Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 74


__ADS_3

“Setelah kejadian itu, mas menerima perjodohan tersebut dan akhirnya kita menikah setelah tiga tahun mas kembali dari menjalankan misi.” Ucap Bara kepada Sian.


Setelah menceritakan semuanya pada Sian, kini Bara berharap istrinya itu tidak kembali dengan kekasihnya di masa lalu itu. Bara menatap mata istrinya itu dengan sangat dalam, dia menyelami di dalam mata itu untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaannya yang tak dia tanya secara langsung kepada pemilik mata tersebut.


Aku harap Sian akan tetap bersama denganku, setelah mendengarkan ceritaku barusan.


Sementara itu Sian hanya membungkam mulutnya dengan air mata yang membedung di matanya. Kemudian dia langsung memeluk Bara dan membenamkan wajahnya di pundak suaminya itu sembari menangis. Bara pun hanya bisa memberikan kenyamanan kepada istrinya itu dengan mengelus-elus punggungnya. Namun, dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu.


***


Keesokan paginya.


Bara terbangun dari tidurnya. Saat dia menoleh, istrinya Sian sudah tidak ada lagi di sampingnya. Namun, dia mendengar suara bising seseorang yang sedang memasak di dapur.


“Mas Bara sudah bangun?” tanya Sian saat melihat Bara sudah berdiri beberapa meter darinya.


“Em...” angguk Bara. Dia terlihat bingung dan tidak percaya saat melihat istrinya Sian kembali bersikap seperti biasanya dan tidak menutup diri lagi seperti beberapa hari yang lalu.


“Mas kenapa bengong begitu? Dari pada mas bengong, lebih baik mas Bara mandi dan terus kita sarapan bersama.”


Tak menggubris perkataan Sian, Bara malah melangkah maju dan mendekati istrinya itu. Lalu dia memeluknya erat dari belakang dengan berkata.


“Akhirnya mas bisa melihatmu seperti ini lagi.”


Sian mengerutkan keningnya heran saat mendengarkan perkataan suaminya itu.


“Maksud mas apa berkata seperti itu?” tanya Sian yang langsung berbalik menatap Bara.


“Semenjak kamu keluar dari rumah sakit, mas tidak pernah melihat mu tersenyum dan bersikap ceria seperti ini.”


“Bisa mas katakan, aku bersikap seperti apa sebelumnya?” tanya Sian.


Sekilas Bara mengangkat kedua alisnya untuk berpikir.


“Semenjak kita kembali ke Villa, kamu seperti menutup diri dari mas, dan kamu juga bersikap sangat dingin sekali, tidak ada senyuman atau pun berbicara seperti ini sama mas.” Jawab Bara.


Sian menyunggingkan senyuman kepada Bara, kemudian dia memeluk suaminya itu tanpa berkata apa pun. Namun, dari pelukannya itu Bara bisa tahu jika saat ini istrinya itu sangat menyesalinya.

__ADS_1


“Mas Bara mandi sekarang, nanti Tony kelamaan menunggunya.” Ucap Sian.


“Ehem...”


Seketika Bara terkejut saat menyadari Tony sedang duduk di ruang tamu sembari memperhatikannya sedang memeluk erat istrinya.


“Sejak kapan kamu di sana?” tanya Bara kaget. Dia langsung melepaskan pelukannya dari Sian detik itu juga.


“Sejak awal Kapten keluar dari kamar.” Jawab Tony dengan ekspresi wajah malas.


“Sayang, Kenapa kamu ngak bilang jika ada Tony di sini.” Kata Bara kepada istrinya itu.


“Udah, jangan banyak bicara lagi. Mendingan Kapten mandi sana, nanti kita terlambat. Kan kasihan dengan semua anggota tim Alpha lama menunggu kita.” Timpal Tony.


Seketika Bara menatap tajam Tony, dia tidak suka melihat Tony mengaturnya seperti barusan.


“Ada apa dengan mu? Kenapa kamu selalu jadi benalu yang terus menempel di kehidupanku!” kesal Bara pada Tony.


“Udah mas, benar apa kata Tony. Mas mandi sekarang, kan kasihan dengan anggota tim mu yang sudah lama menunggu.” Ucap Sian.


