
Matahari terbangun dari tidurnya matanya yang masih jinga meredup di upuk timur.
"Aku menyayangimu candis sungguh....," suara wanita yang berbisik ditelinga candis dengan lembut, rambutnya yang bekobaran singgah dimuka candis matanya yang coklat kekuning kuningan terlihat indah, tanganya yang lembut itu membelai candis, tiba tiab ada pria lain yang membawa wanita itu pergi, dengan sigapnya candis berteriak...
"pergi kau jauh jauh," ucap candis, tapi hatinya berkata "jangan pergi,"
"Jangan Pergi... Jangan Pergi...," candis megigau lagi tangannya megengam guling dengan erat,
Sying.... kuku kuku candis yang tiba tiba memanjang menusuk bantal guling yang tak bersalah itu,
"Egghh... Jangan Pergi...," kalimat igauan candis yang diulangi berkali kali, sepertinya candis mengalami mimpi yang tak menyenangkan lagi, tangannya memeluk bantal guling dengan erat,
dengan perlahan ia membuka matanya,
Candis duduk dengan perlahan mengusap mukanya yang penuh dengan peluh, candis menarik napas panjang Suara wanita yang ada dalam Mimpi itu masih berguma ditelinga candis "Aku menyayangimu candis sungguh....,"
Candis mengusap rambutnya,
Sepertinya dewa mimpi memang memberikan petanda, entah petanda apa sampai sampai mimpi itu menghatui candis setiap malamnya.
Suasana pagi yang masih hening candis memegang cincin ditangannya, dengan lemah candis menatap cincin itu, sepertinya cincin itu penuh kenangan bagi candis.
"Hah... Kenapa aku masih mengantuk ya!," guma candis mengambil air minum yang ada diatas meja, ketika candis ingin meminumnya,
Tezzz... Insting candis mengetahui sesuatu, "bau obat," guma candis mengerutkan dahinya, sekali lagi candis mencium gelas yang berisi air itu.
"Obat..., baunya seperti obat tidur,
__ADS_1
aaahh.... suai saja aku merasa ngantuk, siapa yang berani-berani memasukan obat tidur dalam gelas ini," guma candia berpikir.
Sejenak candis berpikir,
"Aku tertidur ditempat tidur, seharusnya yang tidur disini....,
ah... Kasturi,
diama dia?," candis baru ia sadar kalau aku aku tidak ada ditempat.
"Kasturi tidak ada ditempat, apa jangan jangan...," ucap candis megengam gelas ditanganya dengan kuat sampai samapi
Kerkk... Gelasnya pecah.
Candis menutup matanya mencoba merasakan keberadaanku, dengan sekejap matanya terbuka, sepertinya candis mengetahui keberadaanku.
Zasss... Candis pergi mencariku dengan cepat candis bergerak.
"Tidurkah ini pingsankah," ucap pria yang membawaku kabur mengelengkan kepalanya.
Dia keluar meninggalkan aku,
"Bagaimana apa dia sudah bangun?" suara yang barasal dari pojok.
"Antara tidur dengan pingsan," jawab pria itu singkat, berjalan menuju suara itu.
"Guru sebenarnya siapa dia?," tanya pria itu .
__ADS_1
Gurunya hanya tersenyum tipis, berkata "apa harus aku jelaskan sekali lagi,".
"Tapi apa benar dia?,
Tidur aja seperti pingsan, ngigau,
Apa benar itu dia?," tanya pria itu.
"Em... Gawat... Gawat...," ngigauku.
"Tuhkan kan ngigau lagi?," guma pria itu.
Tiba tiba...
Bar... Suara ledakan yang amat keras,
sampaiSampai membuat seisi rumah terkejut, membuat rumah seperti mau ruboh saja, aku yang teetidur saja sampai sampai terjatuh dari tempat tidur, brakk...
"aduh... Suara apa itu, bokongku sakit sekali," keluhku.
Dengan segera penghuni rumah keluar dari rumah,
"Apakah itu candis, tapi bagaimana mungkin candis bisa sadar secepat ini," gumaku, karena penasaran aku juga bergegas ikut keluar betapa terkejutnya ketika aku melihat siapa yang ada didepan rumah, kabut tebal disertai debu betebaran, terlilihat dari dalam kabut ada makhluk dengan badan besar, ohokk... Ohokk... Batuk makhluk itu
Makhluk itu berjalan mendekati kami, aku megengam erat tangan pria yang membawaku kabur itu,
"Hy!, lepaskan," ucap pria itu tidak senang.
__ADS_1
Kabut yang tebal itu disertai dengan debu mulai munghilang, terlihat jelas sekali makhluk yang keluar dari kabut itu, ternyata makhluk yang ku kira itu besar ternyata tasnya saja yang besar, makhluknya kurus kerempeng.