Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 78


__ADS_3

Tak ada kata yang bisa Bara ucapkan saat ini. Dia bersalah telah meragukan istrinya itu. Sedangkan Sian merasa semakin kecewa saat melihat suaminya itu tidak mengatakan satu kata pun kepadanya. 


“Mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi masalah ini, sehingga mas pun tidak bisa mengatakan apa pun padaku.”


Sian menunduk, air matanya membendung di pelupuk matanya.


Bara semakin kesal pada dirinya sendirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan apa pun kepada Istrinya Sian. Ingin dia menyentuh wajah itu dan menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya itu, tapi egonya menghentikan dirinya.


Mungkin aku harus memberinya waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah dia sudah tenang, baru ajak dia berbicara baik-baik soal masalah ini.


Bara lebih memilih untuk tetap menutup mulutnya. Dia tidak ingin angkat bicara pada saat seperti ini, dia takut jika Sian akan semakin menangis dan terluka mendengarkan kata-katanya saat ini. Bara takut perkataannya akan melukai Sian karena suasana hatinya sedang tidak baik.


“Sian lebih baik kamu beristirahat sekarang, tenangkan dirimu dan setelah kamu tenang barulah kita bicarakan lagi masalah ini.” Ucap Bara. 


Setelah itu dia langsung pergi keluar dari kamar tersebut, untuk bermaksud memberi ruang kepada Sian untuk menenangkan dirinya. Namun, tepat pada saat Bara melangkah, suara tangis Sian pecah begitu saja. Belum sempat menjauh melangkahkan kakinya Bara langsung berbalik, dia langsung menarik Sian masuk ke dalam pelukannya.


“Tolong jangan menangis lagi, mas tidak bisa melihatmu menangis seperti ini.” 


Bara mengeratkan pelukannya seerat mungkin, seakan dia tidak akan pernah melepaskannya. tangisan yang sebelumnya bergema kini terdengar mengecil karena terhalang dada bidang Bara, wajah Sian yang terbenam di dada Bara membuat suara tangisnya tidak terdengar.


“Tolong maafkan mas, sungguh mas tidak bermaksud membuatmu menangis seperti ini. mas juga minta maaf karena sempat meragukan perasaanmu terhadap mas. Tolong maafkan mas, mas bersalah terhadap mu, mas mohon padamu berhentilah menangis seperti ini.”


mendengarkan perkataan Bara membuat Sian semakin mengeraskan suara tangisnya dan memukul keras pundak suaminya itu untuk melampiaskan kekesalannya. 


“Pukullah mas sepuasmu, mas akan menerimanya.”


Tanpa ragu-ragu Sian memukuli pundak Bara sekuat yang dia mampu. sedangkan Bara tidak menghindarinya dan semakin memeluk erat tubuh istrinya itu seerat mungkin. 


Setelah beberapa detik kemudian Sian berhenti memukuli Bara dan langsung memeluk erat suaminya itu dengan terus menangis tersedu-sedu.


“Engg….” tangis Sian yang tak kunjung berhenti.


“Tolong maafkan mas, mas janji tidak akan pernah meragukan mu lagi seperti malam ini.”


“Mas bohong, aku tidak percaya dengan perkataan mas barusan. Setelah berbicara seperti itu apa mas yakin tidak akan pernah meragukan aku lagi?”


“Tentu saja, mas tidak akan pernah meragukan mu lagi, karena mas sudah tahu jika cuma hanya mas yang ada di dalam hatimu.”


Bara terlihat sangat percaya diri dengan perkataannya barusan. Cukup satu kali dia meragukan perasaan Sian kepadanya, tidak akan ada yang kedua kalinya bagi dirinya meragukan istrinya itu.


“Mas janji ini pertama dan terakhir kalinya mas meragukan perasaan mu terhadap mas.”


Sian mendongkak menatap suaminya itu. Dia menatap dengan tajam wajah tegas suaminya itu untuk mencari celah keraguan yang mungkin di sembunyikan oleh Bara.


“Apakah kamu sudah selesai menatap mas seperti itu?”


“Belum selesai, jangan berani-raninya mas bergerak!”

__ADS_1


“Kenapa mas tidak boleh bergerak?”


“Karena aku belum selesai mencari kebohongan yang mas sembunyikan dariku.”


Bara tersenyum melihat istrinya itu mencurigainya seperti itu. tak ingin terus-terusan di ragukan oleh Sian Bara langsung mengendong Tubuh istrinya itu dan menghempaskannya di atas tempat tidur di belangkang mereka.


“Ah…” teriak Sian yang terkejut.


Dia panik tiba-tiba saja tubuhnya sudah terhempas di atas tempat tidur.


“Mas, apa yang kamu lakukan sekarang?”


Bara terlihat sangat serius, saat ini Bara tengah berada di atas Sian. Dia menatap istrinya itu dengan sangat serius dan seakan ingin menelan Sian hidup-hidup.


“Mas ingin membuat mu percaya dan kamu tidak perlu meragukan mas lagi hanya karena mas sempat meragukan mu sebelumnya.”


