
Sesampai di sana, Bara melihat tempat yang mereka tuju di penuhi oleh prajurit yang sedang melakukan latihan di malam hari.
“Sial!” umpat Bara yang masih mengendong Sian di punggungnya.
“Kenapa mas? Apa yang terjadi?”
“Sayang sepertinya kita harus kembali ke kamp saja.”
“Kenapa tiba-tiba mas ingin kembali?”
“Coba lihat ke depan,” pinta Bara pada Sian. Mata hitam Sian langsung membesar saat melihat prajurit yang sedang latihan.
“Mas ayo cepat, kita pergi saja dari sekarang.” Ucap Sian sembari menepuk-nepuk bahu Bara.
Bara tetap teguh berdiri, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
“Mas, kenapa diam saja? Ayo cepat pergi dari sini sekarang.” Ujar Sian yang terlihat panik.
“Sayang, kenapa kita harus menghindari mereka? Kan kita tidak melakukan apa pun.” Ucap Bara tiba-tiba.
Sial! Jika tidak pergi dari sini sekarang, habislah aku kena amukan prajurit-prajurit itu.
“Ada Kapten Devil di sana.” Teriak salah satu prajurit tersebut sembari menunjuk ke arah Bara dan Sian.
“Mas kita pergi saja dari sini sekar_” belum sempat Sian menyelesaikan kata-katanya, dia langsung melompat dari punggung Bara saat itu juga. Dia berlari menjauh dan tanpa berpikir panjang Sian langsung melompat ke dalam semak-semak saat melihat Prajurit berlari ke arah mereka.
“Bara, kamu sudah sembuh? Kamu datang ke mari bersama dengan siapa?” tanya Clovis.
“Aku datang ke mari bersama_” Bara tidak melanjutkan kata-katanya saat menyadari istrinya Sian sudah tidak ada lagi di belakangnya.
Ke mana dia perginya? Cepat sekali dia menghilangnya.
“Bersama siapa?” tanya Clovis kembali.
“Ahaha...tidak bersama siapa-siapa, saya datang sendirian, kalian lanjutkan saja latihannya saya mau pergi sekarang.” Bara terlihat bingung mencari sosok istrinya yang tiba-tiba saja menghilang.
“Baiklah kalau begitu, kembali ke posisi kalian sekarang juga.” Teriak Clovis pada semua prajuritnya.
“Siap.”
Dalam seketika semua prajurit tersebut berlari ke posisi mereka masing-masing.
“Kau carilah dia, semua prajurit biar aku yang tangani. Pergilah sekarang.” Kata Clovis yang sudah mengetahuinya jika Saat ini Bara sedang bersama Sian.
“Terima kasih kawan, aku pergi dulu.”
Kemudian Bara pergi mencari sosok istrinya itu.
“Sian, kamu di mana?” teriak Bara.
__ADS_1
Bara terus berjalan sembari memperhatikan di sekitarnya.
“Sian...” teriak Bara kembali.
Tidak butuh waktu lama bagi Bara mencari dan berteriak memanggil nama istrinya itu. Terdengar Suara Sian yang menyahut.
“Mas aku di sini.” Teriak Sian sembari melambaikan tangannya di semak-semak.
Barang langsung menghampiri Sian saat melihat lambaian tangan istrinya itu.
“Sedang apa kamu di sa-na?” Bara terbelalak saat melihat istrinya sudah berada di dalam gandakan lumpur. Bara menahan tawanya, melihat penampilan Sian yang sudah seperti habis di celupkan di dalam lumpur. Dia sepeti sebatang stik yang di lumuri dengan coklat.
“Sayang, kamu seperti camilan stik coklat yang di sukai anak muda jaman sekarang.” Ucap Bara yang masih menahan tawanya.
“Ini semua gara-gara mas Bara!” kesal Sian.
“Kok mas sih yang di salahkan.” Kedua sudut bibir Bara sudah hampir terbuka lebar ingin tertawa.
“Memang mas yang salah, jika mas Bara tidak mengajak ku kemari, tidak mungkin aku menjadi seperti ini. Terjebak di dalam lumpur.” Kata Sian yang mengentakkan kedua kakinya di atas tanah karena kesal.
“Hahaha...” tawa Bara pecah detik itu juga. Dia tidak tahan lagi menahan tawanya saat melihat istrinya itu.
Melihat Bara menertawakannya, Sian menundukkan badannya untuk meraup segenggam lumpur di tangannya. Kemudian dia melemparkannya tepat di arah mulut Bara yang terbuka lebar.
