Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 27


__ADS_3

Masih hari yang sama.


Setelah Sian mengobati luka di punggung Bara, dia mulai menginterogasi suaminya itu.


“Mas katakan padaku sekarang, bagaimana bisa mas terluka seperti ini?”


“Em...mas terluka karena di dalam perjalanan menuju rumah sakit mas menolong orang dari perampok.”


Sangat jelas sekali kalau Bara sedang mengarang cerita.


“Jangan bilang mas terluka karena perampok tersebut?”


Sian menatap menyelidiki Bara. Entah mengapa Sian merasa jika saat ini suaminya Bara sedang berbohong padanya.


“Mas serius, jika tidak percaya kamu bisa tanya sama sopir jika mas benaran membantu seseorang di rampok di jalanan.” Ucap Bara yang mengatakan jika dia mempunyai alibi.


Sian masih menatap Bara dengan tatapan menyelidiki. Kali ini ekspresi wajah Bara menunjukkan keseriusan.


“Baiklah kalau begitu aku percaya sama ucapan mas, dan mas harus ingat jika aku tidak suka di bohongi.”


“Terus, siapa yang membohongi mas barusan di lobi?”


Bara membalikkan kata-kata Sian. Sedangkan Sian hanya bisa diam saja dan dia hanya bisa tersenyum canggung pada Bara.


“Papa benar, mama yang sedang berbohong bukan papa.” Timpal Raihan membela Bara.


“Dengarin tu, Raihan saja tahu jika yang salah di sini adalah kamu dan bukan mas.”


“Oke aku salah, jangan memojokkan aku terus seperti ini.” Ucap Sian mengaku salah.


Bara dan Raihan tertawa melihat Sian. Keduanya terlihat begitu senang melihat Sian yang kesal.


“Sayang,” panggil Bara.


“Apa?” jawab Sian ketus.


“Sebenarnya aku datang kemari untuk menjeput mu pulang,”


Sekilas Sian melihat jam di tangannya. Seakan dia sedang mengirakan waktu yang dia miliki sekarang.


“Bagaimana ya mas, aku masih ada jadwal operasi sekarang.”


“Ya sudah kami tunggu saja di sini sampai operasi mu selesai.”


Sian terlihat sedang berpikir beberapa saat kemudian dia berkata.


“Begini saja, mas dan Raihan pulang saja duluan. Nanti jika aku selesai operasi, aku akan pulang. Bagaimana?”

__ADS_1


“Mas sama Raihan tunggu kamu sampai selesai, dan kita pulang barangan saja.” Tolak Bara.


“Papa benar, kita pulang barang mama saja.” Timpal Raihan.


“Mama masih lama, dan sekarang sudah jam 7 malam. Raihan harus tidur karena hari semakin larut malam. Kalian pulang saja dulu, nanti kalau operasinya sudah selesai aku akan langsung pulang ke rumah. Mama janji sama Raihan.”


Apa yang di ucap Sian membuat Bara mengalah, begitu juga dengan Raihan.


“Baiklah kalau begitu kami pulang duluan, dan jika kamu selesai operasi cepat kabari aku ya.” Ucap Bara.


“Baiklah mas, aku pasti akan mengabari mas.”


“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, Raihan ayo ikut papa pulang sekarang.” Ajak Bara.


“Em...baiklah.” ucap Bara menurut.


Kemudian Bara dan Raihan pergi keluar dari ruangan Sian saat ini. Begitu juga Sian yang ikut keluar mengantar Suami dan anaknya itu sampai ke pintu lift.


“Kalian hati-hati di jalan, jika ada apa-apa kalian cepat-cepat hubungi aku ya.”


“Em...baiklah.” anggung Bara yang sudah berada di dalam lift. Kemudian pintu lift tersebut menutup.


Setelah Bara dan raihan pergi, Sian langsung menuju ruangan ganti. Dia mulai bersiap-siap untuk mengoperasi pasien yang akan melakukan transplantasi ginjal.


Di sisi lain Bara dan Raihan sudah berada di dalam perjalanan pulang.


“Em...” angguk Raihan pelan.


“Bagaimana Raihan bisa mengenaliku saat pertama kali melihatku tadi?”


“Karena Raihan memiliki foto papa di ponselku.” Jawab Raihan sembari menunjukkan ponselnya kepada Bara.