“Tu dengarin apa kata istri, jangan membantah.” Kata Tony.


Tony hanya tersenyum dengan duduk santai di sofa. Plak! Kepala Tony di pukul Bara, seketika Bara berlari dengan sangat cepat masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya sebelum Tony mengamuk.


“Baraaa!” teriak Tony. Dia Menggosok-gosok kepalanya yang sakit dengan kesal dan marah.


Setelah mandi dan sarapan, Bara pamit dengan Sian untuk pergi bersama Tony.


“Mas pergi dulu, jaga diri baik-baik di Villa jangan pergi ke mana-mana sebelum mas pulang, oke.” Ucap Bara sambil mengecup sebentar kening istrinya itu.


“Baiklah, mas juga hati-hati ya.” Ucap Sian balik.


Kemudian Bara dan Tony pergi meninggalkan Villa. Setelah kepergian Suaminya itu, Sian kembali ke kamarnya.


***


Setelah pergi seharian, kini Bara kembali ke Villa tepat pukul 9 malam. Saat kembali, Villa terasa sangat sepi dan kosong. Semua lampu di Villa ini pun tidak ada satu pun yang menyala.

__ADS_1


“Sayang, kamu di mana?” panggil Bara.


Tidak ada sahutan dari istrinya itu.


Mungkin dia sedang tidur sekarang.


Bara pun berjalan ke arah kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya, ternyata istrinya juga tidak ada di sana.


“Sian...kamu di mana sekarang? Keluarlah sekarang, Jangan membuat mas khawatir seperti ini.” Teriak Bara di dalam Villa yang gelap itu.


Walaupun Bara berteriak memanggil istrinya itu berulang kali, tetap saja tidak ada jawaban. Bahkan dia tidak bisa menemukan sosok istrinya itu di semua sudut Villa.


“Pergi ke mana dia malam-malam seperti ini?” ucap Bara pada dirinya sendiri.


Tanpa sadar, penampilan Bara saat ini sudah sangat kacau sekali. Karena tidak bisa menemukan istrinya itu di Villa, Bara langsung menyalakan ponselnya untuk menghubungi istrinya itu. Namun, sayangnya ponsel Sian tertinggal di kamar.


“Sial!” umpat Bara kesal.


Bara mulai panik. Karena merasa tidak tenang, Bara duduk di sofa sembari mengusap wajahnya kasar dengan menggunakan kedua tangannya.


Sial! Di mana dia sekarang? Aku harus mencarinya di mana saat malam seperti ini?


Bara kembali mengusap wajahnya dari kepalanya hingga turun ke wajah. Beberapa detik kemudian Bara teringat dengan apa yang dia lihat beberapa hari lalu di rumah sakit.


“Mungkinkah dia pergi menemui pria itu?” ucap Bara pada dirinya sendiri.


Seketika Bara langsung beranjak berdiri dari duduknya. Tanpa mengulur waktu lagi, Bara langsung beranjak pergi keluar Villa dan memasuki mobilnya. Sebelum dia menyalakan mobilnya, Bara terlebih dahulu menghubungi Tony untuk menjalankan misi mereka saat ini juga. Setelah itu Bara langsung menyalahkan mobilnya dan langsung tancap gas ke Villa di mana Bara yakini jika istrinya itu saat ini berada di sana.


Sesampai di sana Bara tidak langsung masuk, dia malah berhentikan mobilnya di beberapa meter dari jarak Villa tersebut. Selagi menunggu, Bara mengati pakainya dengan seragam serba hitam dengan rompi anti peluru, serta Bara juga menyiapkan beberapa senjata yang akan dia bawah sekarang.


Terlihat jelas saat ini Bara sangat serius sekali. Wajah dan matanya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, hanya wajah yang tegas dan terkesan datar.


Setelah selesai mengenakan seragamnya, Bara memasangkan alat komunikasi Earpiece di telinganya dan kemudian dia menyalahkan benda itu dengan menekan tombol yang ada pada benda tersebut dengan berkata.


“Apakah kalian semuanya sudah siap?” ucap Bara kepada semua anggota tim Alpha.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2