
1 hari, 1 malam kami merawat mereka,
Sejauh yang kami pantau, mereka membaik.
Aku menceritakan kejadian itu kepada para tabib, dan kepala desa.
".... Katanya, aku harus mananyakan nya sendiri kepada penduduk desa" ucap ku
"Tuan sebanarnya apa yang terjadi didesa ini, dan apa yang kalian lakukan kepada dia?" ucap tabib mo.
Kepala desa itu langsung pucat ditanya seperti itu.
"Ah... Itu, anak itu memang kami usir dari desa karena dia mengidam penyakit yang berbahaya takutnya warga desa tertular penyakit yang itu" jawab kepala desa dengan terbata bata.
"Aneh sekali, mencurigakan..." gumaku dalam hati.
"Ah... Kami malakukan ini demi penduduk desa" ucap wakil kepala desa
Kenapa kalian tidak membawanya kekota atau memangil tabib kesini?" ucap ku.
"Benar sekali, apa yang dikatakan rio, seharusnya kalian mengantarnya kekota, kami akan coba membantunya"
"Iya... Ini adalah tugas kami sebagai tabib, menolong yang kesusahan"
"Iya! Benar itu"
Ucap para tabib.
"Ah... Itu, bukan masalah itu saja" ucap kepala desa.
"Ada masalah apa lagi" ucap tabib zan.
"Itu... " kepala desa yang ragu ragu.
"Itu ... Apa" bentak tabib zan.
"Itu... Dia..." perkataan kepala desa yang terpotong.
Aaaaa... Suara teriakan.
Aku dan para tabib melihat apa yang terjadi.
Saat kami sampai, para penduduk desa, mengeliat mengeliat ketanah, dan berteriak teriak.
Kalau di duni moderen seperti zombi.
Mereka menyakiti diri mereka sendiri.
"Ah... Mereka mengerikan sekali, seperti zombi..." guma ku dalam hati.
"Ah... Para penduduk desa kelihatanya, semakin parah"
"Padahal tadi mulai membaik"
"Kita gunakan saja, ilmu leluhur kita"
__ADS_1
"Baik..."
ucap para tabib lainnya.
Entah... Apa yang para tabib lakukan sepertinya itu jurus yang ampuh, dan kuat sekali.
"Ah... Mataku, silau sekali" aku menutupi mataku.
kepala desa dan wakilnya juga menutup matanya.
Cahaya yang tiba tiba timbul itu membuatku mataku silau sekali.
Saat aku membuka mataku para penduduk desa membaik, dan dilantai banyak sekali ulat, dan bentuk ulat itu aneh sekali, itu membuatku mual ingin muntah.
Jika kalian mengalami yang seperti itu, bagaimana?
"Ah... Ternyata ini penyebabnya"
"Musnahkan saja mereka ditempat ini"
ucap para tabib lainnya.
Saat para tabib ingin memusnahkan ulat yang aneh itu.
Tiba tiba...
Bommm... Muncul sosok makhluk yang aku lihat kemarin.
"Itu... Itu..." para warga ketakutan.
"Kalau iya bagaimana?" ucap monster itu.
"Ah... Kau, berani beraninya kau menyebarkan wabah didesa ini, dasar kau iblis" ucap kepala desa.
"Hah... Apa yang kau bicarakan, kau lah yang menyebabkan aku begini, apa kau tidak sadar?" monster itu marah marah.
"Apa... Maksudmu?" ucap kepala desa.
"Kai masih berlaga...
Kau yang menginginkan kedudukan kepala desa bukan" monster itu, melotot.
"Ah... Aku tidak mengerti maksudmu" kepala desa yang kebingungan.
Brakkk... Makhluk itu menyerang kepala desa dengan cepat.
Dinding yang dari batu
Ini hancur.
"Agh... Lepaskan"kepala desa yang kesakitan.
Makhluk itu mencekik kepala desa.
"Kau... Yang menyebabkan aku menderita penyakit seperti ini, tapi sayang sekali kau berharap mati, tapi aku masih hidup dan berkat kau aku menjadi, dewa penyebar wabah, dengan kekuatan ini kau dan penduduk desa akan menderita, seumur hidup, hahahaa...
__ADS_1
Inilah balasan bagi kalian" ucap monster itu.
"Ah... Kakak..." wakil wali kota mencoba mendekat.
"Tunggu jangan mendekatinya kau lihat ditubuhnya sudah dipenuhi dengan hewan hewan yang sangat berbahaya, dan juga sangat mematikan" ucap tabib siqa.
"Racunya sangat mematikan, bahkan menyembuhkanya pun sangat susah"
"Berhenti, azar..." ucapku.
"Kau lagi... Apa yang ingin kau lakukan sekarang" azar memalingkan mukanya.
"Bukan dia yang bersalah atas semua kejadian ini," ucapku meyakinkan dia.
"Apa maksud mu?" azar menatap dengan seram.
"Wah... Tatapan ini menyeramkan sekali, aku seperti berhadapan langsung dengan hantu yang menyeramkan" guma dalam hati.
Sebelumnya...
Aku mengetahui kbenara tentang mesalah wabah ini, dari sebuah wanita yang aku selamatkan itu.
Saat itu
Para tabib bicar dengan kepala desa dan aku keluar melihat keadaan wanita yang aku tolong itu, bahkan tempanya pun dibedakan dengan para penduduk, para tabib mengusulkan begitu, takutnya wanita itu tertular penyakit, karena dia yang tidak sakit.
Saat aku sampai ditempat wanita itu.
"Ah... Nona bagaimana keadaan mu apa kau baik bail saja"
"Jangam mendekat... Jangan mendekat..." ketakutan.
"Tidak apa apa aku hanya memeriksa anda saja, aku tidak akan mencelakai anda" tersenyum.
Wanita itu pun diam.
"Sini tangan anda, biar saya periksa" ucap ku dengan lembut.
Wanit itu pun memberikan tangannya, saat aku periksa, denyut nadinya bagus...
"Ah... Cuma anda, kepal desa dan wakil kepala desa yang sehat, dan tidak terjangkit penyakit itu" ucap ku menyakinkan dia.
Wanita itu menarik kembali tangannya, dengan cepat dan dia kelihatan gemetar ketakutan.
"Kelihatanya dia ketakutan sekali" gumaku salam hati.
Aku duduk disamping nya, dan mencoba mengajaknya berbicara, sepertiny dia mengetahui sesuatu,
Sebenarnya apa yang dia takuti, dan apa yang
Sebenarnya dia ketahui?...
__ADS_1