
Malam itu Bara tidak bisa tertidur, dia terus terjaga. Dia selalu berada di depan leptopnya memandangi wajah istrinya yang sangat ia rindukan selama ini.
Selagi berfokus menatap layar leptopnya tiba-tiba anak buahnya menghampirinya dan berkata. “Bos, ada sesuatu yang tidak beres di desa seberang sana.”
Tanpa menjawab Bara langsung beranjak keluar dari markasnya, kemudian dia mengambil teropong yang di berikan anak buahnya itu. Perlahan Bara melihat keadaan desa di sebarang sana melalui teropong. Ia tidak bisa melihat terlalu jelas karena di seberang sana terlalu gelap, dari yang Bara lihat keadaan di seberang sana sangat berbahaya untuk ikut campur. Jika dia ikut campur besar kemungkinan keberadaannya dan anggota tim-Nya akan ketahuan dari pihak musuh.
“Sudah biarkan saja, lebih baik kita tidak ikut campur urusan mereka.” Bara menolak untuk menolong sembari memberikan kembali teropong yang di tangannya kepada anak buahnya. Tanpa peduli Bara berbalik badan.
“Bos sepertinya mereka berdua membutuhkan bantuan kita.”
Terlihat Bara menghelakan nafas pajangnya saat mendengarkan perkataan anak buahnya itu. Ia tidak merespons perkataan anak buahnya itu, ia malah meneruskan langkah kakinya masuk ke markas.
“Bos yakin tidak ingin menolong mereka? Salah satu dari mereka ada anak kecil.”
Untuk yang kedua kalinya Bara kembali menghelakan nafas panjangnya. Kali ini ia tidak bisa mengabaikannya lagi saat mendengarkan kata anak kecil. Tanpa ragu Bara mengambil senjatanya lalu ia berbalik badan dan langsung menuruni beberapa anak tangga menuju perahu.
“Tunggu apa lagi ayo cepat ambil senjata kalian, kita ke seberang sekarang juga.”
“Baik Bos.” Jawab serempak tim anggota Bara.
Dalam hitungan detik lima perahu menyeberang. Satu persatu perahu mulai menyeberang, sedangkan perahu yang di naiki Bara berada di urutan paling belakang. Dari kejauhan Bara memantau anak buahnya yang mulai menepi dan mendekati sekelompok orang yang berpakai serba hitam lengkap dengan jubah anti peluru.
“Ibrahim bagaimana keadaan di sana?” Bara bertanya lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
“Keadaan di sini tidak terlalu baik Bos, ternyata mereka adalah tentara bayaran yang di utus oleh seseorang untuk menangkap seorang ibu dan anak.”
“Baik saya mengerti, tetap lindungi ibu dan anak itu sampai perahu saya menepi di sana.”
“Baik bos saya mengerti.”
Bara langsung memutuskan komunikasinya dengan Ibrahim. Sementara itu, di sisi lain Ibrahim dan anggota tim lainnya yang sudah tiba lebih dulu langsung mengangkat senjata mereka untuk melindungi ibu dan anak tersebut.
“Don't move.”
Ibrahim dan anggota tim lainya mengepung sisi arah sungai tepat di belakangnya ibu dan anak tersebut. Dengan sangat berani Ibrahim dan anggota tim lainnya mengacungkan senjata mereka ke arah sekumpulan tentara bayaran tersebut.
__ADS_1
Sebaliknya, sekelompok tentara bayaran tersebut juga sangat berani sekali. Mereka tidak bergeming sedikit pun dengan kedatangan Ibrahim dan anggota tim lainnya. Seakan mereka di anggap sebagai gangguan kecil dalam tugas mereka.
“Saya sarankan kalian jangan ikut campur, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga jika tidak ingin mati!” ancam ketua dari sekelompok tentara tersebut dalam bahasa Kurdi.
Ibrahim hanya tersenyum sinis mendengarkan ancaman dari tentara tersebut. Dia malah menoleh ke samping untuk melihat keadaan ibu dan anak tersebut.
“Apakah kalian berdua tidak apa-apa?”
“Paman tolong selamatkan kakak saya, mereka ingin menculik Kakak.”
Anak itu memohon sembari mendekati Ibrahim. Dari yang ia lihat hanya Ibrahim terlihat sangat kuat di antara anggota tim lainnya, ia mengira jika Ibrahim lah adalah pemimpin dari anggota tim itu.
