
keesokan harinya.
aku dan candis pergi menemui sesorang, yang katanya ahli dalam membuat senjata.
setelah sekian jauh kami berjalan, melewati jalan jalan yang sempit dan sangat terpencir, akhirnya kami sampai juga ditempatnya.
"apa ini tempatnya, kenapa seram sekali tempatnya, dan jauh terpencir dari kota?" tanyaku dalam hati.
"ayo... masuk" ajak candis, sambil mengandeng tanganku.
"candis ngapain kita kesini ?" tamya ku.
"aku akan membelikanmu senjata" jawab candis.
"senjata, untuk apa?" tanyaku.
"untuk kamu bertarung" jawab candis.
"ah... iya,
aku selalu berkelhi dengan tangan kosong,
aku juga ingin punya sejata" gumaku dalam hati.
kami pun memasuki tempat tersebut saat kami masuk kedalam,
wow.... banyak sekali senjata senjata yang berpajangan, tiba tiba ada suara yang memangil candis.
"hah... dari mana berasalnya suara suara ini?" tanyaku dalam hati.
"kasturi, apa kau mendengarnya juga?" tanya candis.
aku hanya menganguk anguk.
"suara yang kau dengar itu, berasal dari senjata senjata yang ada disini!..." perkataan candis yang belum selesai.
"senjata, maksudmu semua senjata ini!" ucapku kaget.
candis hanya menganguk anguk.
"bagaimana bisa?" tanyaku.
"iti karena, senjata itu memiliki jiwa dan pikiran, sehingga mereka bisa mengenali pemiliknya, dan bisa membantu pemiliknya dalam bertarung,
tapi... tidak semua bisa mendengar mereka" jelas candis.
"hah... apa itu benar, jadi aku beruntung sekali bisa mendengar mereka berbicara" ucapku kagum.
cansis hanya diam saja,.
__ADS_1
"tuan candis sudah lama tidak berjumpa,
apa yanh membuat tuan candis mampir kesini" ucap tota pemilik tempat senjata ini, yang tiba tiba datang.
"aku kesini, ingin membuat sejata untuk dia!" ucap candis.
"tuan candis ... aku saja..."
"aku saja tuan..."
"pilih aku saja..."
ucap senjata ribut ribut.
"diam.... " teriak tota.
tiba tiba senjata itu terdiam semua,
"ah... silahkan pilih nona!" tawar tota.
"apa kau tidak mendengar kataku,
aku minta dibuatkan yang baru, model baru, paham" tegas candis.
"pa... paham tuan" ucap tota ketakutan.
aku yang melihat semua senjata yang dipajang.
"nona anda ingin model yang seperti apa?" tanya tota.
"aku ingin yang simpel, ringan dan multi fungsi" jawabku.
prf... candis menahan tawa.
"aaa... senjata yang seperti itu," ucap tota kebingungan.
"apa kau bisa?" tanya candis.
"tentu... tentu tuan hamba pasti bisa" ucap tota.
"kalau begitu, aku akan mengambil senjata itu seminggu lagi, dan harus bagus, sempurna.
kalau tidak kau tau apa yang akan terjadi, dengan dirimu kan" ucap candis.
"hamba tau tuan,
hamba akan berusaha sebaik mungkin" ucap tota.
"ayo kasturi, kita pergu dari sini!" ajak candis, mengandeng tanganku.
__ADS_1
kami pun pergi meninggalkan tempat itu.
sedangkan ditempat lain.
"hom... sudah siang,
eh... aku ada dimana?" tanya kulici kebingungan.
"sudah bangun rupanya," ucap amoo yang tiba tiba datang.
"kau, kenapa bisa ada disini?" tanya kulici.
"kenapa aku ada disini,
ya... disini kamar ku" jawab amoo, santai.
"apa... kamarmu,
kenapa aku bisa ada dikamrmu." ucap kulici terkejut.
"aku yang membawa mu kesini, karena kamar yang..." perkataan amoo belum selesai.
"aaaa... ", teriak kulici.
" kukici... hus... hus..." amoo menyurh diam.
karena kulici masih tetap teriak , terpaksa amoo menutup mulut kulici dan kulici yang sedang terbaring terkejut.
"kau, berani beraninya kau..." kulici marah.
tap... tap... suara langkah kaki.
brak... suara pintu dibuka dengan keras.
"pagi ... pagi... sudah berisik" ucap koga anak dari ratu cahaya korona dan penguasa cahya.
koga terkejut melihat amok dan kulici, dan koga sangka mereka lagi mesra mesraan.
"eh... tidak sopan kalian,
pagi pagi sudah membuat keributan dan lagi, bermesra mesraan," ucap koga marah.
"dasar cih..." cemooh koga.
"apa amoo tadi mencoba menyuruh ku diam karena ada dia disini, siapa dia kenapa dia memerintah semaunya,
apa dia tuan rumah ini?" tanya kulici dalam hati.
saat koga keluar, amoo pun melepaskan tangnya, dan menjauh dangan cepat.
__ADS_1