I'm to go world fantasy

I'm to go world fantasy
Episode 39


__ADS_3

"Sahzi" mereka serempak menyebutnya.


Aku dan Qiqi mengelilingi kota. Sepanjang perjalan... Semua melihat kami.



Tiba tiba...



"Ah... Tolong... Tolong... Uangku dicuri" teriak teriak



"Ah... Pencuri..."


"Ayo tangkap..."


Ribut para makhluk itu sambil mengejar pencuri itu.



Pencuri itu lari kearah ku...



Ya udah... Aku menangkapn tanganya dan mebantingnya.



Brukk... "Aaaa... Sekit sekali" teriak pencuri itu kesakitan.



Aku kira tulangnya patah ternyata tidak, aku langsung mengambil uangnya.



"Ini tuan uangnya," aku langsung memberikan uangnya.



"Hah... Hah... Terimakasih, telah membatuku" ucap tuan itu.


"Siapa dia?" tanya ku menunjuk makhluk pencuri yang aneh ini.



"Ah... Itu... Makhluk ini, hanya makhluk biasa yang sering mencuri"



Tiba... Tiba... Makhluk itu kabur.



"Ah... Dia kabur, akan aku kejar dia..." aku sudah siap siap untuk mengejarnya.



"Sudah lah anak muda, Dia hanya pencuri kecil, lepaskan saja..." tuan menahanku untuk tidak mengejarnya.



"Ah... Baiklah" ucapku meburuti.



"Em... Ngomong... Ngomong... Kalian Kelihatan kurang sehat" tanya tuan itu seperti menerawang san.



"Ah... Iya... Kami, baru tertimpa musibah" jawab qiqi.


"Musibah apa itu, ah... Iya kita kerumahku dulu, kalian bisa istirahat disana?" ajak tuan.


Kami pun seyuju dan mengikutinya dari belakang.


Tak lama kemudian kami pun sampai dirumahnya dan disambut dengan istrinya setelah sampai tuan memita kami menceritakan musibah yang kami alami.



"Ah... Jadi begitu"



"Kasihan sekali pasangan pengantin baru ini, sudah terkena musibah" ucap nyonya.



"Ah... Kami bukan..." perkataan ku dipotong oleh tuan.



"Em... Bagaiman sebagai balas budi kalian bisa tinggal disini, beberapa waktu, dan pulihkan luka kalian" tawartuan krpada kami.



"Ah... Benarkah" tanya kami sekali lagi.



"Ya..." jawab tuan sambil menganguk anguk.



"Terima kasih tuan, nyonya" serentak ku dan qiqi.



"Ngomong... Ngomong... Tuan dan nyonya ini, apakah tabib" tanyaku



"Ahahaha... Ah... Iya... Aku dan Suamiku ini tabib yang cukup terkenal dikota ini," jawab nyonya.



"Ah... Apa boleh kami sekaligus berguru kepada kalian, agar kami busa mengobati luka kami, dan orang lain" ucap Qiqi meminta diangkat menjadi murit.



"hahah... Tentu saja boleh, kau tidak keberatankan suamiku" ucap nyonya.

__ADS_1



"Ah... Iya tentu saja tidak, niat kalian begitu bagus, anak muda sekarang tidak ada yang ingin begitu" tuan merasa banga dengan kami.



"Ah... Tuan terlalu memuji" ucapku tersanjung.



"Ngomong ngomong... Siapa nama kalian?"


Ucap nyonya.



"Nama saya rio dan ini Qiqi dia adalah..." perkataanku yang di potong oleh tuan.



"Ah... Kalian suami istri yang serasi sekali, seperti kami" tuan memotong perkataanku dan salah paham.



"Ah... Tidak kami..." qiqi berusaha menjelaskan, tetapi tidak didengarkan.



"ah... jangan begitu, masa malu sih


ah... iya sekarang kalian pangil suamiku tabib mo, dan aku tabib san" ucap tabib san dengan tersenyum.



"ah... iya, tabib mo , tapi kalau kami pangil nyonya boleh kan" tanyaku kepada tabib san.



"Em... Bolehlah" jawab tabib san membolehkan.



Tak terasa Malam pun tiba.



"Ini adalah kamar kalian..." ucap nyonya.



"Waw... Bagus sekali" guma Qiqi dalam hati...



