh kejurang, tapi qiai berpegangan pada sebuah tunggu batu yang berada dijurang, dan tampa pikir panjang lagi aku langsung menolong qiqi saat aku menjulurkan tangganku, tiba tiba saja... Ada sebuah pohon raksasa


Yang ujung pohonnya seperti pedang itu, tumbang membuat tanah menjadi lonsor, melihat itu aku langsung mengeluarkan kekuatanku dan menyelamatkan qiqi tapi sayang. Tidak berjalan dengan mulus, ujung pohon yang tajam seperti pedang itu mengores punggungku, darah banyak keluar dari punggungku, membuatku sangat lemah, dan ditambah lagi dengan hujan yang deras membuat aku dan qiqi terjatuh kedalam jurang yang sangat dalam.


Brur... Kami terjatuh kedalam air,


"Aku tidak bisa berenang, tolong aku..." ucapku tak bersuara.


Aku semakin lama semakin jauh tengelam, dan tubuhku melemas, mataku seperti mau tertutup, sebelum tertutup aku melihat


Qiqi berenang kearahku menyelamatkanku, dan membawaku ketepian.


Dan qiqi melakukan penyelamatan dengan cara menekan nekan perut ku.


"Rio... Bertahanlah... Rio... bertahanlah... Kumohon" ucap qiqi.

__ADS_1


Berulang ulang kali qiqi melakukan itu, membuat qiqi putus asa dan menangis.


"Rio..." teriak qiqi.


Sampai sampai tidak ada cara lain lagi terpaksa qiqi memberikan napas buatan untukku


Qiqi menarik napas dalam dalam dan memberikan napas buatan itu kepadaku sampai sampai qiqi kelelahan, berputus asa dan menangis bersedih lagi,


Tiba tiba saja aku terbangun dan memuntahkan air yang ada di perutku, melihat itu sontak qiqi langsung memelukku dengan erat, dan berkata.


"Aku kira, aku akan kehilanganmu," air mata qiqi tumpah begitu saja.


"Aku pikir juga begitu, aku kira aku tidak akan hidup lagi," ucapku dengan lemah.


Karena kondisiku yang begitu parah, sesaat aku pingsan, dan qiqi merawat lukaku untung qiqi membawa tas obatnya jadi dia bisa merawar lukaku.


Lagi lagi aku diperban, aku seperti mumi saja, tapi apa boleh buat jika tidak diperban nanti lukannya infeksi.


Sedangkan nyonya dan kulici dan yang lainnya menyadari kami tidak pulang begitu lama lalu mencari kami, muka candis berubah draktis menunjukan muka khawatirnya, zahu dan amoo memahami perasaan tuannya, dan mereka berpencar mencari kami, saat itu mereka berpikir kalau aku dan qiqi berlindung digua, tapi dugaan


Mereka salah, saat mereka melihat pohon besar yanh gumbang di tepi jalan dan keranjang obat Yang tergeletak disamping jalan, saat itu mereka menduga kalau aku dan qiqi bukan bersembunyi di gua tapi terjatuh kejurang.


"Tuan..." teriak kulici.


"Cuaca semakin memburuk, kita hentikan pencarian atau kita yang akan terkena masalah" ucap tabib mo.


"Kalian pulang lah dahulu tapi Aku tetap disini, aku akan mencarinya" ucap candis.


"Tuan keadan cuaca tidak mendukung kita, lebih baik kita pulang sekarang" ucap amoo.


"Siapa peria ini kenapa gana(amoo) memangilnya tuan?" ucap kulici dalam hati.


"Zahu kau ikut aku dan amoo bawalah mereka kembali dengan selamat" ucap candis.


"Tapi tuan cuaca..." perkataan amoo belum selesai.


Ctak... Candis hanya menjentikan jarinya cuaca kembali normal yang tadinya hujan kembali menjadi cerah.


"Pergilah amoo antar mereka pulang?" ucap candis.


"Baik Tuan... Hati hati..." ucap amoo.

__ADS_1


Candis, zahu dan amoo dan lainnya berpisah ditempat itu.


Candis dan zahu melompat turun.


__ADS_2