
Keesokan paginya.
"Hom... Pagi kulici" sapaku.
Ctak... Suara piring pecah.
Kulici terkejut saat melihatku.
"Ssiapa kau?" tanya kulici.
"Ini aku, tuanmu" jawab ku.
"Tidak mungkin, tuanku itu laki laki bukan perenpauan" ucap kulici.
"Perempuan..." ucap keheranan.
Aku menuju kecermin, saat aku lihat diruku aku pun awalnya aku terkejut, melihat diriku yang sudah kembali menjadi seperti semula.
"Apa kau kekasih barunya tuan?,
Apakah kau murid baru disini?," tanya kulici.
Aku tidak memperdulikan ucapan kulici, Sangking senangnya lalu aku peluk kulici.
"Hy! Apa apaan kau ini" ucap kulici.
"Apa kau tidak ingat dengan ku, aku tuanmu" ucapku.
"Tuanku..." kulici masih tidak percaya.
"Kau lihat baik baik aku," perintahku.
Kulici pun melihat ku dengan baik baik,
Sampai akhirnya dia menyadarinya.
"Tuan... Apa benar ini kau, kenapa tuan bisa berubah seperti ini" tanya kulici.
"Ini memang aku yang sebenarnya, kau jangan panik, aku akan ceritakan kenapa aku bisa berubah menjadi laki laki" ucapku.
Aku
menceritakan kejadiaan yang membuatku berubah menjadi laki laki, dan kenapa aku sampai kukota ini, dan bersandiwara dengan qiqi tentang status kami sebagai pasangan suami istri,
Dengan panjang lebar aku menceritakan akhirnya kulici memahaminya.
"Jadi tuan...
Ah... Maksudku nona, anda adalah wanita," ucap kulici.
Aku hanya menganguk anguk.
Sedangkan ditempat lain.
"Kenapa ramuan yang engkau breikan kepada ku tidak bekerja sama sekali," ucap candis.
"Tuan hamba benar benar tidak tau, kalau ramuan itu bekerja atau tidak, karena saya baru pertama kali membuatnya" ucap tabib mo.
__ADS_1
"Tuan... Nona, dia... Telah berubah kembalu menjadi wanita" ucap zahu.
"Kau boleh pergi sekaeang, tabib mo" perintah candis.
Candis segera menemui ku.
"Kasturi apa benar kau sudah kembali menjadi wanita?" guma candis dalam hati.
Candis pergu meninggalkan tempatnya dan pergi menemui ku.
"Apa benar yang kau katakan?" tanya tabib mo.
"Benar aku melihat nya sendiri" jawab zahu.
"Kalau begitu aku berhasil" tabib mo
Gembira.
Saat candis sampai didepan pintu kamarku, dan mengetuk pintu kamar.
Tok... Tok... Suara ketukan pintu.
"Siapa pagi pagi begini mengetuk pintu kamarku" ucapku.
Saat aku membuka pintu, aku tak menyakngka kalau yang berdiri dihadapan ku ini adalah candis.
"Candis..." panggilku.
Hah... Kau benar benar sudah kembali," ucap candis gembira.
Tamapa pikir panjang lagi aku langsung memeluk candis, dan meneteskan air mata.
Hatiku terasa lapang sekali, setelah bertemu dengan dia,
"Ini benar benar kau, kau telah berubah kemabali" tanya candis.
"Iya ini aku..." jawabku.
Candis melepas pelukan dan memegang mukaku.
"Kasturi ayo kita kembali keistana, dan neninghalkan kota ini" ajak candis.
"Tapi..." jawabku ragu.
"Tapi apa?
Kau jangan khawatir aku akan selalu melindungimu, percayalah" ucap candis.
Aku menganguk anguk, menandakan aku setuju.
"Tuan apa aku boleh ikut dengan mu" ucap kulici yang tiba tiba datang.
Aku melihat kearah candis mengharap kalau dia membolehkan kulici
Ikut bersamaku, candis menganguk anguk mengizinkan kulici ikut bersamaku,
Dan aku menjawab.
__ADS_1
"Boleh..."
Mendengar itu kulici sangat bahagia.
Sedangkan amoo yang tidak tau apa apa,
yang terjadi dengan keadaan sekitarnya, karena sedang tertidur pulas.
Matahari pun mulai naik menandakan hari sudah tengah hari.
"Tuan ada berita buruk" ucap zahu.
"Berita apa?" tanya candis.
Zahu membisikan berita itu, mendengar berita itu candis terkejut.
"Apa?
Berani beraninya dia?,
Kalau begitu, zahu kau harus pulang bersama amoo dan kulici pulang duluan, kau urus dia, jika dia menanyakanku,
Bilang kalau aku ada urusan" ucap candis.
"Baiklah tuan" ucap zahu.
Candis menemui kasturi.
"Kasturi ayo kita pergi sekarang," ajak candis.
"Eh... Tapi bagaimana dengan kulici apa dia juga ikut?" tanhaku.
"Kukici kau akan pulang bersama dengan zahu dan amoo, ayo sekarang kita pergi" ajak candis.
"Tunggu dulu, aku belum berpamitan dengan tabib mo dan nyonya" tegasku.
"Kalau begitu ayo kita pergi pamitan dan langsung Pergi." ucap candis.
"Tapi aku ingin bersama, kulici ..." ucapku.
"Nona, anda pergi saja dahulu, nanti kita juga akan bertemu" ucap kulici.
Aku pun pergi menemui tabib mo dan nyonya.
"Tabib mo, nyonya terima kasih telah merawatku dan lagi aku akan pergi dari sini,..." perkataanku belum selesai.
"Iya kami sudah tau kok" ucap nyonya.
"Pergilah nak...", ucap tabib mo.
"Nyonya terimakasih," ucapku, sembil memeluk nyonya dan tabib mo.
"Ah... Aku juga berterimakasih karena kalian sudah merawat kasturu, aku ucapkan terima kasih" ucap candis
"Iii... Jangan sungkan, sudah jadi kewajiban kami menolong sesama" jawab tabib mo ketakutan.
"Kenapa tabib mo dan nyonya kelihatan ketakutan," gumaku dalam hati.
__ADS_1
Setelah pamitan aku dan candis langsubg pergi meninggalkan kota tabib.