“Tenang saja, saya janji akan menolong kakak mu dari mereka.” Ibrahim terlihat sangat meyakinkan.
Beberapa detik setelah Ibrahim berkata, tentara bayaran tersebut menarik perempuan yang di sebut anak itu kakak dengan kuat, dan menyebabkan perempuan itu tersungkur ke tanah.
“Kakak....” anak itu berteriak dengan sangat keras saat melihat kakaknya di tarik begitu saja darinya.
Dalam sekejap senjata api sudah mengarah di atas kepala perempuan tersebut.
Perempuan itu terlihat pasrah dengan keadaannya saat ini. Air matanya mulai menetes tanpa henti, dia menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Kedua tangannya bergetar hebat, dan kedua kakinya sangat lemas sehingga tidak bisa di gerakan sama sekali.
Saat melihat perempuan itu menangis, Ibrahim semakin mengangkat senjatanya dan mengarahkannya ke arah tentara tersebut.
“Oh, besar juga nyalimu, kita lihat seberapa besar nyali yang kau miliki itu.”
Bukk!! Tentara tersebut memukul wajah perempuan tersebut dengan bagian belakang senjatanya, dan seketika sudut bibir perempuan itu mengeluarkan darah.
Sebaliknya Ibrahim semakin mengarahkan senjatanya, tetapi dia tidak berani menembaknya. Namun, di sisi lain tentara tersebut kembali memukul perempuan tersebut di bagian kepalanya dengan keras, sehingga darah mengalir dari kepalanya.
“Bos apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan perempuan itu?” bisik Ibrahim di alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
“kau tenang dan tahan mereka sebelum saya sudah berada di posisi.”
“Baik bos.”
__ADS_1
Menyadari gerak gerik Ibrahim yang sedang berkomunikasi dengan seseorang, ketua dari kelompok tentara tersebut semakin memukuli sanderanya untuk menakuti Ibrahim supaya jangan melakukan apa pun.
“Maafkan saya bos, saya harus melakukan sesuatu untuk menolong perempuan itu sekarang juga.”
“Ibrahim kau tidak perlu melakukan apa pun_”
Duar!! Dalam hitungan detik satu persatu sebagian sekelompok tentara bayaran tersebut di lupuhkan oleh penembak jitu yang tak lain adalah Bara sendiri. Namun, tak sesuai keinginan Bara, ternyata sebagian tentara tersebut tidak bisa dia lumpuhkan karena posisinya sudah di ketahui. Tembakan demi tembakan mengarah ke arahnya, tetapi tidak satu pun yang mengenainya.
Karena menghindari tembakan tersebut, Bara tertangkap. Tanpa rasa takut sedikit pun, dengan santainya Bara tersenyum saat di dorong ke tengah-tengah dengan senjata mengarah ke arahnya.
Buk! Salah satu kaki Bara di pukul hingga dia berlutut tepat di hadapan perempuan yang di sandera oleh para tentara tersebut. Sekilas Bara tidak bisa melihat wajah perempuan tersebut karena tertunduk. Walaupun tidak bisa melihat wajah itu, Bara bisa melihat jika perempuan tersebut sangat ketakutan. Kedua tangan perempuan itu bergetar hebat dengan air mata yang terus berjatuhan mengenai punggung tangan yang terus bergetar itu.
Melihat itu Bara hendak menenangkan perempuan itu supaya tidak ketakutan
“Jangan takut, kami di sini bersama mu, kamu tidak sendirian.” Suara dengan nada rendah milik Bara berhasil membuat perempuan itu mengangkat wajahnya menatap ke arah Bara.
“Mas, apakah itu kamu?”
Terdengar suara perempuan yang sangat Bara kenali. Mata Bara langsung tertuju ke arah perempuan tersebut, dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah perempuan yang ada di depannya itu.
Suara itu terdengar seperti suara yang selama ini di rindukan oleh Bara. Suara itu sangat mirip sekali dengan suara istrinya, begitu juga dengan wajahnya yang juga sangat mirip sekali dengan istrinya.
“Mas Bara.”
Panggilan itu kembali membuat Bara mengenali Suara tersebut. Bara sangat yakin jika perempuan di depannya itu adalah istrinya.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1