Bara kaget melihat Raihan yang sudah memiliki ponsel pada usianya sekarang.


“Siapa yang memberikan ponsel ini padamu?”


“Nenek Liora dan nenek Vian yang membelikan ponsel ini untuk Raihan.” Jawab Raihan polos.


“Raihan, Anak kecil masih belum bisa memiliki ponsel. Berikan ponselnya pada papa sekarang.” Pinta Bara.


“Tidak, Raihan tidak akan memberikannya pada papa.” Tolak Raihan.


“Raihan dengarkan papa, berikan ponsel itu sekarang juga pada papa.” Pinta Bara kembali.


“Tidak boleh, kata nenek Liora dan nenek Vian Raihan harus selalu membawa ponsel ini terus bersama Raihan.” Ucap Raihan.


“Baiklah kalau begitu, katakan pada papa apa tujuan mereka memberikan ponsel ini kepada Raihan, bisa Raihan jelaskan?” tanya Bara dengan tegas.

__ADS_1


“Karena nenek bilang, kalau menjadi anak papa Bara Raihan harus selalu membawa ponsel ini untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Raihan bisa memberitahu mereka dengan benda ini.” Jawab Raihan dengan sangat jelas.


“Mereka mengatakan itu pada Raihan?”


“Em...” angguk Raihan. “Nenek juga memberitahu Raihan semua tentang papa yang tidak di ketahui oleh mama.” Sambung Raihan.


“Apa!” kaget Bara. “ Mereka juga memberitahukan semua tentang papa kepada Raihan?” sambung Bara.


“Em...semuanya, Raihan tahu semuanya tentang papa.” Jawab Raihan polos.


Bara mendesah pelan. Dia tidak akan mengira jika mamanya dan mama mertua memberitahukan semua tentang dirinya pada anak kecil yang ada di sampingnya ini.


“Raihan boleh papa bertanya lagi ?”


“Em...” angguk Raihan.


“Raihan tidak memberitahukan semua rahasia tentang papa kepada mama Sian kan?”


“Tidak, kata nenek Liora dan nenek Vian Raihan tidak boleh memberitahukannya kepada mama. Hanya Raihan saja yang boleh tahu, mama tidak boleh tahu kata nenek.” Jawab Raihan dengan jujur.


Bara menghelakan nafas leganya saat mendengar ucapan Raihan.


Syukurlah kalau Sian tidak mengetahuinya.


“Papa, kenapa mama tidak boleh tahu semua rahasia tentang papa?” tanya Raihan dengan wajah penasarannya.


“Suatu saat nanti papa akan menjelaskan semuanya pada Raihan. Untuk sekarang papa minta pada Raihan untuk tidak memberitahu mama Sian tentang rahasia papa, oke.”


“Oke, Raihan mengerti.” Ucap Raihan.


“Baiklah rahasia ini hanya papa dan Raihan saja yang boleh tahu, mama Sian tidak boleh tahu. Kita sepakat.” Ucap Bara sembari mengaja Raihan berjanji Pingki.


“Baiklah sepakat.” Raihan menyepakatinya, dan membuat janji Pingki bersama Bara.


Dalam waktu singkat Bara dan Raihan menjadi dekat. Mereka terlihat seperti ayah dan anak yang sesungguhnya. Saat mereka tertawa pun terlihat sangat mirip sekali.


Di sisi lain Sian berada di ruangan operasi. Sudah beberapa jam berlalu dan operasinya pun sudah hampir selesai, hanya tinggal tahap akhir penutupan dengan menjahit luka sayatan pembedahan dari transplantasi ginjal tersebut. Setelah selesai Sian langsung keluar dari ruangan operasi dan menuju ruangan ganti. Sesampai di sana Sian langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Bara


Sian:


Mas, aku sudah selesai. 30 menit lagi aku akan pulang ke rumah.


Bara:


Baiklah, aku akan menunggu mu.


Sian tersenyum. Dia tidak akan mengira jika merasa sesenang ini hanya dengan saling mengirim pesan. Jantungnya berdebar-debar saat membaca pesan dari Bara saat ini, entah kenapa hal sekecil apa pun itu jika menyangkut soal Bara membuat Sian berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2