
Setelah satu persatu diobati akhirnya toko sunyi.
"Ah... Bagaimana, apa lukanya baikan" tanya nyonya.
"Em... Sudah baikan" jawab qiqi.
"Sebenarnya, langkah yang suami mj ambil tadi, langkah yang cukup efektip" nyonya memoji.
"Ah... Benarkah" qiqi tersenyum mendengar itu.
"Yah... Melihat kalian, aku teringat masa masaku dulu saat masih muda dengan suamiku..." panjang lebar nyonya menceritakan kisah dia bersama suaminya saat mereka masih muda.
"Ah... Lelah sekali" aku yang kelelahan duduk dikursi.
"Em... Rio... Apa kau mau ikut aku pergi ke desa sebelah" ajak tabib mo.
"Untuk apa kesana" tanyaku.
"Kedengaranya disana terkena wabah, jadi sebagian tabib dikota ini pergi kesana dan aku juga diperintahkan kesana, apa kau mau ikut" jawab tabib mo.
"Em... Aku mau ikut, sekaligus menambah kemampuanku, kapan kita akan berangkat" tanyaku kesenangan.
"Yah... Sebentar lagi..." jawab tabib mo, menghela nafas.
Aku langsung pergi menemui qiqi
"Ah... Qiqi... Aku mau bicara sebentar" pangilku.
"Apa barusan kau pangil nama dia,
haduh... seharusnya bukan begitu, suamiku contohkan..." sangkal nyonya memberi mencontohkan.
"Ah... Baiklah..." tabib mo malah setuju.
Istriku... Aku mau bicara denagnmu" ucap tabib mo
"Baiklah, suamiku" ucap nyonya.
"Em... Tapi kami..." pembicaraan terpotong.
"Ah... Sekarang kalian jangan pangil nama harus pakai pangilan suami dan istri" ucap nyonya memotong pembicaraan.
"Ayo cepat contohkan" pinta tabib mo.
__ADS_1
"Ah... Istriku, bisakah kau kemari sebentar, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu" aku mengikuti yang di contohkan.
"Baiklah... Nyonya saya permisi dulu" ucap qiqi.
"Ya... Silahkan" kata nyonya.
Aku membawa Qiqi jauh ke kamar.
"Ah... Qiqi, bagaimana ini?, kita bukan pasangan suami istri, tapi mereka mengangap kita benar benat pasangan suami istri, jika nyonya dan tuan mengetahuinya kita dalam keadaan yang gawat, bagaimana kita menjelaskan ini pada mereka" ucapku panik sekali
"Ah... Aku juga tidak tahu harus bagaimana" qiqi kebingungan.
"Tapi kalau kita sudah Terlanjur begini, tapi kita tidak mengaku, dan kita tidak berbohong, mereka saja yang mengangap kita begitu" tawar qiqi.
"Jadi maksudmu, kita bersandiwara atas semua ini, boleh juga!" ucapku setuju.
"Ah... Mungkin..." perkataan qiqi terpotong.
Tap... Tap... Suara langkah, yang tiba tiba datang.
"Ada yang kesini!" bisik ku.
"Gawat, bagaimana ini" Qiqi mulai panik.
Mereka mencoba menguping pembicaraan kami.
"Ah... Apa kedengaran" ucap nyonya.
"Huss... Pelankan sedikit suaramu, nanti kita ketahuan" pinta tabib mo.
"Ah... Apa sebenarnya yang mereka bicarakan" tanya nyonya.
"Em... Geser sedikit aku tidak mendengar" pinta nyonya.
Tuan mo dan nyonya mencoba menguping pembicaraan.
"Ah... iya, istriku aku akan pergi, dengan tabib mo, ke desa sebelah" ucapku menalihkan perhatian.
"Kenapa suamiku" tanya qiqi.
"Em... Disana terkena wabah, dan sebagian dari tabib dikota ini pergi kesana untuk mengobati, dan tabib mo akan pergi tentu aku ikut untuk membantunya, dan mencari pengalaman" jelasku.
"Em... Jadi malam ini aku sendiri sepi, tapi semangat ya, hati hati, jangan sampai kau sakit disana, nanti aku jadi khawatir" kata qiqi.
"Ah... Ternyata dia hanya memberitahu istrinya" ucap tabib no menguping.
__ADS_1
Tiba... Tiba...
Kreet... Suara pintu terbuka.
"Ah... Ayo kita pergi dari sini" ajak nyonya.
Mereka pun pergi.
"Em... Suamiku, mereka itu pasangan yang romantis, ya. Terkadang aku iri dengan mereka" tanya nyonya.
"Apanya yang kau irikan" tanya tabib mo
"Ah... Saat kita muda dahulu kita sering romantis, tapi sekarang kau tidak romantis lagi" jaqab nyonya.
"Ah... Sadar diri, kamu sekarang sudah tua, mau romantis romantis malu, tau" sindir tabib mo.
"Ah... Melihatnya aku selalu teringat kita saat muda" keluh nyonya.
"Ah... Kalau itu aku setuju" tabib mo ikut setuju dengan nyonya.
Beberapa jam kemudian.
"Kami pergi dulu" ucap tabib mo memeluk istrinya.
"Ah... Suamiku, hati hati" ucap nyonya.
"Kau tidak melakukan itu kan..." simdirku.
"Em... Suamiku, cepat pulang ya, dan hati hati" kesal qiqi mencubit pipiku.
"Aduh... Aduh... Sakit, iya aku akan hati hati" ucapku memegang tangan Qiqi.
Saat aku pergi, Qiqi dan ku nyonya melambaikan tangan.
Akhirnya kami pun pergi ke desa itu,
Saat kami hampir tiba didesa.
"Em... Rio, ini pakai ini untuk melindungi mu, agar tidak terjangkit wabah" kasih tabib mo.
Aku memakai kain itu, dan
Menutupi hidung dan mulutku, ini bukan kain biasa, soalnya udara yang aku hirup seperti segar, dibandingkan dengan tadi sebelum memakainya.
Aku dan tabib mo memasuki desa,
Saat kami sampai kami disibukan dan langsung menolong.
__ADS_1
Aku yang melihat mereka keaakitan, dan teriak teriak, aku langsung menolong mereka sebisaku, saat mereka mulai tenang dan kami semua para tabib, kelelahan dan kami istirahat, dan mereka membahas masalah ini, karen aku tidak tahu apa apa aku keluar dan memeriksa keadaan warga.