
Bara sudah merasa kewalahan, dia ingin sekali mengakhiri pertarungan ini. Namun, belum waktunya bagi dia mengakhirnya. Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya dia melihat jam tangannya berbunyi, waktunya untuk mengakhiri pertarungan ini. Sekilas Bara tersenyum tipis saat lawannya menatapnya. Seakan senyuman itu memberitahukan jika pertarungan ini akan berakhir dan ia akan memenangkannya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Dengan tersenyum begitu, tidak akan membuatmu memenangkan pertarungan ini.”
“Kita lihat saja nanti.”
Bara mulai memindahkan pisau dari tangan kiri ke tangan kananya. Dengan menggenggam erat pisau tersebut, dan ekspresinya mulai berubah sangat menakutkan sekali. Sepertinya dia mulai serius untuk menyelesaikan pertarungan ini. Tidak seperti sebelumnya, Bara hanya menghindari dan menyerang seadanya. Kali ini ia mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya dari dalam dirinya.
Dalam hitungan detik, kecepatan pergerakan langkah kaki dan tangan Bara lebih cepat tiga kali lipat dari sebelumnya. Ia berhasil menusuk perut samping lawannya tanpa terlihat. Saking cepat pergerakannya, Bara menarik salah satu tangan lawannya ke atas dan membuat pergerakan memutar lalu menusuk tepat di bagian leher lawannya hingga tewas dalam seketika.
Hanya butuh waktu beberapa menit Bara berhasil memenang pertarungan tersebut. Ketika semua prajurit bayaran tersebut melihat pimpinan mereka terbunuh, mereka berhenti menembak dan berencana untuk mundur. Namun, sebelum semua itu terjadi tiba-tiba Bernadus datang dengan membawah sebuah pasukan.
“Halo...senang bertemu dengan mu.”
Bernadus tersenyum menatap Ke arah Bara. Dia sangat mengetahui tentang Bara, setelah sekian lama dia menantikannya untuk bertemu langsung dengan pria yang sudah di pilih oleh wanita yang dia incar selama ini, yang tak lain adalah Sian.
Sebaliknya saat Bara melihat Bernadus, dia sangat ingat dengan pria itu. Dia pernah melihatnya di kumpulan dokumen orang-orang yang bersangkutan di dalam kasus tragedi di jepang, meninggalnya ayah dari istrinya beberapa tahun yang lalu. Di dalam laporannya tertulis jelas jika pria itu sudah tewas di tempat beberapa tahun yang lalu, tapi aneh kenapa pria ini bisa terlihat di sini sekarang.
Kedatangan Bernadus membuat Bara sedikit jengkel, karena apa yang dia rencanakan gagal total. Dia tidak peduli dengan kehadiran pria itu, yang dia pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya membawa pergi istrinya dan anggota Tim nya dari sini. Sedangkan jumlah musuhnya semakin bertambah dan dia tidak mungkin mengandalkan anggota timnya yang hanya tinggal beberapa orang. Merasa terancam Bara melangkah mendekati Sian yang mematung di tempatnya sejak dari tadi.
“Sayang, ayo kita pergi dari sini sekarang.”
Perlahan Bara membantu Sian berdiri untuk pergi. Entah bagaimana cara Bara untuk pergi dari sana, tapi yang pasti Bernadus tidak akan membiarkan mereka pergi.
“Eh...tunggu dulu, kalian mau pergi ke mana?” cegat Bernadus. “ Jika kalian mau pergi dari sini, berikan dulu dokter itu kepada Kami dan kalian boleh pergi dari sini.” Sambung Bernadus.
“Kau siapa? Berani sekali kau berbicara seperti itu.”
Dengan berani Bara menatap langsung ke mata Bernadus. Seakan matanya itu berkata, jika kau berani mengambilnya, saya pastikan kau dan orang-orang mu tidak selamat satu pun.
“Saya adalah pria yang di campakkan oleh dokter Sian beberapa tahun lalu.”
Bara hanya tertawa kecil mendengarkan apa yang di katakan Bernadus Barusan.
“Sungguh sangat kasihan sekali, tapi kau pantas di campakkan seperti itu.”
__ADS_1
“KAU!”
Bernadus menggenggam kedua tangannya dengan sangat kuat. Dia tidak terima dengan ucapan Bara barusan.
