
"Kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Candis dengan mimik muka yang serius.
"Ah... Iii... Itu..." aku tergagap gagap menjawab pertanyaan Candis, dan melangkah mundur.
Candis malah melangkah memaju mendekatiku aku terus melangkah mundur dan Candis terus melangkah maju.
Sampai sampai...
Brukk... Aku terduduk diatas tempat tidur, aku tak bisa lari lagi aku terpojok, dan dia semakin mendekat...😫
"Kenapa aku tak boleh masuk?" bisik Candis yang membuatku merinding.
"Itu... Itu..." lagi lagi aku tergagap gagap menjawab pertanyaan Candis.
Jantungku berdetak kencang lagi, penyakit jantungku kambuh lagi, sekarang detakannya semakin kencang, badanku panas dingin.
"Suara jantungmu indah sekali," candis mendekatkan telinganya kearah jantungku,
Candis mendengarkan detak jantungku begitu lama.
"Can... Candis... Yah... Tertidur," aku mengusap usap rambut candis "kalau dilihat Candis berbeda sekali dari yang pertama kali aku bertemu dengan dia, dia sangat mengerikan dan kata makhluk makhluk lain Dia juga sangat kejam, berdarah dingin.
Tapi, aku rasa sekarang dia tidak seperti yang dibicarakan," gumaku tersenyum menatap candis.
Aku membaringkan candis ditempat tidur, dan segera memperbaiki kekacauan yang aku buat satu persatu barang barang yang aku tumpuk didepan pintu ku kembalikan ketempatnya.
Berapa jam kemudian setelah merapikan kekacauan yang aku buat, aku pergi meningalkan kamar berjalan jalan mencari zahu dan Amoo.
"Zahuuuu... Amooooo..." panggilku dengan pelan.
__ADS_1
Panggilanku sampai ketelinga Zahu.
"Em... Ada yang memangilku" guma Zahu menghilang begitu saja.
Tiba tiba...
Zasss... Zahu muncul dihadapnku yang sempat membuatku kaget.
"Ada apa nona memangilku?" tanya Zahu.
"Ah... Itu...
Aku mau nanya masalalu candis," aku ragu-ragu ingin bertanya.
"Anda ingin mengetahui masalalu tuan?" Zahu terlihat terkejut.
"Em..." Zahu ragu ragu ingin menjawab.
"Zahu apa ada sesuatu yang kau sembunyikan, kau kelihatan panik," aku mendekati zahu.
"Em... Nona tuan memanggilku," Zahu beralasan.
"Candis sedang tidur, mana mungkin dia memanggilmu," ujarku.
Zahu ingin kabur tapi sempat aku tahan.
"Zahu kenapa kau mau kabur?
Kenapa kau tidak mau menceritakannya?" nada bicaraku mulai menaik.
__ADS_1
"Nona... Aiss... Berjanjilah nona, nona tidak akan memberi tahu tuan kalau aku yang menceritakannya" ujar Zahu.
Aku menganguk anguk mengiyakan.
Zahu menarik tanganku, megengam tanganku dengan eratnya.
"Kau mau membawaku kemana?" tanyaku mulai panik.
Zahu tidak menjawab ia terus melanjutkan langkahnya aku pun mengikutinya, ketika aku sadar dia membawaku masuk kekamarnya, dengan gerak gerik yang mencurigakan Zahu menutup pintu kamarnya, Zahu bergerak cepat menutupi semua celah celah yang memungkinkan bisa dimasuki makhluk lain, Zahu melangkah maju meliriku tersenyum tipis,
Perasanku mulai tak enak, saat melihat ia membuka sedikit bajunya, aku melangkah mundur sampai
Terduduk diatas tempat tidurnya.
"Huh... Panas," Zahu mengibas gibaskan bajunya menarik kursi dan duduk dihadapanku.
Ternyata Zahu hanya kepanasan aku kiara dia akan berniat buruk kepadaku.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanyaku gelisah.
"Bukankah tadi nona memintaku untuk menceritakan sedit tentang tuan" ujar Zahu mengibas gibaskan bajunya.
"Iya tapi aku tidak minta kau membawaku kesini!" sahutku.
"Nona aku Mencari tempat aman untuk bercerita, Disini mungkin aman untuk bercerita, apa lagi yang diceritakan ini masalah tuan jadi harus sembunyi dan rahasia, kisah tuan ini benar benar tak banyak makhluk yang tahu,"
ujar Zahu serius.
"Kalau begitu ceritakanlah cepat," pintaku memaksa zahu yang tegang peluh sebesar biji jagung keluar membasahi tubuhnya, dia seperti tidak sanggup untuk menceritakannya.
__ADS_1