“Memangnya mas Bara mau melakukan apa untuk membuat aku tidak meragukan mas lagi?”


Seulas senyuman yang terukir jelas di bibir seksi Bara saat mendengar ucapan istrinya itu. Cup Bara mendaratkan bibirnya di atas bibir Sian, beberapa detik kemudian Bara melepaskannya sembari berkata. “Dengan ini,” Bara kembali mendaratkan ciumannya dan melepaskannya kembali dalam waktu singkat.


“Tidak mas, jangan sekarang.”


“Kenapa tidak?”


Tanpa memperdulikan perkataan Sian Bara kembali menyatukan bibir mereka dengan tergesa-gesa tanpa memberi sela bagi Sian untuk berbicara lagi. Namun, dengan kekuatan yang di miliki Sian, dia mampu menghindari tautan bibir suaminya itu.


“Memangnya kenapa jika melakukannya sekarang?”


“Mas ini sudah jam empat pagi, tidak mungkin mas mau melakukannya pagi-pagi begini.”


Bara hanya tersenyum tipis dan kemudian dia mendekatkan bibirnya di sisi telinga istrinya itu untuk membisik. “Terlambat, mas sudah tidak bisa menahannya lagi.”


“Mas…aku mohon jangan Ah…”


Tanpa ragu-ragu Bara melangsungkan aksinya itu walaupun Sian sempat menolaknya. Namun, pada akhirnya dia juga menikmatinya.


***


“Siang”


Suara Bara langsung menyambut Sian yang baru saja membuka matanya.


“Apakah timur nyenyak sayang?”


Entah mengapa Sian sangat malas menjawab pertanyaan yang baru saja di lontarkan Bara kepadanya. Tanpa peduli Sian kembali menutup matanya untuk melanjutkan tidurnya.


“Sayang, kenapa malah mengabaikan mas sih?”

__ADS_1


Tetap sama, Sian tetap tidak menjawab pertanyaan Suaminya itu. Bara yang tidak ingin terus-terusan di abaikan, dia merapatkan tubuhnya memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat lembut dan manja.


“Sayang, kenapa kembali tidur lagi sih?”


Mendengarkan pertanyaan Bara barusan membuat Sian membuka matanya kembali.


“Menurut mas, siapa yang membuatku menjadi selelah ini?”


Terlihat Bara sedang berpikir, seakan dia tidak tahu siapa yang membuat istrinya itu merasa sangat kelelahan seperti itu.


“Sudah berpura-puranya?”


Sain kesal dengan wajah tanpa dosa yang di tunjukan Bara padanya. Jika mengingat kejadian tadi malam, membuatnya tidak ingin bergerak sedikit pun, karena seluruh tubuhnya terasa sangat remuk sekali. Di tambah melihat wajah mengesalkan Bara membuat Sian naik darah.


“Maaf, tolong maafkan mas kali ini saja em…” Bara memohon agar Sain tidak marah padanya.


“Baiklah kamu di maafkan, tapi tolong lepaskan aku sekarang, jangan ganggu tidur ku lagi.”


“Sayang ini sudah siang, masak masih ingin tidur lagi.”


“Mas aku mohon, biarkan aku tidur setidaknya tiga puluh menit lagi.”


“Baiklah kamu boleh tidur lagi, setelah tiga puluh menit mas akan membangunkan mu.”


Pada akhirnya Bara mengelah dan melepaskan pelukannya dari Sian. Namun, pada saat Bara ingin turun dari tempat tidur dia mendapat telepon dari atasannya. Setelah mengangkat dan berbicara dengan atasannya di dalam telepon, Buru-buru Bara menghampiri Sian yang tertidur di ranjang. Dia membangunkan istrinya itu dengan lembut.


“Sayang bangun,”


Beberapa menit mencoba membangunkan istrinya, pada akhirnya Sian membuka matanya dan menatap Bara.


“Ada apa mas? Belum sampai tiga puluh menit mas sudah membangunkan ku.” Ucap Sia dengan suara seraknya.


“Maaf mas sayang, mas harus membangunkan mu karena kita harus kembali ke Jakarta sekarang juga.”


“Kenapa tiba-tiba mas ingin kembali ke Jakarta?” tanya Sian sembari beranjak duduk dari tidurnya.


“Mas sungguh minta maaf, karena tadi barusan mas mendapat telepon. Mas dan tim Alpha harus menjalan tugas yang tidak bisa di tunda. Jadi tiga puluh menit lagi kita akan di jemput untuk kembali ke Jakarta sekarang juga.”


“Memang tugasnya benar-benar tidak bisa di tunda ya mas?”


“Maafkan mas sayang, kita harus siap-siap sekarang karena kita tidak mempunyai waktu lagi untuk  mengobrol. Nanti lain kali saja kita bicarakan ini, kamu pergi siap-siap sekarang, biar mas yang membereskan semua koper kita.”


“Baiklah”


Tanpa membantah lagi, Sian beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandir. Sedangkan Bara langsung membereskan semua barang-barang mereka ke dalam l


Koper.

__ADS_1


 


__ADS_2