“Kenapa? Kau tidak terima dengan apa yang saya katakan barusan? Kau memang pantas untuk di campakkan karena tak berguna.”
Bara kembali membuat Bernadus sangat marah dengan ucapannya barusan.
“Berani sekali Kau!!”
Bernadus kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Bara sangat tahu persis dengan kepribadian yang di miliki Bernadus. Jika di pancing maka umpannya langsung di maka olehnya. Sesuai dengan dugaan, Bernadus langsung terpancing dan kehilangan kontrol pada dirinya sendiri. Bara bisa menciptakan kesempatan untuk membuka jalan untuk bisa pergi dari sana.
“Bunuh mereka semua sekarang!” perintah Bernadus kepada anak buahnya.
“Sial”
Bara langsung berbalik memeluk Sian dengan Kuat. Dia berencana untuk memblokir semua tembakan yang mengarah ke Sian dengan tubuhnya sendiri.
Namun, sebelum Bernadus dan anak buahnya menembak, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membunuh satu per satu anak buah Bernadus. Menyadari akan hal itu Bara melepaskan pelukannya dan berbalik melihat apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa menit kemudian ada yang melempar gas air mata tepat di sekitar Bernadus dan anak buahnya. Kemudian suara tembakan kembali menembak mati anak buah Bernadus hingga tersisa beberapa orang.
Dari yang Bara lihat, dia sangat mengenali taktik yang digunakan oleh orang yang tidak terlihat ini. Dia sangat yakin taktik perang ini adalah taktik perang yang sering dia gunakan bersama dengan anggota Tim Alpha. Setelah semua anak buah Bernadus di lumpuhkan, orang-orang yang menyerang tersebut keluar dari posisinya. Seperti dugaan Bara, yang menolong nya adalah anggota timnya sendiri. Tim Alpha yang sudah lama dia tinggalkan, dan kini datang membantunya di saat-saat dia membutuhkan pertolongan.
Tony datang menghampiri Bara dan Sian. Sedangkan anggota tim Alpha mengepung Bernadus yang masih sendirian dan langsung menangkapnya di tempat. Mereka sengaja tidak membunuhnya karena salah satu misi yang mereka jalankan membawa kembali Bernadus hidup-hidup ke negaranya, yaitu jepang.
“Kalian semua kenapa bisa ada di sini?”
Bara terlihat sedikit kebingungan, tetapi dia merasa senang dengan kehadiran anggota tim Alpha.
“Kapten, kami berada di sini karena Misi.” Jawab Tony.
“Misi apa?”
“Setelah Kapten pergi meninggalkan tim, keadaan tim Alpha semakin kacau, semua misi yang kami jalankan tidak pernah berhasil dan berakhir gagal. Karena terus mengalami kegagalan, pada akhirnya jenderal membuat kesepakatan dengan jepang untuk menangkap Bernadus dan juga misi membatu kapten mencari dokter Sian. Ayah dan ibu kapten juga mengancam semua kepala devisi termasuk jendral untuk menarik semua dana yang selama ini di berikan mereka, jika tidak membawa kembali kapten dan dokter sian pulang, oleh karena itu kami berada di sini sekarang.” Jelas Tony.
“Terima kasih semunya, berkat kalian semua saya dan Sian bisa selam_”
__ADS_1
Belum sempat Bara menyelesaikan perkataannya, Sian terlebih dahulu ambruk jatuh ke tanah. Ternyata Sian sudah kehilangan banyak darah sejak dari tadi.
“Kakak...”
Razil langsung menghampirkan Sian, anak itu langsung menangis melihat Sian tidak sadarkan diri seperti itu.
“Paman tolong kakak saya, dia butuh pertolongan sekarang.” Ucap Razil dengan menggunakan bahasa Kurdi.
Melihat kehadiran Razil, Bara baru menyadari siapa anak kecil ini. Bagaimana bisa dia bersama Sian.
“Tony, tolong panggil anggota tim medis kita sekarang.”
“Baik kapten.”
Dengan cepat tim medis mengobati Sian. Untung nya dia tidak apa-apa, luka yang di alaminya tidak terlalu serius. Namun, kondisi kesehatannya saat ini memang mengkhawatirkan, karena kekurangan gizi Sian tidak sadarkan diri. Setelah menolong Sian, Bara memperintahkan anggota timnya mengirim Razil kembali ke rumahnya.
__ADS_1