
Hukuman yang sedih sekali disini adalah...
Hukuman dimana siapa pun tidak akan mengingat dia(yang melakukan kesalah), karena kenangan dia bersama siapa pun telah dihapus.
Hukuman itu berlaku dengan azar.
Sura tidak mengingat lagi azar dan juga nama yang diberikan azar kepadanya.
Warga desa, tabib, dan siapa saja yang mengenali azar sedikitpun akan lupa.
Aku sendiri pun lupa yang kuingat hanya namanya.
Zahu dan amoo sudah bekerja keras merawat kami semua, sampai sembuh.
Kini para warga desa sudah sembuh dan para tabib juga.
Ah... Jadi para warga mengingat apa?
Mereka hanya mengingat, kalau mereka terkena wabah yang sangat ganas, dan para tabib juga.
Ah... Lupa pula aku,
Bagaimana dengan gomnam.
Diingatan mereka gomnam lah yang menyebarkan wabah,
Dia...Dihukum mati oleh warga dan kakaknya.
Sedangkan Aku mengalami luka tidak terlalu parah, hanya saja tubuhku lagi lagi diperban.
Sekilas aku mengingat candis.
"Hah... Jika dia tau aku seperti ini, bagaimana ekpresinya..." gumaku dalam hati.
Tok... Tok... Suara ketukan pintu.
"Siapa...?" ucapku.
"Ini aku... Wanita yang kau tolong. boleh aku masuk, aku membawakan makanan" ucap sura.
"Masuk lah" ucap ku.
"Ah... Tabib muda terima kasih, sudah menolongku, ini aku bawakan makanan" ucap sura.
"Em... Kelihatanya enak, apa kau yang memasaknya" ucapku.
Aku mau makan tapi, aku tak bisa menyupi muluku ini, susuah sekali.
"Iya...
Ah... Biar aku yang suapin," sura malu malu.
Akupun disuapin oleh dia.
"Terimakasih... Suaramu sudah kembali ya, apa masih sakit!" tanya ku.
"Iya, suaraku sudah kembali, tapi tidak sakit lagi" ucap sura tersenyum.
__ADS_1
"Tabib muda, anda sudah menolong nyawaku,...
Bisakah anda membawaku bersamamu,
Aku akan menjadi pelayan anda..." tiba tiba saja sura berkata seperti itu.
"Prf... Uhuk... Uhuk..." aku leselek.
"Uhuk... Apa yang kau bilang tadi, aku membawamu, kau jadi pelayanku...
Aku tak bisa" ucapku terkejut.
"Kenapa...?"
"Karena, aku sendiri saja tidak punya uang dan tinggal dengan tabib mo, bagaimana aku membayar Mu" aku mencoba menjelasinya.
"Aku mohon tabib muda, aku tidak peduli kalau anda mau bayar atau tidak...
Jiwa dan raga ini kuserahkan kepadamu,
Susah senang akan aku lalui bersamamu,
Sekarang tuanku sudah tiada, aku akan tinggal dengan siapa, kalau tidak mencari tuan secepatnya, nanti aku akan dijual di pasar budak, nanti aku akan dapat tuan yang galak, karena tabib muda sudah menolongku aku, aku akan menjadi pelayan anda,
Aku mohon terimalah aku..." ucap sura panjang lebar.
"Tapi..." ucap ku ragu.
"Aku mohon..." ucap sura sampai sampai sura bersujud di hadapanku.
"Ah... Berdirilah, aku akan menanyakan ini, kepada tabib mo, jika dia memperbolehkan aku membawa kamu..." ucapku ragu ragu.
Beberapa jam kemudian, setelah aku menanyakan permasalahan ini dengan tabib mo, dan tabib mo membolehkanya dan kami diberi satu kediamam oleh tabib mo, karena tabib mo banga dengan kemampuanku.
Yah... Aku pun membawanya pulang.
Sudah saatnya kami pulang...
"Ah.. Senang sekali bisa pulang" ucapku.
"Senang sekali bisa pulang apa kangen dengan..." ucap tabib mo.
"Ah... Tidak..." ucapku malu.
"Tabib mo, kenapa kita tidak jalan para tabib lainnya sudah pergi berjalan duluan" tanyaku.
"Ah... Kita lagi nungu..." perkataan tabib mo yang belum selesai.
"Ah... Maaf tabib mo, kami terlambat datang..." ucap candis.
"Ah... Dia... Sepertinya, aku pernah melihat... Tapi dimana, ya..." aku lupa soal pertarungan azar itu.
"Kasturi, apa kau baik baik saja, aku senang bisa melihatmu lagi" guma canis dalam hati, tersenyum.
Kami pun pergi berangkat pulang...
"Rasa bahagia apa ini...?" gumaku dalam hati.
__ADS_1
Beberapa jam kami di perjalanan,
Kami pulang pakai kereta kuda.
Saat didalam kereta kuda, sura duduk disampingku.
"Ah... Namamu siapa...?"
Aku bertanya kepada sura.
Tapi mereka yang memandangku.
"Tuan apa anda bertanya kepadaku...?"
"Iya... Kamu, yang cerewet ini..." aku memcubit pipi sura.
Amoo dan zahu melihat candis...
"Aku tidak mempunyai nama...
Aku tidak Ingat namaku sendiri..." ucap sura.
"Em... Kalau begitu, aku kasih nama apa yang cocok untuk mu..." aku berpikir keras.
Ah... Karena telinganya seprti telinga kelinci, terlintas dipikiranku...
"Ah...kulici... Namamu kulici, bagaimana" ucapku gembira.
"Wah... Itu namaku, terimakasih tuan" kulici (nama sura) langasung memelukku.
"Kuliti... Seram selali namanya, kuliti..., teringat aku saat menguliti musuh" bisik zahu kepada amoo.
"Bukan... Tapi kulici" bisik amoo kepada zahu.
"Ehem..." candis tiba tiba batuk.
"Ah... Iya kalian bertiga ini namanya siapa" tanyaku.
"Saya hira hamura, pangil saja hira..." ucap candis.
"Saya xian amura, pangil saja xian..." ucap zahu.
"Saya gana morai, pangil saja gana..." ucap amoo.
Setelah berapa lama kami duduk dikereta.
Akhirnya kami pun sampai kerumah tabib mo.
"Akhirnya sampai juga..." ucapku gembira.
"Wah... Wah... Lihat... Lah sudah tidak sabar lagi menahan rindu ya?" ucap tabib mo.
"Apa maksudnya..." guma candis, zahu, amoo dalam hati.
Kreet... Suara Pintu dibuka.
"Ah... Suamiku kau sudah datang, apa kau baik baik saja disana, dan aku rindu..." ucap Qiqi memelukku.
__ADS_1
"Hah... Suamiku..." guma candis, zahu, amoo dan kulici dalam hati.
Mereka terkejut.