Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 85


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Setiap harinya keadaan Sian semakin mengkhawatirkan. Namun, tidak dia tunjukan sama sekali baik dari wajah maupun sikapnya, dia terlihat baik-baik saja dan seakan dia sangat kuat.


Sembilan bulan yang lalu, setelah berhasil keluar dari penjara bawah tanah tersebut keadaan kondisi Tubuhnya semakin lemah untuk janin yang ada di dalam perutnya itu. Seiringnya waktu berjalan Sian tidak bisa mempertahankan janinnya itu tepat pada saat dia dan dokter yang membatunya ketahuan berencana kabur dari penjara bawah tanah tersebut sehingga mengakibatkan dokter wanita yang membantunya itu meninggal dunia karena tertembak secara brutal di depan pintu keluar penjara tersebut, sedangkan dirinya mengalami pendarahan karena sempat di pukuli hingga terjatuh dengan keras sebelum sempat dia berhasil melarikan diri dari sana.


Entah bagaimana dia bisa selamat dari peristiwa itu dan bahkan Sian berhasil bebas dari penjara bawah tanah tersebut. Namun, dia malah terjebak di sebuah desa yang mengharuskan dirinya tetap harus berada di sana sampai orang-orang penjara bawah tanah tersebut berhenti mencari keberadaannya. Tempat persembunyian Sian saat ini terbilang sangat rawan dan berbahaya sekali dari kalangan mafia.


Selama bersembunyi di desa tersebut Sian menyembunyikan identitasnya sebagai seorang dokter. Hanya seberapa orang saja yang mengetahui jika dirinya seorang dokter, mereka adalah seorang ibu dan anak laki-laki berusia lima belas tahun. Ibu dan anak ini yang menolong dan menyembunyikan Sian selama ini. Ibu dan anak ini juga sangat peduli sekali dengan Sian. Seakan Sian dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka. Walaupun mereka hanya tinggal di sebuah gubuk kecil dan serba kekurangan, mereka masih tetap menampung Sian di gubuk kecil mereka itu.


“Kakak sedang apa?” anak laki-laki itu menghampiri Sian yang duduk termenung di bawah gubuk tua yang tanpa cahaya. Dan tanpa ekspresi Sian menoleh ke arah anak laki-laki itu. Sekilas dia sedikit tersenyum tanpa menjawab pertanyaan anak laki-laki di sampingnya itu.


“Apakah kakak baik-baik saja sekarang?” tanya anak laki-laki itu dalam bahasa isyarat Kurdi.


Sian hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari menahan air matanya yang membendung di pelupuk matanya. Dia menggelengkan kepala berulang kali untuk memberitahukan jika dia juga tidak tahu apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Saat ini Sian berada di titik terendahnya, dia sangat merindukan keluarga kecilnya. Dia sangat ingin sekali pulang ke rumahnya dan bertemu dengan orang-orang yang sangat dia rindukan saat ini.


“Kenapa sampai sekarang kakak tidak pernah berbicara? Bahkan Razil dan ibu tidak tahu nama kakak sampai sekarang?”


Tepat setelah kejadian hari itu, Sian tidak pernah berbicara sedikit pun. Semenjak dia kehilangan calon anaknya, Sian menutup dirinya dari semua orang. Atau lebih tepatnya dia tidak bisa menerima semuanya, dia tidak bisa menahan semua penderitaannya itu sehingga dia enggan berbicara dengan siapa pun termasuk dengan ibu dan anak yang menolongnya itu. Walaupun dia mau berbicara dengan mereka, tapi tubuhnya menolak untuk mengikuti keinginannya itu.


“Tidak apa jika kakak masih belum mau berbicara, Razil akan menunggu sampai kakak mau berbicara. Lebih baik kakak tidur sekarang saya mau keluar sebentar. Tolong jaga ibu sebentar.”


Razil pun pergi keluar, entah apa yang anak itu lakukan di luar pada saat malam hari seperti ini.

