
Keesokan paginya.
"guling kenapa gerak gerak terus" ucapku dengan mata yang masih tertutup.
"Deg... Deg... Jantung ku kenapa kau berdetak kencang sekali, tenang lah" guma Qiqi dalam hati.
"Rio... Rio..." suara Qiqi yang pelan terdengar ditelingaku.
"Diam Guling jangan bergerak gerak" ucapku dengan mata yang tertutu, dan memeluk guling itu dengan erat.
"Rio... Rio... Lepasin... Sesak..." pangil Qiqi pelan.
"Em... Kenapa gulingnya bergerak terus," ucapku sambil membuka mata.
"Kok... Gulingnya besar dan bisa bicara ya, aneh sekali" ucapku, mengicak ngucak mata.
pamdangan ku yang masih buram melihat guling itu, aku menatapi guling itu dengan seksama, aku perhatikan terus.
"Rio... Lepasin... Sesak..." suara Qiqi yang pelan terdengar ditelingaku.
Dan aku sadar kalau yang aku peluk itu bukan guling tapi Qiqi.
"Aaaa..." aku pun sontak terkejut, dan langaung melepas pelukan.
mundur mundur kebelakang dan...
"Hah... Rio awas nati..." perkataan Qiqi yang belum selesai.
Brukk... Aku terjatuh
Dari tempat tidur.
"Aduh... Sakit sekali" ucapku yang kesakitan.
__ADS_1
"Rio... Apa kamu tidak apa apa..." Qiqi yang kelihatan khawatir.
"Aku tidak apa apa!,
hanya saja kenapa aku ada disini" ucapku kebingungan.
Aku berdiri dengan pelan pelan karena
kepalaku masih pusing.
"Aih... Kenapa kepalaku pusing, apa mungkin aku masih mabuk biasanya tidak seperti ini..." gumaku dalam hati.
"Apa kau tidak apa apa rio, kau lelihatan pucat sekali, lebih baik kamu istirahat dahulu aku akan membuatkan ramuan" ucap Qiqi khawatir.
Aku berdiri tegak dengan terhuyung huyung.
"Ya! Kau ada benarnya juga" ucapku.
Aku berjalan terbuyung huyng menuju ketempat tidur, tapi...
Deg... Deg... "Ugh... Jantungku tenanglah" guma qiqi dalam hati.
Kreet... Suara pintu dibuka.
"Tuan... Nona pagi ini mau sarapan apa?" kejut kulici.
"Ah... Maaf memgangu silahkan lanjutkan hi... hi..." kulici pergi meningalkan kamar qiqi.
"Maaf aku tidak sengaja" jelas
Ku kepada Qiqi.
"Ah... Iya," Qiqi langsung menghindar dan segera pergi membuatkan ramuan.
Aku berbaring menungu.
Sedangkan ditempatnya candis.
__ADS_1
"Tuh... Kamu lihat apa yang terjadi dengan tuan sampai sekarang tuan masih belum bangun, sebentar lagi kita akan memulai belajar dengan tabib mo dan masalahnya tuan masih belum juga sadar, ini salahmu ya, zahu... Ini salahmu..." amoo ngomel ngomel.
"Loh kok ... Aku sih, kan tuan yang minum kenapa aku yang kau salahkan" tegas zahu.
"Apa bukan salah kau, jika kau waktu itu sepakat kepadaku untuk melarang..." perkataan amoo yang belum selesai.
"Iiiyaa... Iya... Aku yang salah 'mama', bawel amat, kau ini cocok sekali menjadi perempuan dari pada jadi laki laki" ejek zahu.
"Apa kata kau..." geram amoo.
Mereka berdua bertengkar sampai sampai membangunkan candis.
"Em... Ribut sekali"
"Tak bisakah tenang sedikit," ucap candis yang terbangun.
"Eh... Tuan sudah bangun" ucap amoo.
Kebingungan, sampai sebab tadi dibangunkan dengan berbagai cara tapi tidak
Bangun, sekali mereka berdua ribut, bertengkar baru bangun.
Beberapa jam kemudian kami mempelajari ini... Itu... Banyak sekali.
Beberapa minggu sudah kami lewati dengan belajar serius. Rasa rasanya kepala ku terasa mau pecah menginhat semua dan hapalan hapalan yang harus disetor segera.
Dan ditambah lagi dengan ramainya penginjung toko membuat kami semua sibuk melayani.
Satu minggu yang sangat melelahkan,
Saat perjamuan makan, kami semua berkumpul untuk makan jamur.
Saat kami berkumpul mau makan.
Tiba tiba saja.
Qiqi mual mual...
"qiqi apa kau baik baik saja?" tanyaku khawatir.
qiqi tidak menjawab dan langsung pergi meningalkan tempat itu,
dan kulici mengikuti qiqi dari bekakang,
Melihat Qiqi yang mual mual itu, semua mata tertuju kepadaku.
Perasaanku mulai tak enak,
"perasaan apakah ini?, kenapa gelisah sekali" gumaku dalam hati.
__ADS_1