
Beberapa hari kemudian.
"Aaaa... Ini bukan aku, kenapa jadi begini"
Teriak dalam hati.
Meraba raba dada...
Rata...
Mengintip bagian bawah...
"Haaa... " mimisan.
"OMG... kenapa aku berubah, jadi begini"
"Huhuhu... Kenapa aku jadi begini"
Ah... Ini terjadi beberapa jam yang lalu...
Dimalam sebelum kejadian.
"Ah... Kenapa hari ini aku tidak melihat mereka ya, terutama candis"
"Ah... Iya, pelayan emangnya tuan kemana?"
"Nona, tuan lagi mengurus sesuatu permasalahan"
"Permasalahan" penasaran.
"Ah... Iya"
Aku mrndekatinya.
"Dimana tempatnya"
"Ah... Itu" ragu ragu ingin menberitahu.
"Dimana? Kasih tau dong, cantik" merayu.
"Ah... Di..."
Syut... Aku bergegas pergi dari kamarku dan menuju tempat yang dimaksud.
Saat aku sampai ditempat itu,
"Candis..." aku terkejut, melihat.
"Ah... Nona"
"Kasturi..."
Entah... Mengapa aku langsung pergi meningalkan tempat itu, dengan meneteskan air mata,
"Kasturi..." teriak candis, mengejar ku.
Bagaimana tidak, kalau aku sedih, melihat Candis... Dia dikelilingi
dikelilingi oleh 2 orang cewek yang sedang mengodanya, dalam pikiranku mereka adalah cewek penjara itu.
Entah perasaan apa ini rasanya sakit sekali, seperti ada yang nusuk dihati. Apa ini yang namanya cemburu.
Aku terus berlari samapi,
Sampai aku berada di sebuah ruang berdebu, seperti gudang.
Dan ada sebuah kertas selembar yang kusam dan bertulisan apalah.
Jadi aku membaca tulisan itu, dan bertepatan sekali hatiku berkata.
"Enaknya jadi laki laki yang dikelilingi wanita, populeritas, keren, tampan, kuat, sehingga banyak wanita yang nasir" gumaku dalam hati.
"Ah... Kenapa aku membaca tulisan ini, dan kenapa hatiku berkata seperti itu"
"Emang, apa benar, jadi laki laki itu menyenangkan, sehingga mereka mempermainkan perasaan wanita" murung.
"Ah... Apa sih, yang aku bicarakan" aku meninggalkan tempat itu,
__ADS_1
Dan kembali kekamarku.
Saat aku sampai...
Aku terkejut
Tak sangka kalau candis ada disana.
"Ah... Kasturi apa kau baik baik saja"
"Keluar kau dari kamarku"
"Kasturi aku bisa menjelaskan
Nya, kalau yang kau lihat itu tak seperti yang kau bayangkan itu, cewe, ah... Maksudku mereka itu adalah... "
"Candis... Aku lagi tak mau mendengarkanya, aku mau sendirian, tolong tingalkan aku sendiri" menahan air mata.
"Kasturi... Tolong dengarkan aku"
"Candis... aku mohon" menahan air mata.
"Baiklah kalau begitu, jika kau tidak marah lagi, aku akan menjekaskan nya"
Akhirnya candis meninggalkan kamarku, saat dia menutup pintu, aki berkari dan menghempaskan badanku ketempat tidur.
Bruk.... Hiks... Hiks... Hiks... Tangisku pun pecah,
"Candis... Kau mempermainkan aku, apa karena kau laki laki, dengan mudah mempermainkan perasaanku" gumaku dalam hati.
Aku mengantuk karena menagis dan akhirnya tertidur.
Saat aku bangun dipagi hari, para pelayan yang biasa yang melayaniku seperti biasanya.
Kelihatan kebingungan, dan bankan ada yang sampai mimisan.
Wah... Wah... Was...was... Mereka mebicarakan sesuatu.
Setelah aku mandi aku menuju cermin dan melihat...
Ada cowok tampan sekali di depan ku.
aku terlena,
"Haaa..." teriaku.
Tapi kok aku... Aku... Laki Laki.
Aku terkajut sekali, seperti tidak menyangka, tapi ini benar tetjadi,
"bagaimana ini, aku berubah jadi laki laki" panik panik.
"Aaaa... Ini bukan aku, kenapa jadi begini, tidak mungkin"
Teriak dalam hati.
Meraba raba dada...
Rata... rata...
Mengintip bagian bawah...
"Haaa... " mimisan.
"OMG... kenapa aku berubah, jadi begini"
"Huhuhu... Kenapa aku jadi begini"
Beberapa saat kemudian.
Kreet... Suara puntu terbuka.
"Kasturi..."
"Alama... Itu candis..." bicara dalam hati.
"Bagaimana kalau candis tau kalau aku barubah" bersrmbunyi dalam srlimut.
__ADS_1
"Ah... Nonanya tidur, lagi pula tidak mungkin nona melakukan itu, cuma gara gara itu," ucap zahu.
"Tapi siapa yang dikatakan pelayan itu, peria darimana dia" ucap candis.
"Ah... Iya aku lupa, kalau para pelayan itu"
Candis mendekat kekasur, dan membuka selimutuku.
"Ah..."
Jreng... Jreng... Aku ketahuan.
Candis terkejut.
"Siapa kau?" ucap amoo.
Candis hanya menatapku.
"Ternyata benar kalau kata pelayan itu" ucap zahu.
Saat candis ingin mrnyentuhku.
Aku... Aku... Mendorongnya dan mengambil jubahnya, lalu kabur dari istana,
Garakan ku lincah.
"Itu... Itu..."
"Tuan apa anda tidak apa apa?" ucap amoo.
"Bagaimana bisa... Dia..."
"Pengawal kejar peria itu" perintah zahu.
Pengawal yang berada digerbang semua memegang panah, dan memanahku.
Aku tak bisa menghindar, aku pun terkena panah.
"Berhenti..." perintah candis.
"Kesempatan... Aku lari saja" guma dalam hati.
"Kasturi... Tunggu..."
"Hah... Nona..." semua terkejut.
"Tuan apa yang anda katakan tadi itu" amoo kebingungan.
"Apa kau tidak melihat kalau itu adalah kasturi" marah marah.
"Sekarang dia terluka, dan entah lari kemana, kami kehilangan dia" lapor salah satu jendral.
"Apa... Dia terluka"
"Eh... Iya"
Bast... Candis membunuh jendral itu.
"Ah... Tuan maaf kan hamba, hamba terlalu gegabah dan tidak
Mengetahui..." zahu menyesal
"Sudahlah, sekarang kalian berdua ikut aku mencari kasturi"
Hosh... Hosh... Hah... Aku terus berlari, sampai sampai aku terpeleset dan terjatuh ke sebuah jurang.
Aaaa... Brus...
Aku terjatuh kedalam air, sungai yang mengalir deras, sedangkan aku tak bisa berenanag, dan mengunakan kekuatan ku pun tak bisa...
"Tolong..." teriak ku dengan keras.
Aku lemas sekali.
Aku terlalu panik... Kabur dari istana sekarang aku terjatuh kedalam sungai.
Aku tak tau lagi apa yang terjadi dengan diriku, aku lemas dan terbawa arus.
__ADS_1