I'm to go world fantasy

I'm to go world fantasy
Episode 90


__ADS_3

"Jangan sentuh aku" aku menarik kembali tanganku.


Mengepalakan tangan bersiap siap untuk meninju mukanya itu.


"Jangan sekarang...


Aku lagi tidak bersemangat,


Sudah cukup kau menyerangku semalam," ucap makhluk itu lemah.


"Maksudnya? aku memyerang mu?" tanyaku tak mengerti.


"Em..." makhluk itu berguling membelakangiku, kelihatannya ia lemah sekali.


Mataku melihat sekeliling ruangan ini,


Oooo... Ruangan ini sunghuh berantakan sekali.


"Apa benar aku yang melakukan ini semua?" tanyaku.


"Kalau bukan kau siapa lagi!,


Sangking bersemangatnya kau sampai mengigitku" makhluk itu membalikan badannya menatapku,


"Yah... Walau kau cukup mengila..."


Tanganku mengepal geram.

__ADS_1


Keerrr... Rantai yang menahan ku hancur begitu saja.


Bammmm... Tinjuku menghantam wajahnya, makhluk itu terbanting kedinding, sampai dindingnya retak, wajahnya lebam dan hidungnya mengeluarkan darah hitam.


"Hehahah... Kau begitu kuat, bagaimana kalau kita kerja sama?" makhluk itu mengusap darah dihidungnya, luka yang


luka yang kubuat sembuh seketika.


"Aku tidak mau!" tolakku.


"Seriusan tidak mau, aku bisa membalaskan dendam mu" ucap makhluk itu mendekat.


"Aku tidak punya dendam" sahutku.


"Maksudmu, kau tidak punya dendam, masa sih, lalu apa kau tidak mau membalsa dendam dengan candis, lihat dia mempermainkan mu, dan dia lebih memipih wanita lain dari pada dirimu" bisik makhluk itu.


"Bagaimana apa kau mau bekerja sama dengan ku?",tawar makhluk itu sekali lagi.


"Em... Aku mau tapi ada saratnya semua perkataanku, apa yang kumau, kau harus turuti, dan aku bos mu, bagiamana?" sahutku.


"Aku setuju" terima makhluk itu.


"Em... Segitu cuman, apa kau tidak ingin sesuatu?" tanyaku penasaran padanya, ya... Tidak mungkin lah, melakukan kesepakatan tampa ada imbalan.


"Em... Apa ya, bingung" dia memasang muka yang gemesin.


"Ah... Aku lupa, aku sudah mengetahui namamu, tapi kau belum tahu namaku,

__ADS_1


Namaku, deska" ucap deska tersenyum


lebar.


Aku tidak meresponnya, hanya menatap sinis deska.


Beberapa hari aku disini tidak tahu sama sekali kalau aku sekarang berada dimana, tempat ini lebih buruk dari pada tempatnya candis, pikiranku selama beberapa hari ini hanya terbayang candis, entah kenapa aku sering sekali memikirkannya, aku tidak tahu apa dia sekarang juga memikirkanku, aku berharap dia memikirkanku.


"Aku dari tadi melihatmu, kau lagi memikirkan apa?" deska yang berdiri dipintu melihatku dari tadi.


"Bukan apa - apa, itu tidak ada urusannya denganmu" jawabku jutek.


"Ayo lah, jangan begitu, jujur saja denganku, mana tahu aku bisa bantu" rayu deska.


"Apa benar kau bisa?" tanyaku dengan raut muka serius.


"Em... Apa yang tidak bisa aku lakukan" jawab deska sombong.


Aku sudah memikirkan ini berhari - hari, aku tahu aku harus bicara pada siapa, dan aku sudah tahu pada siapa aku harus bertanya, dan yang bisa menjawab pertanyaanku, dengan meminta bantuan padanya aku bisa menemui dia.


Hari itu aku sudah bicara padanya, dan dia setuju membantuku, tapi ada yang aneh kenapa dia setuju membantuku tampa ada imbalan.


Aku tak memperdulikan itu, yang penting sekarang ada yang mau membantiku secara cuma - cuma.


Perjalanan kami dimulai, tempatnya begitu jauh.


Jika aku dan deska pergi kesana dengan berpindah dimensi maka itu percuma saja karena, kami sudah melakukan itu, dan setiap kami berpindah dimensi kesana maka kami akan kembali lagi ketempat semula,

__ADS_1


satu satunya jalan adalah dengan cara berjalan.


__ADS_2