"Anu... Nyonya, tuan apa tidak ada satu lagi" tanyaku.



"Apa maksudmu?" nyonya menatapku dengan muka yang kebingungan.



"Kamarnya, apa tidak ada lagi" jelasku.




"Eh... Bukan... Kami bukan..." aku berusaha menjelaska tetapi tidak didengarkan.



"Ya udah... Selamat malam"



"Ini obat untuk suami mu, kelihatanya, lukamu itu mulai membaik, jadi ini, agar tidak gatal untuk bekas obat tadi" ucap tuan tabib.



"Ah...tetimakasih. Tapi... Kami..." perkataan qiqi yang terpotong.



"Selamat malam" ucap tabib mo langsung meningalkan tempat yang mereka.



Mereka meningalkan kami berdua


Kami mrnutup pintu.



"Ah... Ini obat nya" qiqi meletakannya diatas meja.



"Em... Terimakasih" ucapku.



aku mencoba mebuka perban tapi tidak bisa,



"Ah... Kenapa aku tidak bisa membuka ini" kesel... Ku, karena tidak bisa melepaskan perbannya.



Tiba tiba...



"Sini biar aku bantu" qiqi yang tiba tiba memegang tanganku.



"Eh..." aku terkejut, karena qiqi langsung memegang tanganku.



"Ah... Baiklah" ucapku setuju dengan qiqi, dan membiarkannya untuk membantuku.

__ADS_1


Qiqi mulai membuka perbannya, membersihkannya, sesekali qiqi meliriku dan berkata dalam hati"tubuhnya indah...


Ah... Apa yangvaku bicarkan sih"


lalu memebrikan obat, setelah itu qiqi memasangkan kemabali perban yang baru.


Setelah Qiqi selesai memakaikannya.



"Terimakasih" ucapku sambil memalingkan muka.


"Sama sama..." qiqi juga memalingkan muka


Kami berdua saling memalingkan muka, karena


Malu.



Tiba tiba...



Tap... Cicak kepala tiga jatuh di tangan Qiqi, sontak Qiqi langsung teriak sekencang kencangnya...



"Aaaaa..." teriak Qiqi ketakutan.



Sontak Qiqi memelukku, dan membauat kami berdua terjatuh


Brukkk... Qiqi menindihku, dan aku terbaring dikasur.



Deg... Deg... Jantung qiqi berdebar kencang.



"Kenapa jantungku berdebar kencang" guma Qiqi dalam hati.



"Napasku sesak" guma dalam hati dengan napas yang tidak beraturan.



"Aaaa... Jauhkan cicak itu, apa cicaknya sudah pergi" qiqi menutup mata karena ketakutan.



"Cicak nya sudah pergi, bisa kau menjauh, napasku sesak" ucapku dengan napas yang tidak beraturan



"Eh..." pipi qiqi merona.



"Ah... Maaf" qiqi menjauh dengan cepat.



"Apa yang barusan aku lakukan" guma Qiqi dalam hati.



"Hahaha... Napasku, sesak..." guma ku dalam hati dengan menarik napas panjang.



"tapi, kok cicaknya aneh sekali, kepala 3 lagi, menyeramkan, sedangkan kepala satu saja aku takut, apalagi kepala 3 " gumaku dalam hati.



Beberapa menit kemudian.



Hoom... aku mulai mengantuk.



"Qiqi, kau tidur diatas dan aku..." usulku sambil melihat Qiqi yang tertidur.



apa boleh buat, aku memindahkanya ke tempat tidur, dan menyelimutinya,


sedangkan aku tidur dibawah


yah... tidak ada selimut, tidak ada alas, hanya bantal,


apa boleh buat, aku tidur dengan nyenyak, tak lama kemudian


Aku pun tertidur.



Zasss... Mereka bergerak secepat cahaya.



"Tuan bau nona semakin kuat, kita sudah dekat dengan dia" zahu memberitahu.



"Berhenti..." perimtah candis yang tiba tiba berhenti.


Mereka berdua pun ikut berhenti. berhanti...



"Kenapa berhenti, Tuan buakankah, kita mulai dekat Dengan nona" tanya amoo ke tuannya.



"Justru itu, kita pantau dari jauh saja" sahut candis dengan serius.


__ADS_1


"Kenapa?" serempak zahu dan amoo menaangapi keta candis.


__ADS_2