
Masih di malam yang sama. Bara dan Sian tidur di satu ranjang. Sepertinya Sian sudah mulai menerima Bara di atas ranjangnya.
Mereka tidur saling berhadapan, menatap wajah satu sama lain. Namun, setelah 15 menit Sian tertidur lebih dulu. Dengan perlahan Bara meletakan tangan kanannya di bawah kepala Sian, dan kemudian Bara menarik pinggang Sian mendekatinya. Setelah itu Bara menutup matanya sembari memeluk Sian.
Matahari sudah terbit. Pukul 06:28 JST atau Japan Standard Time.
Sian terbangun terlebih dahulu dari pada Bara. Saat memuka matanya dia sudah berada di dalam pelukan Bara saat ini.
Apakah aku tertidur di dalam pelukannya semalaman?
Perlahan Sian bergerak menyingkirkan tangan Bara yang melingkari pinggangnya. Namun, saat dia hendak beranjak, tiba-tiba Bara kembali melingkarkan tangannya di pinggang Sian dengan berkata.
“Pagi sayang, kamu mau pergi ke mana? Ini masih sangat pagi sekali, nanti saja perginya. Temani aku dulu berbaring di sini.”
Sian kembali berbaring menghadap Bara.
“Bara aku harus siap-siap sekarang, karena jam 9 jadwal penerbangan ku kembali ke Indonesia.”
“Apa?!” kaget Bara yang langsung beranjak duduk dari tidurnya.
“Kenapa tiba-tiba pulang, bukannya jadwal penerbangan mu masih tersisa 3 hari lagi?” tanya Bara.
“Tahu dari mana kamu kalau jadwal penerbanganku 3 hari lagi?”
Sian menatap Bara curiga, kenapa bisa Bara tahu jadwal penerbangannya sebelum menggantinya.
Bara terlihat sedang berpikir ingin menjawab apa. Seharusnya dia tidak mengatakannya, tetapi sudah terlanjur basah. Kemudian Bara mengaku.
“Tahu dari mama Vian,” lirih Bara.
Sian menghelakan nafas lelahnya, dia tidak habis pikir dengan mamanya Vian yang selalu ikut campur urusan rumah tangganya. Sian tahu jika buka Bara yang sengaja menanyakan jadwal penerbangannya, tetapi mamanyalah yang memberi tahukannya kepada Bara. Oleh sebab itu Sian tidak marah pada Bara saat ini.
Kenapa sih mama selalu ikut campur urusanku.
“Sayang, kenapa cepat banget sih pulangnya? Nanti saja ya pulangnya, nanti kita jalan-jalan mau?”
Bara berusaha mencoba merayu Sian agar tidak jadi pulang ke Indonesia.
“Maaf Bara bukannya aku tidak mau, tetapi aku harus pulang hari ini karena ada operasi penting yang harus aku lakukan malam ini. Jadi aku tidak bisa menunda penerbangan ku lagi.”
“Jika memang begitu, baiklah. Aku izinkan kamu pulang, tapi dengan satu syarat.”
__ADS_1
“Katakan apa syaratnya?”
“Aku ingin mulai dari sekarang kamu tidak lagi memanggilku dengan sebutan Bara, aku ingin kamu panggil aku sayang atau Honey.” Ucap Bara tersenyum.
“Kamu ingin aku panggil kamu dengan sebutan Sayang atau Honey?”
Sian terlihat sedikit geli. Saat dia memanggil Bara dengan sebutan sayang kemarin saja dia sangat terpaksa, dan sekarang Bara memintanya benaran memanggilnya dengan sebutan itu.
“Bagaimana, kamu pilih yang mana, sayang atau Honey?” tanya Bara.
Sian berpikir keras, dia tidak tahu harus memanggil Bara dengan sebutan apa. Hingga pada akhirnya dia memutuskannya.
“Mas, aku panggil kamu dengan sebutan mas saja ya?”
Bara hanya diam, dia memasang wajah cemberut karena Sian memutuskan memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ sedangkan dirinya ingin di panggil dengan sebutan sayang atau Honey.
“Sudah aku panggil Bara saja, jika tidak mau aku panggil mas.” Ucap Sian.
Satu dua tiga, berangkat sekarang juga.
Sian langsung beranjak untuk meninggalkan Bara di tempat tidur.
