I'm to go world fantasy

I'm to go world fantasy
Episode 53


__ADS_3

"Homm... Sudah pagi" zahu mengucak ngucak matanya.


"Em... Hhiii..." zahu terkejut melihat tuannya tudur disebelahnya dan lagi amoo memeluknya sepertinya amoo mengangap itu guling.


"Amoo... Amoo... Bangun... bangun..." zahu membangunkan amoo dengan pelan pelan.


"Em... Hari masih pagi, sabarlah aku masih mengantuk" ucap amoo dengan mata tertutup.


"Haiss... Bangun lah..." geram zahu.


"Apa..." amoo ngas.


Jreng... Mata candis terbuka karena ribut.


zahu langsung terkejut melihat tuannya yang terbangun.


"Pagi pagi sudah membuat ribut, ada apa?" amoo emosi.


Zahu memalingkan badan.


"Itu... Siapa disampingmu" ucap zahu pelan.


"Apa... Apa maksudmu, siapa disampingku!" tanya amoo kebingungan.


Saat amoo memalingkan badan, amoo terkejut setengah mati melihat yang dia peluk itu tuannya.


"Aaa... Maaf... Maaf tuan, aku tidak sengaja" ucap amoo bersujud.


"Em... Bangunlah, jangan seperti itu ingat kita dimana, aku hanya saja jangan teriak lagi ditelingaku aku tidak suka" ucap candis.


"Baik tuan... Baik tuan..." ucap amoo.


"Ah... Tuan, zahu ada sesuatu yang


Ingin disampaikan" ucap amoo senang.


"Apa benar yang dikatakan amoo" ucap candis.


"Benar tuan" ucap zahu merendahkan diri.


"Apa yang inging kau sampaikan zahu?" tanya candis.


"Ini masalah tentang nona tuan, menurut saya, kelihatanya nona seperti tidak ada hubungan suami istri dengan qiqi," ucap zahu.


Mendengar itu ekpresi candis berubah, dan amoo terkejut.


"Kenapa kau berpikir begitu" tanya candis.


"Karena kemarin saya lihat nona tidur terpisah dengan qiqi, dan lagi mereka kelihatan menjaga jarak, tidak mungkin jika nona sudah menikah jadi seperti itu,


Intinya mereka tidak menikah dan mereka hanya bersandiwara" jelas zahu.


"Berarti kita punya kesempatan, jadi tuan hari ini kita tidak pulang keistana tuan" ucap amoo.


"Hem... Jika dugaan mu itu benar..." perkataan candis belum selesai.

__ADS_1


"Tuan ada apa?" tanya zahu.


"Kelihatanya aku ketahuan, lebih baik aku pergi sekarang..." ucap tabin mo.


Tabib mo segera meninggal kan tempat itu.


Candis berdiri, dan berkata


"Ada yang mendengar pembicaraan


Kita, tangkap dia" perintah candis.


Amoo dan zahu menghilang begitu saja, setelah mendapat perintah.


Sedangkan tabib mo.


"Hah... Hah... Istriku aku sudah tahu diantara mereka siapa penguasa kegelapan, istriku kenapa kau tersenyum?" ucap tabib mo.


"Ternyata kau, ya?" ucap zahu.


"Siapa kau?" tanya tabib mo.


Zahu yang menyamar menjadi nyonya, dan berubah kembali menjadi dirinya.


Betapa terkejutnya tabib mo melihat itu.


"Kau pasti anak buahnya penguasa kegelapa, dimana istriku?" tegas tabib mo.


"Tenang lah dia baik baik saja" ucap zahu santai.


"Aku ingin bertemu dengan istriku" tabib mo marah.


Tap... Zahu muncul dihadapan candis dengan membawa tabib mo.


Tabib mo ketakutan melihat candis, dan nyonya ternyata sudah ada disana juga.


"Kalian tau, kalau kalian berurusan denganku tuanku apa yang akan terjadi dengan kalian" ucap amoo.


