
Brak... Suara pintu terbuka, tabib mo datang dan lainya juga ikut datang, berpasan pula saat itu...
Hah... Nafas terakhir qiqi terhembuskan.
"Qi... Qi... Qiqi" teriakku.
"Jangan jangan, dia sudah tiada" ucap amoo.
Aku menangis dengan keras, atas kepergian qiqi, hatiku begitu terpukul atas Kepergiannya.
Tap... Candis memelukku dan berkata.
"Rio... Jangam bersedih lagi, relakan qiqi pergi"
Qiqi tidak bisa aku selamatkan bahkan dengan kekuatan, mantera pun tidak bisa, aku merasa bersalah sekali.
Kesokan harinya.
Acara pemakaman qiqi pun dimulai
Saat Qiqi ingin dikuburkan, air mataku menetes, mengingat saat saat kebersamaanku dengan qiqi.
Setelah acara itu selesai.
"Tuan... Tuan jangan beesedih lagi, ya?, nona qiqi akan bersama kita selalu" ucap kulici.
Aku hanya diam saja.
Dari kejauhan candis, zahh dan amoo mengawasi aku.
"Tuan apa sekarang saatnya, anda membuka samaran anda" ucap amoo.
"Aku rasa ini bukan saat yang tepat" ucap candis.
"Benar tuan, saat ini bukan saat yang tepat untuk membuka samaran, takutnya nanti nona malah melarikan diri" ucap zahu.
"Em... Bagaimana, dengan ramuan nya?" tanya candis.
"Ramuan obatnya akan segera selesai," ucap amoo.
Tak terasa malam pun tiba.
Aku keluar mencari angin untuk merilekkan otaku, saat aku dijalan aku ketemu candis.
"Hira... Kenapa Kamu ada disini?," tanyaku.
"Aku lagi mencari angin!" jawab candis.
"Apa kua sudah baikan" tanya candis.
__ADS_1
"Iya, aku sudah baikan" jawabku.
"Jelas jelas kau lagi tidak baikan, kenapa kau bilang kau baikan, kau tidak mau ya, sampai masalah mu diketahui" guma camdis dalam hati.
Kami berdua berjalan jalan menikmati angin malam sambil bercerita cerita.
Bebrapa minggu kemudian aku sudah mulai merelakan kepergian qiqi.
Dan saat itu pula ramuan nya sudah selesai.
Candis mengambil ramuan obat itu dari tabib mo.
"Hah... Masalahnya apa nona sudah siap?" ucap amoo.
"Aku tidak tau kalau ramuan ini apakah berhasil atau tidak," ucap tabib mo.
"Bagaimana kalau kita coba saja kasih setetes kepada hewan ternak" ucap zahu.
"Boleh juga!" ucap candis.
Sedanhkan aku yang berada di toko sedang di keroyoki oleh wanita wanita dari yang gadis, dewasa, bahkan nenek nenek pun ada.
"Haha...Anda, sehat sehat saja kok!" ucapku.
"Dimana nek?" tanyaku dengan
Lembut.
"Disini nak tampan?" tunjuk nenek itu, kehati.
"Apaan sih nenek nenek penyot ini, cepetan dong kami juga meu periksa" protes salah satu pasien.
"Iya gantian dong" peotes pasien lainnya.
"Idihh... Sabar dong..." ucap nenek yang aku periksa.
"Hy! Sadar diri diong, ingat umur...
Ingat umur..." ucap nenek yang berada dibelakangnya.
"bener tuh... sudah berbau kubur... masih saja seperti itu" ucap salah satu pasie nenek nenek..
"Emangnya... Kau tidak tua, hah..." melotot ucap nenek yang aku periksa.
"Ah... Sekarang giliranku" ucap salah satu pasien remaja yang minta periksa.
__ADS_1
"Ah... Aduhh... Aduhh... Sakit sekali" ucap pasien remaja aku periksa.
"Sakitnya dimana?" tanyaku.
"Disini, sakitnya didalam!" jawabnya, sambil berkedip kedip matanya.
"Aaah... Tak salah lagi lah ini merek bukan mau berobat" ucapku dalam hati.
"hah... mereka kesini hanya ingin menggoda rio, baru mendengar kepergiannya isteri rio, begitu banyak yang datang mengoda rio" guma nyonya dalam hati.
"ha... Disini," ucapku.
"Disini, didalam hati? Aaaa..." ucap pasien itu.
"Aaaa... Aku lagi... aku lagi..."
"Aaaa... Gemasnya rasa rasanya aku ingin mencubit pipinya"
Ribut ribut para pasien.
Nyonya dan kulici mengeleng gelengkan kepala.
"Hy! Kalian, kalau kalian tidak punya penyakit, kalian
Menghalangi pintu tokoku, masih banyak yang mau beribat, lebih baik kalian keluar dari tokoku, aku mau tutup toko, hari ini tidak terima pasien lagi, keluar sana keluar" nyonya marah marah.
"Ooo... Pemarahan amat ini pemilik toko" ucap salah satu dari mereka.
Mereka pun keluar dari toko dengan rasa kesal.
Dan nyonya langsung menutup pintu toko.
"Nyonya... Maaf gara gara aku anda harus menutup toko dengan cepat" ucapku.
"Tidak apa apa...
Hanaya saja, mereka yang salah" jelas nyonya.
"Rio... Lebih baik tuan istirahat saja," ucap kulici.
Aku pun pergi meninggalkan toko.
"Hah... Bagaimana aku bisa kembali lagi menjadi wanita, sudah lama sekali aku menjadi laki laki" gumaku dalam hati.
Aku pun pergi berjalan menuju kamar tak sengaja aku mendengar perkataan candis, zahu, dan amoo.
__ADS_1