Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 55


__ADS_3

Sian membuka matanya, suara bising di luar kamarnya membuat tidur Sian terganggu. Bara yang tidur di sampingnya pun sudah tidak ada lagi saat Sian terbangun.


“Apa yang terjadi? Kenapa berisik sekali di luar sana?”


Sian melangkah keluar kamarnya untuk melihat apa yang terjadi di luar kamarnya.


“Selamat siang menjelang sore sayang...” ujar Vian saat melihat Sian keluar dari kamarnya.


Ternyata suara kebisingan yang membangunkan Sian dari tidurnya adalah suara keluarga besarnya yang sedang berkumpul di ruangan tamu. Sembari mengucak-ngucak matanya, Sian bisa melihat ada mamanya Vian, mama Liora dan papa mertuanya Paridipa juga ikut datang ke rumahnya.


“Siang, memang ini sudah jam berapa?” tanya Sian yang masih bawahan mengantuk.


“Sekarang sudah jam tiga sore sayang.” Jawab Bara mendekati istrinya itu.


“Apa!” Sian terkejut. “Kenapa mas Bara tidak membangunkan ku sih, jadinya hari ini aku tidak masuk bekerja.” Lanjut Sian sembari menatap ke arah Bara.


“Kerja kerja lagi, tidak ada kata lain selain kerja?” seru mama Vian kepada Sian.


Sian mendesah pelan saat mamanya mulai ikut campur urusannya. Ia menutup rapat mulutnya saat mamanya Vian sudah angkat berbicara.


“Sian, kapan kamu sadarnya sih? Kenapa di kehidupan mu hanya kerja dan kerja? Mama kan sudah bilang, jika kamu tidak perlu bekerja lagi. Seharusnya kamu itu mengurus suami dan anak mu, bukan pekerjaan yang kamu urus.” Kata mama Vian panjang lebar.


“Mama jangan terlalu keras kepada Sian, beri waktu bagi Sian menyesuaikan dirinya untuk membagi waktu antara keluarga dan pekerjaannya.” Ucap Bara membela istrinya.


“Apa yang di katakan Bara benar Vian, kita harus memberi waktu pada Sian untuk membuatkan adik untuk Raihan, benarkan Raihan sayang.” timpal Liora tersenyum kepada Raihan.


“Mama kenapa bawa anak segala sih, lihatlah wajah Sian sekarang, sangat merah sekali.” Ucap Bara tersenyum sipu.


Sesungguhnya Bara sangat menyukai apa yang di katakan mamanya itu. Sebenarnya dia juga sangat ingin sekali memiliki anak bersama istrinya itu.


“Kenapa tidak, apa yang di katakan Liora sangat benar. Kalian berdua harus mempunyai anak, apa pun caranya kalian berdua harus memberi Raihan adik.” Timpal Vian.


“Mama Vian tenang saja, sebentar lagi aku dan Sian akan membuatkan adik untuk Raihan.” Kata Bara dengan percaya diri.

__ADS_1


Rit! Sian mencubit perut Bara dengan kuat.


“Aw, apa yang kamu lakukan sayang?” tanya Bara yang kesakitan.


“Mas jangan sembarangan bicaranya, jangan mengatakan omong kosong di depan mereka.” Bisik Sian kesal di telinga suaminya itu.


“Siapa bilang mas mengatakan omong kosong, mas mengatakannya memang benar-benar ingin membuatnya denganmu sayang.” Bisik Bara balik di telinga Istrinya itu.


“Seharusnya mas bilang dulu padaku, jangan asal ceplos saja seperti barusan.” Bisik Sian kembali di telinga Bara.


“Memangnya kamu tidak ingin mempunyai anak dari mas? Kalau mas sih sangat ingin sekali.” Bisik Bara tersenyum.


“Ssttt... cukup mas, jangan bahas masalah ini di hadapan mereka. Emangnya mas tidak malu apa?”


“Kenapa mas harus malu, mereka saja tidak mendengarkan apa yang kita bicarakan.” Kata Bara sembari merangkul pinggang istrinya itu.


“Mas__”


“Apakah kalian berdua sudah selesai berdiskusinya?” seru Vian pada Bara dan Sian.


Setelah mengunci kamarnya, Sian langsung menatap tajam Suaminya Bara.


“Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan dengan mas? Mas sudah siap untuk mendengarkannya.” Bara memperlihatkan wajah yang sangat mengesalkan sekali saat Sian melihatnya.


“Kenapa mas tiba-tiba membahas ingin mempunyai anak sekarang?” tanya Sian dengan kedua tangan berkacak di pinggangnya.


“Mas tidak membahasnya dengan tiba-tiba, memang sudah lama mas ingin membahas momongan bersama dengan mu.” Jawab Bara santai.


“Terus, kenapa harus membahasnya di depan mama? Kan mas Bara tahu jika mama sangat berlebihan jika menyangkut masalah pernikahan kita. Mas tidak berpikir kalau mama akan menekan aku lagi hanya untuk memaksa ku untuk cepat-cepat mempunyai anak.” Ucap Sian emosional.


Bara menatap Sian dengan kecewa. Dia tidak menyaka jika istrinya itu tidak ingin buru-buru memiliki anak darinya. Padahal Bara sendiri sangat tidak sabar untuk memiliki anak bersama dengan istrinya itu.


“Kenapa dengan wajah mas sekarang?” tanya Sian sembari menatap wajah sedih Bara.

__ADS_1


“Tidak apa-apa,”


“Katakan, ada apa sebenarnya? jangan menutup-nutupinya.” Tanya Sian yang tidak ingin Bara menutupi apa yang dia rasakan saat ini.


“Mas sedih,”


“Mas sedih kenapa?”


“Mas sedih karena kamu tidak ingin memiliki anak dari mas.” Ucap Bara dengan memasang wajah sedih dan memelasnya di hadapan Sian.


Terdengar Sian mendesah pelan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada suaminya itu.


“Mas dengarkan aku sekarang, bukannya aku tidak ingin. Namun, aku belum siap untuk memiliki anak sekarang. Lagian sekarang kita sudah punya Raihan, memangnya mas tidak menyukai Raihan sebagai anak kita?”


“Bukan begitu sayang, mas ingin memiliki anak dari darah daging mas sendiri bersama dengan kamu. Mas benar-benar ingin menjadi seorang ayah yang sesungguhnya. Bukan berarti mas tidak suka atau tidak mau menjadi ayah untuk Raihan.”


Bara mulai memperkecil jarak di antara mereka. Tangan kekarnya menyentuh lembut kedua sisi pipi Sian dengan berkata.


“Mas sangat sayang sekali pada Raihan, dan mas juga ingin melihat Raihan bahagia memiliki seorang adik yang benar-benar berasa dari darah daging kita berdua supaya Raihan benar-benar merasa seperti memiliki keluarga yang sesungguhnya.”


Sian hanya diam saja dan mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Sesungguhnya, Sian juga sangat ingin memiliki anak dari suaminya Bara. Namun, kenyataannya dia belum siap untuk memiliki anak sendiri karena dia takut akan menelantarkan anaknya karena pekerjaannya sebagai seorang dokter yang sangat sibuk sekali.


“Sayang, mas tidak akan memaksa mu untuk hamil secepatnya. Namun, mas harap kamu bisa mempertimbangkan keinginan mas untuk mempunyai anak.” Ucap Bara pelan dengan menyatukan kening mereka berdua dan menatap dalam mata satu sama lain.


Sian kembali mendesah pelan. Apa yang di katakan Bara saat ini, sangat membuatnya bingung. Namun, Sian juga berpikir jika dia tidak akan rugi mengiyakan keinginan suaminya itu untuk mempunyai anak.


“Baiklah, aku akan berusaha mewujudkan keinginan mas Bara untuk mempunyai anak. Namun, aku tidak janji akan memiliki secepatnya ” Ucap Sian mengalah.


“Sayang serius? Sayang sungguh-sungguh ingin mempunyai anak dari mas?” tanya Bar meyakinkan kembali.


“Em...,tapi aku tidak janji Akan hamil secepatnya.” Ucap Sian pesimis.


“Tidak apa-apa, biarkan mas saja yang bekerja keras. Mas tidak akan pernah menyerah, sampai kamu benar-benar hamil anak mas.” Ucap Bara tersenyum. Kemudian Bara langsung memeluk erat dan mengangkat tubuh istrinya itu bertumpu di atas dadanya. Lalu dia melakukan pergerakan memutar tubuhnya sembari menahan tubuh istrinya itu di atasnya.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2