
Aku memegeng kepalanya, untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Tapi dia malah mau menghindar.
"Jangan takut aku hanya memeriksa mu" ucap ku dengan lembut.
Dia pun diam, sehingga aku pun mudah memeriksanya.
"Ehem... Kau hanya demam,(tersenyum)
Apa kepala mu sakit?" tanyaku dengan lembut.
Dia hanya mengangguk angguk.
"Apa kau sudah makan" tanyaku lagi.
Dia mengeleng gelengkan kepala.
"Wah... Ternyata belum, tunggu sebentar ya
Aku akan mengambil makanannya dulu"
Ucapku untuk menyakinkan dia.
Aku pun keluar dari tempat itu untuk mengambikan makanan.
Tak lama kemudian aku pun kembali dengan membawa makanan.
Aku duduk didekatnya, dan ingin menyuapi nya...
"Em... Ini makanan, kamu makan ya supaya tidak sakit lagi, nih... Makan aku suapin" ucap ku dengan tersenyum.
Saat aku menyuapinya.
Dia mengeleng geleng.
"Kenapa tidak mau makan kalau tidak makan nanti kau sakit" ucapku.
Dan saat aku ingin menyuapinya kembali, dia tetap menolak,
Aku hanya bisa menarik napas panjang dan sabar...
Akupun mencoba
Menanyakan...
"Em... Kau tidak mau makan" ucap ku.
Dia hanya menganguk.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
Dia hanya diam.
"apa kau bisa bicara..." ucapku penasaran.
__ADS_1
Dia menganguk.
"Kenapa kau tidak bicara?" tanyaku lagi.
Dia hanya diam.
"Kau tak perlu takut denganku, aku hanya seorang tabib bukan penjahat... Lagi pula kita hanya berdua saja, apa ada yang kau takutan sehingga kau takut untuk bicara, aku bisa stres dengan pasien yang tidak bicara sepatah katapun?..." aku menyerocos panjang lebar.
"Hehe..." dia tertawa.
"Hah... Kau tertawa juga, jadi apa kau mau makan" aku menawarkan makanan.
Dia mengeleng geleng.
"Hah... Sekarang kau tidak bicara lagi" aku bertingkah lucu didepannya.
"Haha..." dia tertawa.
"Apa kau mau makan, tenang saja ini aman, aku dan para tabib yang membuatnya" jelasku kepadanya.
Dia menganguk anguk.
Bererti dia mau makan.
Dan aku pun menyuapinya, dia pun mau makan.
Setelah dia selesai makan, aku pun mau pergi melihat yang lain, tapi saat aku mau pergi...
Tiba tiba...
Tap... Dia memegang
"Wakil... Kepala... Desa..." dia berkata terbata bata.
"Eh... Wakil kepala desa, kenapa... Ada apa..." tanyaku dalam hati.
Aku pun kembali duduk, dan mencoba mengajak dia bicara.
"Kenapa dengan wakil kepada desa?" tanyaku penasaran.
Dia mengatakan nya lagi dengan terbata bata dan kata yang kurang jelas, aku mencoba memahaminya.
Setelah beberap menit dia berkata dan aku memahaminya, aku pun terjejut.
"Apa..., apakah itu... Benar" ucapku terkejut dan tak menyangka...
Tap... Tap... Suara langkah.
"Ah... Ada yang datang..." guma ku dalam hati.
Dia menyuruhu untuk bersembunyi, aku pun bersembunyi. Dibawah tempat tidur.
Kreet... Suara pintu dibuka.
"Ah... Ternyata kau masih hidup kelici lucu..."
__ADS_1
"Ah... Dia... Wakil kepala desa, kenapa dia ada disini?" gumaku dalam hati.
"Hahaha... Kau ketakutan melihatku, apa suramu sudah kembali, kau adalah budaku tapi kau berani berhianat kepada tuanmu..."
"Apa maksudnya..." gumaku dalam hati.
Sedangkan Ditempat lain.
Tiba tiba...
Ada asap hitam yang tiba tiba muncul...
Dan disaat itu juga muncul.
Azar... Makhluk yang menyeramkan itu.
Candis, zahu, dan amoo berhenti
"Tuan kenapa anda tiba tiba berhenti" ucap amoo.
"Lihatlah kedepan" ucap candis.
"Hah... Dia lagi..." cemooh zahu.
Candis menatapnya dengan tajam.
Azar tak berani memandang.
Syasss... Tiba tiba azar menghilang dengan begitunya.
Apa hubungan azar dengan candis...?
"Tuan siapa makhluk iti?" ucap amoo.
"Kenapa, dia pergi begitu saja, sepertinya dia takut. Apa penyamaran kita tidak sempurna" zahu ngaur.
Candis hanya diam saja, dan candis melanjutkan perjalanan dengan cepat.
"Eh... Kenapa tuan, berjalan cepat sekali, dan pertanyaan kita tidak dijawab" ucap amoo.
"Mungkin tuan ingin cepat sampai, dan ketemu nona..." ucap zahu.
Tiba tiba...
"Hoy!... Kalian apa yang kalian tunggu lagi cepat, jalan" tegur candis.
"Eh... Tuan sudah jauh, cepat sekali tuan berjalan" ucap amoo, sambil berlari mengejar tuanya.
Sedangkan zahu hanya
Berjalan santai.
Kembali kesituasi yang genting itu, saat azar mencekik kepala desa dan aku datang menghentikannya.
Dan aku menceritakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Azar yang mendengar penjelasanku langsung melepaskan cekikanya kepada kepala desa.
Dan kepala desa terjatuh lemas.