
Dragon: "kau"
"Ha... Aku" tidak ku sangka kalau Dragon akan menghadang kami.
"Kenapa?" tanyaku.
Dragon: "Lebih baik kau kembali tuan Candis, atau aku terpaksa membawamu kembali kesana."
"Aku tidak bisa kembali kesana!"
Deska berseru dalam hati "Sejak kapan?"
Para tentara bersiap-siap untuk menangkapku.
"Kau berubah Dragon."
Wajah Dragon berubah menjadi masam,
Deska mengengam erat tanganku tampa basa basi lagi Deska mengeluatkan kekuatannya, menghilang, berpindah tempat dengan cepat.
Dragon beserta tentaranya terkejut melihat kekuatan Deska yang mirip dengan kekuatan Candis karena berpindah tempat secepat itu tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Candis.
Sekedip mata kami sudah sampai ditempat desa peri.
Ah... Gawat ternyata tentara peri sudah menunggu kami didepan gerbang.
Tidak sempat para tentara itu menyerang kami. Deska sudah membawaku pergi lagi, berpindah tempat dengan cepat.
Begitu juag tempat yang kami datangi selanjutnya, para tentara sudah menunggu kami.
Tidak habis pikir Deska Membawaku pergi lagi, belum sempat aku menghela napas aku, dia sudah membawaku berpindah tempat lagi.
__ADS_1
Tapi. Kali ini berbeda sekali tempatnya, kami tidak dihadang lagi, tempatnya sangat gelap disinarisi dengan berjuta bintang, diatas sana ada tempat dan ada makhluk yang menunggu disana, wajahnya aku tidak melihat jelas wajahnya.
Yang pasti dia exsotis sekali.
Aku terkejut dengan gaya bicaranya, gaya bicara yang ia gunakan seperti bahasa diduniaku.
Tidak salah lagi mungkin itu adalah Dewa mimpi yang tahu tentang duniaku.
Kaki ini cepat melangkahi anak tangga cahaya yang menuju keatas, sesampainya diatas aku melihat dia, si Dewa mimpi yang duduk ditengah kolam sekelilingnya dikelilingi dengan air yang bening, matanya yang tadinya tertutup, langsung terbuka melihat aku yang datang, tangannya terbuka lebar menyambutku.
Ia tersenyum tangannya melambai menyuruhku untuk kesana. Tapi bagaimana aku bisa kesana, maasa iya aku kesana melewati air ini, kelihatan sekali kalau air ini memiliki Kekuatan yang tidak biasa.
Tapi, dia terus memanggilku, menyuruhku kesana "Eh... Lo ngapain masih berdiri disana, lets go. Gays gak ada yang perlu kamu takutkan. Aman untukmu." Dewa itu meyakinkanku.
"Apa benar?" Aku ragu.
"Hah... Gak percaya. Langkah saja tidak akan jatuh kok. Percayalah" yakinkannya sekali lagi.
"Hy! Apa yang kau takutkan buka saja matamu" sekali lagi Dewa itu bicara.
Aku membuka mataku mengikuti perkataannya. Waw... Aku berjalan diatas air yang bening ini.
"Benarkan tidak apa-apa?" ucap Dewa itu, "Kenapa Kasturi?." Dewa itu tersenyum berdiri dari tempat duduknya berjalan mendekatiku.
"Eg... Dari mana kau tahu namaku?"
"Em... Dari mana ya" Dewa itu sudah berada dihadapanku, pura-pura tidak tahu.
Aku memasang ekpresi wajah tidak suka dengan candaannya itu.
"Haha... Bercanda, bro. Jangan bawa kehati" gaya Dewa itu seperti anak zaman sekarang, ia menghentakan kakinya, seketika air itu memunculkan gambar- gambar, momen waktu aku masih berada diduniaku, aku melihat masa-masa kecilku masa yang indah. Tapi ada yang aneh dengan momenku yang satu ini, disini ada sosok yang tidak aku kenal.
__ADS_1
"Itu adalah Haranbu" ucap Dewa mimpi.
"Haranbu, siapa dia?" tanyaku.
"Leluhur kami" jawab Dewa mimpi.
"Ha... Leluhur." aku tidak yakin.
"Ya... Kalau kau mau tahu kisahnya silahkan kau tanyakan pada situkang ngambek bawah sana" Dewa mimpi menunjuk Deska.
"Deska..." ucapku tidak paham.
Kenapa Dewa mimpi menujuk Deska?.
"Hah... Deska, itu Deska?" Dewa mimpi memasang wajah tidak pahamnya.
Aku memgangguk mengiyakan.
"Ahahahaha..." Dewa mimpi tertawa terbahak-bahak.
'Ada apa?' pikirku.
"Hey! Deska, nama yang bagus untukmu. Hahaha...
A... Kau tidak mengetahui siapa dia?" Dewa mimpi memasang wajah anehnya.
Aku mengeleng.
"Iya... Nama yang bagus untuku, tapi tidak bagus diucapkam olehmu" Deska berjalan menaiki tangga cahaya.
Pupil mataku membesar melihat Deska berubah. OMG dia bukan Deska tapi, Candis.
__ADS_1
Candis...