Plok! “Nice shot.” Sian menggenggam satu tangannya untuk memberi pujian pada dirinya sendiri.
“Hahaha, maaf mas aku tidak sengaja melakukannya.” Tawa Sian yang pecah.
Tidak terima, Bara melangkahkan kakinya untuk menghampiri istrinya itu. “Kemarilah, akan aku buat kamu membayar semua ini.” Ucap Bara yang langsung mengendong Sian di atas bahunya.
“Mas turunkan aku sekarang...” teriak Sian yang sudah berada di bahu suaminya itu. Bara membawa Sian pergi dari sana.
***
“Mas Bara masih di sana?” seru Sian yang tengah berada di dalam kamar mandi.
“Ada apa sayang? Mas masih di sini.” Sahut Bara yang sedang menunggu di depan pintu kamar mandi.
Saat ini Bara tengah menjaga pintu kamar mandi di mana istrinya itu sedang membersihkan dirinya.
“Mas, berikan bajunya.” Pinta Sian sembari mengulurkan tangannya keluar.
Bara tersenyum melihat tangan kecil Sian yang keluar dari pintu kamar mandi tersebut.
“Mas berikan bajunya sekarang.” Pinta Sian kembali.
Bara tetap tidak memberikan Baju yang ada di tangannya itu. Dia tetap berdiam diri di depan pintu sembari menatap tangan Sian yang mengawai meminta bajunya.
“Mas! Cepat berikan bajunya sekarang.” Kali ini Sian mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Bagaimana ya?” Bara terlihat sedang berpikir untuk memberikan baju itu atau tidak kepada istrinya itu.
“Apa maksud mas, bagaimana?” Sian terlihat kesal dengan tingkah suaminya itu.
“Jika ingin bajunya, sayang ambil sendiri. Mas tidak bisa mengerakkan tangan mas sama sekali saat ini.” Goda Bara.
“Mas jangan bercanda, cepat berikan bajunya sekarang juga!” Pinta Sian kesal.
“Mas Serius, jika ingin bajunya keluarlah dari sana untuk mengambilnya.” Bara terus menggoda istrinya itu.
Tanpa berpikir panjang, Sian langsung keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menyelimuti bagian tubuhnya. Tepat saat Sian keluar dari kamar mandi, ada seseorang prajurit yang datang.
“Kapten.”
Secepat kilat Bara menutupi tubuh istrinya itu dengan memeluknya, dan membelakangi prajurit tersebut dengan berkata.
“Pergi dari sini sekarang, dan tunggu di luar. Ini perintah!” Suara Bara bergema.
Dengan cepat prajurit tersebut keluar dari sana, dan menunggu di luar seperti yang di perintahkan Bara padanya.
Brakk! Bara membuka pintu kamar mandi dengan menggunakan kaki panjangnya. Kemudian dia mengangkat tubuh Sian untuk masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
“Cepat pakailah bajumu sekarang juga.” Pinta Bara sembari memberikan baju yang ada di tangannya itu.
Hampir saja.
Bara mengelus dadanya lega setelah memasukkan istrinya kembali ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian Sian keluar setelah memakai bajunya. Sian menatap Bara dengan tajam, saat ini dia sangat marah sekali dengan suaminya itu.
Tanpa memperdulikan Bara lagi Sian melangkah keluar begitu saja meninggalkan suaminya itu.
“Sayang, apakah kamu marah?” tanya Bara yang mengikuti istrinya itu dari belakang.
Bug! Bara menabrak Sian di depannya. Tiba-tiba saja Sian menghentikan langkahnya.
“Rival.” Ujar Sian.
“Dr. Sian dan...” Rival kaget saat melihat Sian keluar dari kamar mandi khusus prajurit bersama dengan Kapten-Nya.
“Rival? Sayang mengenalnya?” tanya Bara. Sian hanya mengabaikan pertanyaan suaminya itu.
“Kapten dan Dr. Sian, kenapa keluar dari sana bersamaan?” terlihat wajah Rival yang sangat bingung.
“Rival, tolong rahasiakan semua yang kamu lihat malam ini. Jangan sampai semua prajurit di sini tahu, mengerti.” Ucap Sian tegas pada Rival.
“Baik dokter, saya mengerti.” Rival mengangguk.
Kemudian Sian berlalu pergi meninggalkan Suaminya dan Rival begitu saja. Tanpa menoleh ke belakang lagi.
.
__ADS_1