"Saya tau apa akibatnya, Tuan kegelapan... Maafkan saya dan istri saya, saya akan menjaga


Menjaga rahasia ini, dan kami akan menutup mulut kami" ucap tabib mo ketakutan.


"Alh... Kau hanya berkata saja," ucap zahu.


"Maafkan kami... Tuan... Maafkan kami..." ucap nyonya.


"Lepaskan mereka..." perinah candis.


"Tapi tuan," protes zahu.


Candis menatap zahu dengan tajam.


"Baik tuan..." ucap zahu.


Mereka pun melepaskan tabib mo dan nyonya.

__ADS_1


"Apa saja yang kamu ketahui tentang pembicaraan kami tadi?, dan kapan kau metasakan kehadiran ku" tanya candis.


Lalu tabib mo mencetitakan nya.


Sedangkan ditempat lain.


"Hisss... Bagaimana cara melepas perban ini, kenapa susah sekali untuk melepaskannya" ucapku geram, karena tidak bisa membuka nya.


Kulici yang melihat tuannya itu tidak bisa membuka perbannya.


"Tuan biar saya bantu tuan untuk membukakan perban nya" tawar kulici.


"Em... Baiklah, tolong ya" ucapku menerima tawaran kulici.


Kulici pun membantu membukakannya.


"Apa lukanya sudah sembuh, tuan?" tanya kulici.


"Em... Kelihatannya sudah sembuh, mungkin..." jawabku ragu.


sedangkan diluar ada yang mengintip pembicaraan aku dan kulici, ternyata itu qiqi kelihatanya qiqi cemburu.


Sedangkan tabib mo yang berhadapan langsung dengan candis membuat


Kesepakatan kalau tabib mo dan nyonya harus membantu candis dan merahasiakannya dari ku, dan bersikap biasa biasa saja ketika melihat dirnya(candis dan anak buahnya), dengan begitu maka tabib mo akan dilepaskan, dan tabib mo setuju dengan perjanjian itu.


Beberapa jam kemudian


Seperti biasa Kami belajar seperti biasa, masalah masalah penyakit, dan setelah itu kami menjaga toko.


Tak terasa malam pun tiba.


Setelah selesai makan, aku belajar diruang belajar, tiba tiba saja qiai datang menghampiri diri ku, dan berkata.


"Rio... Apa kau sibuk, Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" ucap qiqi.


"Mau bicara apa?" tanyaku.


"Aku tau aku tidak pantas mengatakan ini kepadamu, tapi aku mau mengatakannya kepadamu, karena perasaan ini selalu mengangguku, jadi aku ingin mengungkapkannya..." perkataan qiqi belum selesai dan qiqi berbicara dengan gugup.


"Qiqi apa kau masih demam" ucapku sambil memegang kepalanya.


"Eh... Sikap ini yang selalu membuatku salah tinggkah," guma qiqi dalam hati.


"Em... Badanmu Masih panas, lebih baik kau istirahat saja bagaimana?," tanyaku.


"Em... Baiklah..." ucap qiqi.


"Apa lain kali saja aku beritahu tentang perasaan ini" guma qiqi dalam hati.


aku pun mengantarkan qiqi kekamarnya dan saat kami sampai dikamar qiqi langsung naik keatas tempat tidur, dan aku langsung membentang kasur lalu tertidur.


Keesokan harinnya.


pagi pagi sekali kami disuruh berkumpul untuk mencari tanaman obat digunung, dan kami dibagi menjadi 2 kelompok dan daerah yang berbeda, yaitu kelompok, kelompok pertama terdiri dari : aku, nyonya, qiqi, dan kulici, kami akan mencari tanaman obat di gunung bagian timur.

__ADS_1


Sedangkan kelompok 2 terdiri dari: candis, tabib mo, amoo, dan zahu, mereka mencari tanaman di gunung bagian barat.


Karena sudah dibagi bagi, kami pun pergi berpencar mencari tanaman obat.


__ADS_2