__ADS_1


Setelah satu jam Razil pergi keluar, tiba-tiba dia kembali dengan panik dan tergesa-gesa. Saat dia tiba dia langsung membangunkan Sian yang tertidur lelap.


“Kakak ayo cepat bangun sekarang,” Razil mengguncang tubuh Sian. “Kakak ada sekelompok tentara bayaran yang sedang mencari keberadaan kakak sekarang, kakak harus cepat pergi meninggalkan desa ini sekarang juga. Mereka sudah hampir dekat.” Razil terlihat panik dan khawatir dengan Sian. Begitu juga dengan Sian yang terlihat panik dan ketakutan.


“Kakak ayo cepat, biar aku antar kakak ke jalan keluar dari desa ini tanpa ketahuan. Setelah kakak keluar dari desa ini, kakak harus pergi ke desa yang ada di seberang sana, saya dengar ada sekelompok pasukan yang baru saja datang, dan mereka juga sangat baik dan mau menolong siapa pun yang sedang membutuhkan bantuan.”


Tangan kecil Razil langsung menggenggam erat tangan Sian, anak kecil itu menarik Sian keluar dan meninggalkan gubuk kecil itu saat itu juga.


Setelah berada di ujung desa ada sebuah sungai yang membatasi desa tersebut dengan desa yang tidak berpenghuni di maksudkan Razil pada Sian.


Sedangkan tentara bayaran yang mencari Sian sudah hampir dekat. Karena tidak tahu harus melakukan apa lagi, Razil meminta Sian untuk berenang ke desa sebelah. Namun, Sian menolaknya dia tidak ingin meninggalkan anak itu dalam situasi berbahaya.


“Kakak apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Ayo cepat menyeberang ke desa sebelah, di sana kakak akan aman.”


Razil menoleh saat mendengarkan suara Sian, ini pertama kalinya dia mendengarkan suara Sian setelah sekian lama dia menantikannya.


“Kakak aku mohon menyeberang lah sekarang juga, mereka sudah sangat dekat.”


“Tidak, aku akan tetap di sini bersama dengan mu.”


“Kakak pergilah, mereka akan menangkap mu jika tidak menyeberang sekaran_”

__ADS_1


Belum sempat Razil menyelesaikan kata-katanya segerombolan tentara bayaran tersebut sudah mengepung mereka berdua.


“Akhirnya kami menemukan mu dokter Sian!”


Melihat sekelompok tentara tersebut Sian langsung menarik Razil dan menempatkan anak itu di belakangnya. Bagaimana pun caranya Sian harus melindungi Razil dari sekelompok tentara tersebut, walaupun kedua kakinya bergetar hebat.


“Kalian jangan mendekat, atau tidak aku akan melompat ke sungai sekarang!” ancam Sian, dia tahu jika tentara tersebut di tugaskan untuk membawanya hidup-hidup.


“Tolong...!!” teriak Razil ke arah desa sebelah.


Razil bisa melihat jika ada beberapa orang melihat mereka. “Tuan...tolong kami, mereka ingin menculik kakak saya!!” teriak Razil kembali dengan sekuat-kuatnya.


“Anak kecil lebih kau diam sekarang, mereka tidak akan pernah bisa menolong kalian berdua. Jika tidak diam saya akan menembak kepala kecilmu itu sekarang juga!”


“Jika kau berani melakukan itu, maka kau harus menembak saya terlebih dahulu sebelum menembaknya.” Sian memasang badan untuk melindungi Razil dari pria bertubuh besar tersebut.


“Hahaha...kau sangat berani sekali dokter, tapi sayangnya apa yang kau katakan itu tidak akan pernah terjadi.”


“Kalian tunggu apa lagi, ayo cepat bawah dokter itu kepada Bos sekarang juga.”


Dalam hitungan detik beberapa tentara tersebut mulai melangkah maju untuk menangkap Sian.

__ADS_1


“Tidak! Kalian tidak bisa membawah kakak pergi, Saya tidak akan membiarkan kalian membawah kakak pergi!” Razil memasang tubuhnya untuk menghalangi orang-orang tersebut untuk membawah Sian.


__ADS_2