“Oke baiklah, kamu boleh panggil aku dengan sebutan mas. Dari pada tidak sama sekali.” Ucap Bara menghentikan Sian.
Sian terlihat bahagia sekali saat Bara menyetujuinya.
“Apakah kamu puas sekarang, menang dariku?” tanya Bara.
“Em...sangat puas sekali.” Angguk Sian dengan tersenyum manis.
Akhirnya, aku bisa membuatmu memanggil ku dengan sebutan mas dari mu. Aku tahu jika kamu tidak akan suka memanggilku dengan sebutan sayang atau Honey, makanya aku memancing mu seperti itu. Jika tidak kamu akan memanggilku dengan sebutan Bara selamanya jika aku tidak memintahnya.
Ternyata Bara sengaja meminta Sian untuk memanggilnya dengan sebutan sayang atau Honey. Bara telah menyusun rencananya sejak dari awal, dia tahu akan sulit membuat Sian memanggilnya dengan sebutan sayang. Makanya di panggil dengan sebutan mas pun Bara sangat menyukainya.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi bersiap-siap dulu ya.” Ucap Sian sembari melihat Bara.
“Udah sana, pergi siap-siap sekarang. Katanya penerbangan mu jam 9 dan sekarang sudah jam 7 lewat 45 menit.”
Sian melebarkan senyumannya melihat Bara. Sebelum pergi ke kamar mandi Cup! Sian mencium Bara sekilas kemudian dia pergi ke kamar mandi. Bara pun langsung tersenyum, karena mendapat sebuah ciuman dari istrinya itu. Kali ini Sian sudah mulai berinisiatif mencium Bara terlebih dahulu tanpa di minta.
Setelah selesai mandi dan Bersiap-siap, kemudian Sian tinggal berangkat ke bandara.
__ADS_1
“Mas, kita berangkat sekarang.” Ajak Sian.
“Maaf sayang, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai ke bandara.” Jawab Bara menyesal karena tidak bisa mengantar istrinya itu ke bandara.
“Kenapa tidak Bisa?”
“Aku harus pergi sekarang, ada urusan mendesak. Kamu tidak marah kan?”
“Tentu saja tidak mas, aku mengerti kalau mas sibuk. Mas di sini memang untuk bekerja dan aku bisa pergi sendiri ke bandar dengan menggunakan taksi.”
“Baiklah kalau begitu, mari biar aku antar kamu sampai lobi hotel.”
“Em...” angguk Sian pelan.
Kemudian mereka pergi turun ke lobi, dan check out kamar hotel. Setelah itu Bara memesankan taksi untuk Sian pergi ke bandara.
“Sayang sungguh maafkan aku karena tidak bisa mengantar mu sampai ke bandara.” Ucap Bara menyesal.
“Udah mas tidak apa-apa, mas pergi selesaikan pekerjaan mas aja sekarang biar cepat selesai. Dan mas bisa cepat pulang.”
“Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai di Indonesia.”
“Em...pasti akan aku kabari mas jika sudah sampai.”
“Kemarilah, biarkan aku memelukmu sebelum pergi.” Pinta Bara sembari melentangkan kedua tangannya ke arah Sian.
Sian tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam pelukan Bara.
“Mas jaga diri baik-baik ya selama di sini, kabari aku jika mas kenapa-kenapa.” Ucap Sian sembari mengeratkan pelukannya pada Bara.
“Baiklah, mas akan jaga diri baik-baik seperti yang istriku ini bilang.” Gemas Bara yang semakin mengeratkan pelukannya.
“Baiklah Mas, aku pergi sekarang.” Ucap Sian.
Kemudian Sian melepaskan pelukannya dari Bara. Sebelum masuk ke dalam taksi, Bara memberi sebuah ciuman perpisahan kepada istrinya Sian.
“Ummah...” cium Bara di bibir Sian.
Setelah itu Sian masuk ke dalam taksi. Kemudian taksi tersebut bergerak pergi meninggal hotel dan Bara.
“Dah...mas.” teriak Sian sembari melambaikan tangan ke arah Bara yang masih berdiri di pintu keluar hotel.
__ADS_1
Sedangkan Bara tersenyum dan membalas lambaian tangan Sian yang pergi menjauhinya.
Sampai ketemu lagi sayang, aku janji akan cepat menyelesaikan pekerjaanku di sini, dan kembali ke padamu lagi.